Sekilas, Clickbait | OPINI.id

Tidak bisa dipungkiri, penulis (saya) dan anda merupakan salah satu dari banyaknya korban dari 'clickbait'. Salah satu trik marketing yang bahkan di beberapa media ini disebut trik jahat karena sudah terlalu banyak menjamur dan digunakan media Indonesia - terutama online. Namun apa sebetulnya clickbait? Bagaimana membedakan artikel yang baik dan hanya sekedar clickbait? Saya akan mencoba sedikit membahas

Sekilas pengertian "clickbait"

Dalam kamus digital marketing yang dimiliki oleh digitalentrepreneur.id Click bait memiliki pengertian yang (biasanya) merendahkan pada konten web (biasanya pada judul konten), yang tujuan utamanya adalah membuat pengguna meng-klik tautan untuk membuka laman web tertentu. Dalam halaman yang sama, “Click Bait” digambarkan seperti umpan yang menarik perhatian seekor ikan untuk memakan umpan tersebut. Dalam dunia Content Marketing, Click Bait dibutuhkan untuk menarik perhatian calon pembaca (jika itu artikel) atau leads (jika itu sebuah penawaran). Sudah terlalu banyak media - terutama online - yang menggunakan teknik clickbait. Tidak perlu disebut satu persatu, bahkan media atau portal portal online terbesar pun tidak jarang menggunakan trik ini untuk menarik perhatian dari warganet. Clickbait yang penulis maksud disini lebih merujuk kepada judul judul seperti: "8 barang aneh tapi mahal yang dimiliki xyz, kalian pasti tidak mampu beli" "si xyz kedapatan menampar dengan abc, ternyata...." "kepala daerah klmn inspeksi mendadak, berikut 5 temuan yang tidak diduga" Keliatan polanya? Kalo masih kurang: "Artis cdef sering simpan benda ini di tasnya, akibatnya bikin melotot" "ini perubahan si qwer akibat melakukan ini setiap hari" "intip rahasia ghij hidup sehat, nomer 2 bikin kamu heran" Gimana?

Kenapa Clickbait

Teknik pemberian judul seperti contoh di halaman sebelumnya sudah sangat umum terjadi. Dan sialnya, penulis dan mungkin beberapa dari anda pembaca juga menjadi korban click. Judul yang berlebihan atau hiperbola, tidak ada hubungannya dengan artikel, membawa bawa soal seks, terkadang memberikan contoh yang ekstrim, dan lain sebagainya selalu digunakan oleh "pencipta" dari cilckbait tersebut. Padahal isinya? Belum tentu se-informatif itu. Bahkan terkadang melenceng jauh dari isi artikel sesungguhnya. Atau yang lebih parah, update sosial media - umumnya twitter atau instagram - dari artis artis yang memiliki gaung cukup besar pun dijadikan berita dengan headline yang...hah gitu deh Bahkan contoh tadi belum penulis tambahkan dengan kata kata seperti "HEBOH!", "VIRAL.....", "TERNYATA INI PENYEBAB......" dan lain sebagainya. Mengapa "mereka" menggunakan clickbait? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan untuk kita yang (mungkin) geleng-geleng ketika membaca artikel dengan headline yang membuat kita harus baca 2 kali. Berdasarkan penelusuran yang penulis lakukan, yang menyebabkan clickbait diterapkan diantaranya ada karena dorongan marketing atau strategi pemasaran, yang keseluruhannya ini berhubungan: 1. Membuat artikel dibaca. Ini paling dasar, mereka membuat judul artikel yang "menarik" agar pembaca (paling tidak) click link mereka. 2. Menambah traffic untuk halaman web yang 'mereka' miliki. Penulis sempat mencoba dengan salah satu tulisan di portal opini.id ini, dan hasilnya memang kata kata sensitif sangat menambah 'click' atau view yang dilakukan oleh pembaca. 3. Meningkatkan CTR (click through Rate). Rasio yang menunjukan dari seberapa sering orang mengklik link anda dari iklan yang ditawarkan. 4. Membuat Click per Cost menjadi semakin murah. CPC ini adalah biaya untuk setiap klik pada link iklan. Biayanya dihitung dari besar biaya yang anda keluarkan dibagi dengan click yang dihasilkan.

