KEBIASAAN BURUK HALANGI SUKSES | OPINI.id

Penelitian yang dilakukan oleh Duke University bilang bahwa 40 persen perilaku manusia setiap harinya didorong oleh kebiasaan. Ketika manusia melakukan kebiasaan, bisa diandaikan manusia itu berada dalam keadaan autopilot. Bisa diartikan hampir setengah hidupmu itu adalah autopilot. Meng-compile dari berbagai riset, ada beberapa kebiasaan buruk yang harus ditinggalkan untuk membangun kebiasaan baik.

Terlalu fokus ke hasil akhir

Seth Godin bilang "Crash Diet", dimana kita terlalu fokus ke cara instan atau cara tercepat meraih hasil akhir. Perubahan menjadi lebih baik tidak bisa sekaligus. Perubahan yang sustainable (berkelanjutan) lebih disarankan, men-set hasil akhir teramat tinggi sih boleh-boleh saja namun harus realistis. Buat beberapa orang men-set goal terlalu tinggi malah semakin demotivate dan membuat semangat patah, padahal yang terpenting adalah memulainya. Niat bukan menjadi segalanya jika kamu tidak memulainya. Memulai bukan apa-apa jika kamu tidak berkelanjutan. Tips : carilah momentum yang tepat untuk memperbaiki kebiasaan burukmu.

Banyak program, dalam waktu singkat

Menurut riset olah Ray Baumeister, bahwa seorang profesional biasanya mempunyai 150 tugas detil yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Namun, ada riset lagi dari iDoneThis yang bilang bahwa 41 persen list task yang diinput user mereka tidak pernah selesai. Jadi jika ingin berubah, jangan terlalu banyak ambil step. Apalagi dikerjakan dalam waktu singkat. Ini bisa jadi excuse untuk tidak melakukannya berkelanjutan atau bahkan jadi alasan untuk berhenti berubah.

Procrastinating

Kebiasaan buruk dipicu 3 langkah, langkah pertama kita mendapat cara/isyarat untuk melakukan perubahan, lakukan aksi segera setelah mendapat momentum, dan diakhir kita mendapat reward. Tapi gimana kita bisa melangkah ke step pertama jika ditunda terus-terusan...gimana coba? Lakukan procrastinating yang bermanfaat! Misalnya diam diri selama beberapa saat untuk merenungkan apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dikerjakan. Setelah itu move on! Jangan pernah menunda apa yang bisa kamu lakukan sekarang.

Bikin deadline, bukan schedule.

Ibaratnya Deadline = Hasil Akhir, Schedule = Proses. Jangan pernah membuat deadline tanpa schedule jelas. Terlalu kaku terhadap deadline juga bisa jadi masalah, Buat beberapa orang yang kurang termotivasi, jangan membuat jadwal yang terlalu ketat. Buatlah jadwal yang flexible menggunakan kata 'jika'. Saya bisa menyelesaikan di tanggal 1 jika .... dan bisa di tanggal 5 jika ..... terus elaborate (detailing) proses/schedulenya. Kerjakan deadline itu dengan konsisten.

Tidak bergairah dengan Reward

Buat apa melakukan perubahan jika Reward yang nanti didapat tidak membaut kamu bergairah/senang. Secara alami, manusia akan semakin termotivasi jika ada reward yang bagus di akhirnya. Reward yang bergairah ini bisa beragam pada setiap individu. Namun, ingat Reward bukan menjadi satu-satunya motivasi seseorang untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik. Semoga kita semua menjadi manusia yang lebih baik Sumber : Jory Mackay, buat Inc.com

Komentar

Fresh