9 Formasi Perang Jaman Kuno Yang Efektif | OPINI.id

Sejarah bangsa manusia selalu diwarnai dengan peperangan. Dalam sebuah peperangan, pihak yang memiliki keunggulan militer yang lebih superiorlah yang umumnya menjadi pemenangnya. Berbagai taktik dan strategi perang dikembangkan dari jaman ke jaman untuk memperoleh kemenangan tersebut. Berikut ini adalah formasi dan taktik perang populer yang amat mengesankan pada jamannya.

Formasi Phalanx

Digunakan oleh pasukan Hoplites dari jaman Yunani Kuno, formasi ini mengawali kepopuleran penggunaan tombak dan perisai dalam peperangan serta melahirkan banyak formasi-formasi lainnya yang juga disertakan dalam artikel ini. Formasi Phalanx umumnya terdiri dari 8 baris prajurit atau lebih yang bersenjatakan tombak panjang yang disebut dory dan perisai bundar bernama hoplon (yang menjadi asal kata prajurit Hoplites). Keempat baris terdepan akan berbaris rapat dengan tombak menghadap lurus kedepan sementara baris sisanya akan membawa tombak mereka secara vertikal. Perisai bundar yang digenggam di tangan kiri mereka selain digunakan untuk melindungi diri juga berfungsi untuk melindungi orang yang berada di sebelah kiri mereka, sehingga para prajurit yang berada di sisi paling kanan akan menjadi titik lemah dari formasi ini. Oleh karena itu, pemimpin serta prajurit yang paling berpengalaman biasanya akan ditempatkan di barisan paling kanan dalam formasi Phalanx.

Formasi Testudo Romawi

Pasukan Romawi Kuno dikenal dengan taktik perang dan kedisiplinan militer mereka yang mumpuni. Salah satu formasi perang bangsa Romawi yang paling terkenal adalah formasi Testudo atau kura-kura. Dalam formasi ini, setiap prajurit akan berbaris serapat mungkin sambil berlindung dibalik perisai kotak mereka. Prajurit yang berada di tengah akan mengangkat perisai mereka diatas kepala untuk membentuk semacam tudung dan prajurit yang disamping akan melindungi bagian samping yang terbuka. Dengan demikian, tidak akan ada celah yang terbuka dan serangan panah akan menjadi sia-sia berkat ukuran perisai mereka yang cukup besar. Kelemahan dari formasi ini adalah rendahnya mobilitas dan daya serang, namun diimbangi dengan pertahanan yang sulit ditembus oleh serangan panah.

Formasi Schiltron Skotlandia

Formasi yang dipopulerkan oleh pahlawan Skotlandia, Sir William Wallace ini merupakan formasi terbaik untuk menangkal serbuan pasukan berkuda. Formasi ini terdiri dari sekelompok prajurit yang berjajar dan membentuk lingkaran dengan tombak sepanjang 3.5 meter sehingga menyerupai landak yang mematikan. Untuk menambah daya tahan terhadap serbuan pasukan berkuda, prajurit baris depan akan berjongkok sambil menancapkan ujung belakang tombak mereka ke tanah. Dengan demikian, daya serang dan mobilitas mereka amat terbatas. Kebalikan dari formasi Testudo, formasi ini kuat dalam menghadapi serangan kavaleri ataupun infanteri tetapi lemah dalam menghadapi serangan panah. Raja Skotlandia, Robert the Bruce, mengembangkan formasi ini menjadi berbentuk kotak yang memiliki daya serang dan pertahanan sama baiknya, sebagaimana yang ia tunjukkan ketika memperoleh kemenangan atas pasukan Inggris dalam pertempuran Bannockburn di tahun 1314.

Formasi Pike Square Swiss

Pasukan bertombak (Pikemen) asal Swiss merupakan prajurit bayaran paling terkenal di benua Eropa pada abad ke 15. Salah satu taktik mereka yang paling terkenal dan menyebabkan mereka menjadi kekuatan yang amat ditakuti adalah dengan formasi Pike Square mereka. Dalam formasi ini, setiap prajurit dilatih agar dapat mengarahkan tombak mereka ke berbagai arah dengan bermacam-macam kuda-kuda dan berganti posisi dengan cepat secara bersamaan. Dengan demikian, formasi Pike Square ini dapat digunakan untuk bertahan maupun menyerang, serta memiliki kemampuan beradaptasi terhadap maneuver musuh dengan baik. Yang paling menakutkan dari pasukan Swiss ini adalah kedashyatan pasukan tombak mereka ketika menyerbu ke tengah-tengah barisan musuh dan kedisiplinan mereka dalam mengubah arah serta kuda-kuda dari menyerang ke bertahan dan sebaliknya, sehingga mereka hampir tidak dapat dikepung ataupun dikalahkan.

Taktik Pura-pura Mundur Mongolia

Kekaisaran Mongolia merupakan kerajaan dengan luas wilayah kedua terbesar sepanjang masa. Dibawah komando Genghis Khan, mereka berhasil menguasai hampir seluruh daratan Asia Timur, India Utara, Timur Tengah, hingga sebagian besar Eropa Timur. Hal ini tidak lepas dari kepiawaian prajurit mereka dalam menunggang kuda dan bertempur. Salah satu taktik perang yang menjadi ciri khas mereka adalah taktik pura-pura mundur atau feigned retreat. Dalam setiap pertempuran yang terjadi pada jaman dahulu, jatuhnya korban jiwa terbanyak umumnya terjadi saat pasukan yang mundur dikejar oleh pasukan yang menang. Oleh karena itu, sesungguhnya taktik ini amat sulit untuk dilakukan karena setiap kesalahan kecil dapat membuat taktik pura-pura mundur ini menjadi sebuah pembantaian besar-besaran. Pasukan Mongolia melakukan taktik ini dengan cara berpura-pura panik dan memecah formasi mereka di tengah pertempuran, sehingga memancing pasukan musuh untuk melakukan serbuan. Saat musuh yang sedang menyerbu berada dalam posisi yang terbuka, mereka dengan cepat akan menyusun formasi mereka kembali dan melakukan serangan balasan. Hal ini dapat dilakukan berkat kemampuan komandan perang mereka dalam membaca situasi dan stamina kuda Mongolia yang jauh lebih superior dibandingkan dengan kuda pasukan Eropa. Pasukan Mongolia umumnya menggunakan zirah perang ringan sementara pasukan Eropa umumnya menggunakan zirah tebal dan berat, sehingga lebih membebani kuda mereka.