Malasnya 'Kita'

Belum bila dihubungkan dengan kebiasaan mencari informasi yang dimiliki oleh orang orang Indonesia yang tergolong rendah. Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" oleh Central Connecticut State Univesity, Maret 2016 lalu, Indonesia menduduki kedua paling buncit, yaitu ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Trik trik tersebut akan berlaku ketika target 'mereka' adalah orang orang yang cenderung tidak suka membaca dan mencari informasi lebih lanjut mengenai topik tertentu. Asumsi berdasarkan judul judul yang 'mengundang' terkadang bahkan dijadikan landasan para warganet untuk beradu argumen dengan warganet lainnya. Akan menjadi 'spesial' ketika ditambah dengan gambar yang kontroversi.

Penerapan Clickbait

Clickbait sendiri memang merupakan salah satu dari teknik Search Engine Optimization (SEO) yang biasa diterapkan oleh publisher iklan atau penulis kontan dari sebuah portal berita, dengan tujuan menggaet pembaca/pengunjung sebanyak-banyaknya. Tidak sedikit para suhu SEO sendiri mengatakan bahwa clickbait ini merupakan teknik jahat, karena walaupun meningkatkan traffic, namun kredibilitas dari halaman web yang dikunjungi jadi semakin berkurang. Bahkan sekarang, google sebagai mesin pencari tidak lagi menghitung clickbait sebagai referensi dalam menentukan peringkat dari sebuah laman web.

Bahaya Clickbait

Bukan hanya berbahaya bagi para user/pembaca/pengunjung dari suatu laman web, clickbait ini kelamaan juga akan berakibat buruk terhadap pemilik/pengelola laman tersebut. Bahaya bagi pengunjung laman: - Informasi yang diharapkan tidak ada. - Membuang waktu membaca - informasi yang biasanya tidak diperlukan - dengan harapan informasi yang diharapkan terselip walau hanya sedikit - Apabila kurang berhati hati, bisa menjadi korban Hoax. Penulis harap tidak perlu menjelaskan contoh korban hoax seperti apa. Bahaya bagi pemilik laman: - Merusak kredibilitas dari laman. Apabila pemilik laman ternyata merupakan portal berita, maka bukan tidak mungkin portal berita tersebut tidak menjadi acuan atau referensi lagi oleh para pembaca. - Tidak mendapat respon baik oleh pembaca. Masih bersyukur apabila respon komentar komentar dan terjadinya diskusi dari artikel, yang parah, kalau artikel tersebut mendapatkan "report" dan akhirnya hilang dari mesin pencarian. - Mengikis kualitas dari penulis. Kreatifitas, cara berfikir yang tadinya kompleks pun akan menjadi "udahlah gini aja gampang". Penulis penulis berkualitas yang dimiliki Indonesia akan semakin berkurang akibat adanya pola - pemberitaan maupun pemasaran - yang kurang baik ini.

Pesan dan referensi

Memang sulit sekarang ini untuk memilah dan memilih artikel mana yang (seharusnya) kita baca. Artikel yangberisi jebakan-jebakan "betmen" memang banyak, tapi penulis optimis masih banyak juga artikel yang bisa memberikan manfaat bagi kita para warganet. Arus Informasi yang cepat, seharusnya tidak menjadikan kita malas mencari tahu apa, bagaimana, mengapa, siapa, dimana kejadian tertentu terjadi. Referensi: https://id.techinasia.com/talk/judul-clickbait-dan-kebiasaan-malas-membaca-orang-indonesia https://digitalentrepreneur.id/rumus-judul-click-bait/

Komentar

Fresh