Uniknya Kota di Atas Laut | OPINI.id

Dari udara, wilayah yang ada di Pulau Bunguran Barat ini tampak seperti perkampungan terapung di atas lautan Natuna yang luas.

Terkenal sebagai Pelaut

Pulau Bunguran Barat, Kalimantan Barat yang beribu kota Sedanau itu terkenal sejak dahulu terutama bagi para pedagang lintas negara dan lintas daerah serta para pelautnya.

Hingga 2,5 Kilometer dari Darat

Masyarakat secara swadaya bersama Pemkab Natuna berhasil menyulap laut sebagai bagian dari daratan pulau tersebut. Wilayah yang jadi pemukiman di atas laut kini mencapai 2,5 kilometer dari darat.

Nelayan dan Budidaya Ikan

Warga kota terapung di Sedanau umumnya berprofesi sebagai nelayan yang cenderung untuk pergi memancing dan memanen sumber daya alam laut seperti budidaya ikan napoleon serta ikan kerapu.

Rumah Panggung di Atas Air

Rumah terapung dibangun layaknya rumah lengkap seperti di daratan berupa rumah panggung yang berdiri tegak di atas permukaan air laut.

Anak-anak Sibuk Memancing

Canda tawa anak-anak terdengar dari kejauhan, mereka sibuk memasang umpan untuk memancing ikan dengan tali pancing tepat di bawah bangunan kayu yang berdiri tegak di atas laut.

Lebih dari Satu Kampung

Perkampungan terapung lainnya juga terdapat di pulau Bunguran Besar di kota Ranai yaitu kampung Penagi yang dulunya merupakan pusat ekonomi masyarakat di Kabupaten Natuna.

Pintu Masuk Kapal Dagang

Kampung ini merupakan pintu masuk ke pulau Bunguran Besar dan kapal-kapal dagang yang melintas Laut China Selatan, akan singgah ke Penagi sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan lain.

Pendatang Melayu dan China

Seiring waktu, perkampungan nelayan ini makin ramai tidak saja dihuni suku Melayu sebagai suku asli, tetapi juga warga China yang datang dari China daratan.

Tinggal Jejak Kejayaan

Kemakmuran Penagi sebagai kawasan bisnis dan pelabuhan saat lampau amat dirasakan masyarakat bahkan jejak-jejak kemakmuran itu hingga kini masih dapat terlihat dari rumah-rumah penduduk di atas permukaan laut yang berada di kampung Penagi.

Hidup Rukun

Walaupun tinggal sisa kejayaan, kerukunan masyarakatnya tidak berubah. Dari dulu suku Melayu dan China di Penagi hidup rukun dan damai dengan ditandai rumah ibadah yang berdampingan yakni Kelenteng Pu Tek Chi dan Surau Al-Mukaromah.

Komentar

Fresh