Formasi Berserker Charge Viking

Dikenal sebagai teror yang mengancam daerah pesisir Eropa Barat di abad ke 7 hingga akhir abad ke 11, bangsa Viking memiliki kepiawaian dalam bertarung dan berlayar yang sama hebatnya. Dalam pertarungan di daratan, bangsa Viking umumnya menggunakan formasi segitiga dengan prajurit terkuat mereka yang dikenal dengan nama ‘Berseker’ sebagai ujung tombaknya. Para Berserker ini umumnya menggunakan pakaian yang khas, seperti misalnya kulit binatang diluar baju zirah mereka agar prajurit Viking lainnya dapat mengenali mereka. Hal ini disebabkan karena begitu seorang Berserker mengamuk, ia akan menghancurkan semua yang ada di sekelilingnya tanpa dapat mengenali kawan atau lawan. Konon, para Berserker ini menggunakan semacam jamur yang memiliki efek halusinogen, setara dengan obat bius masa kini, sehingga menyebabkan mereka menjadi kebal terhadap rasa sakit dan tak dapat mengendalikan tindakan mereka.

Couched Lance Charge Ksatria Eropa

Serbuan atau charge pasukan kavaleri merupakan taktik perang dengan daya serang yang tinggi dan sering digunakan sejak jaman dahulu kala. Namun, serbuan menggunakan teknik Couched Lance yang digunakan oleh ksatria Eropa di abad pertengahan merupakan salah satu taktik terdahsyat dan paling mematikan pada zamannya. Couched lance adalah teknik memegang tombak khusus (lance) dengan cara menjepitkannya pada bagian ketiak. Beberapa zirah ksatria memiliki tempat khusus untuk mencantolkan tombak mereka agar lebih kokoh dan tidak mudah goyah. Dengan cara memegang tombak yang statis seperti itu, momentum yang dihasilkan ketika menyerbu akan jauh lebih dahsyat sehingga tombak akan dapat menembus perisai ataupun baju zirah yang tebal. Teknik ini di kemudian hari menjadi cikal bakal olahraga yang populer di kalangan bangsawan pada abad pertengahan yaitu Jousting.

Formasi Salvo Tanegashima

Peperangan menggunakan senjata api mulai dikenal oleh bangsa Jepang pada era Sengoku (1467-1603). Oda Nobunaga, salah satu daimyo terkenal pada jaman itu, mempopulerkan penggunaan tanegashima/hinawaju, senjata api yang awalnya dibawa oleh bangsa Portugis dan kemudian dikembangkan oleh bangsa Jepang sendiri. Senjata api pada jaman tersebut umumnya memiliki waktu pengisian yang amat lama, karena harus mengisi dan memadatkan mesiu sebelum memasukkan peluru berupa bola kecil yang terbuat dari besi untuk menembak. Oleh karena itu, meskipun lebih mudah digunakan dibandingkan busur dan panah, tanegashima memiliki kelemahan yang besar karena musuh dapat menggunakan waktu isi ulang tersebut untuk mendekat. Dalam pertempuran Nagashino (1575), Oda Nobunaga menggunakan sebuah taktik yang menjadikan tanegashima menjadi kunci kemenangan pasukannya atas pasukan Takeda Shingen yang lebih superior. Ia membagi pasukan tanegashimanya menjadi 3 baris, dimana baris terdepan menembak musuh, baris kedua bersiap menembak, dan baris ketiga mengisi ulang senjata. Setelah baris pertama selesai menembak, ia akan mundur kebelakang baris ketiga untuk mengisi ulang, sementara baris kedua akan maju untuk menembak dan begitu seterusnya. Dengan demikian, pasukan Nobunaga dapat mengeluarkan rentetan tembakan yang terus menerus sehingga musuh pun menjadi kewalahan karena tidak memiliki waktu untuk berlindung.

Formasi Segitiga Terbang

Formasi berbentuk segitiga ini merupakan salah satu formasi paling efektif yang masih digunakan oleh satuan tempur masa kini. Dengan formasi berbentuk huruf V atau segitiga, pasukan yang menggunakannya akan memiliki kekuatan yang cukup untuk meluluh-lantakkan barisan musuh dengan efektif. Formasi ini memberikan kemudahan dalam bermanuver dan pertahanan serta daya serang yang sama baiknya. Setiap prajurit yang tergabung dalam formasi dapat dengan mudah mengikuti pergerakan pemimpin yang berada di ujung tombak, sehingga menjadikan pasukan tersebut lebih fleksibel dalam mengantisipasi manuver musuh dengan baik. Pertama kali digunakan oleh Raja Phillip II dari Macedonia dan dipopulerkan oleh anaknya yaitu Alexander Agung, formasi ini memegang peranan penting dalam proses penaklukkan Asia dan Persia. Pasukan kavalerinya yang disebut Companion Cavalry menjadi pasukan kavaleri terbaik di jaman Yunani kuno dan pasukan kavaleri kejut pertama di dunia salah satunya adalah berkat formasi ini.

Komentar

Fresh