Pemimpin dari Para Arsitek | OPINI.id

Tahukah kamu? Ternyata para pemimpin di beberapa wilayah di Indonesia memiliki latar belakang sebagai arsitek. Siapa sajakah mereka? Cek selengkapnya disini.

Danny Pomanto

Ir. H. Mohammad Ramdhan Pomanto merupakan Wali Kota Makassar periode 2014-2019. Danny merupakan mantan dosen Jurusan Arsitektur FT Universitas Hasanuddin dan konsultan tata ruang dan arsitektur. Danny telah melahirkan 651 karya arsitektur dan karya tata ruang yang tersebar di 71 kabupaten kota di seluruh Indonesia. Ia juga pemegang tiga hak paten dan dipercaya menangani proyek-proyek nasional. Diantara proyek yang dikerjakannya adalah pemanfaatan hasil lumpur lapindo, pengembangan Teluk Pacitan, pengembangan tata ruang garam di Madura, penyelamatan Pantai Utara Pulau Jawa dimulai dari Kota Pekalongan, Pengembangan Pulau Morotai, dan pengembangan pulau-pulau perbatasan RI. Di Makassar sendiri Danny dikenal sebagai arsitek yang merevitalisasi lapangan Karebosi, anjungan Pantai Losari, merancang Masjid Terapung, Centerpoint of Indonesia (COI), serta pantai Akkarena.

Abdullah Azwar Anas

Azwar Anas adalah Bupati Banyuwangi yang memiliki latar belakang arsitektur. Selama menjabat sebagai Bupati, beliau sudah banyak menyumbang gagasan demi perbaikan wilayah kota Banyuwangi. Proyek yang paling besar adalah pembangunan Bandara Blimbingsari. Ruang penumpang yang awalnya hanya seluas dua kali minimarket – dan kerap tidak cukup menampung penumpang – ini pun ditambahkan bangunan baru seluas 5.000 meter persegi dengan kapasitas 400 penumpang. Konsepnya green airport yang sekaligus mengadopsi atap rumah Osing, suku asli di Banyuwangi, dengan pucuk gedung bandara seperti udeng, penutup kepala lelaki Osing. Selain mengadopsi desain yang baik, Anas juga menetapkan keterbukaan. Pemda dan tokoh masyarakat dilibatkan dalam memberi masukan terkait desain bangunan. Untuk membiayai banyak proyek yang dikerjakan dalam waktu hampir bersamaan ini pun, ia membuka pintu dari sumbangan corporate social responsibility (CSR). Ia juga melakukan penghematan anggaran. Pembangunan pun melibatkan kontraktor lokal.

Tri Rismaharini

Selama menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, berbagai pembenahan fasilitas publik dilakukan Tri Rismaharini, seperti membuat Surabaya jauh lebih bersih. Taman dibangun di mana-mana, utamanya di lahan SPBU yang masa izinnya telah habis. Jalur pedestrian ditata. Sungai dibersihkan. Taman Bungkul yang awalnya kumuh lantas direvitalisasi. Surabaya pun menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mematuhi ketentuan minimal 20 persen peruntukan ruang terbuka hijau. Tidak serta merta melakukan pembangunan fisik, Risma juga mendorong bagaimana caranya mengubah mindset supaya warga Surabaya lebih peduli pada kotanya. Surabaya juga menerapkan Master plan yang dibangun dengan pola semi grade yang membuat beban lalu lintas kota terbagi-bagi, tidak berpusat di tengah kota. Surabaya pun tidak pernah benar-benar macet karena arteri telah diatur baik.

Ridwan Kamil

Ridwan Kamil yang sejak September 2013 memimpin Bandung pun telah banyak melakukan penataan kota. Sejumlah taman bertema dibangun. Alun-alun, yang dulu semrawut dan tertutupi pedagang kaki lima, kini nyaman dan mudah diakses publik. Trotoar ditata agar nyaman bagi pejalan kaki. Kebijakan ‘atap hijau’ (taman) pun ia keluarkan untuk bangunan bertingkat. Wali Kota yang juga arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung ini, misalnya, membangun beberapa taman dengan tema tertentu, seperti Taman Musik Centrum, Taman Jomblo, skatepark, dan Taman Film. Taman Film, contohnya, dibangun seluas 700 meter persegi dengan rancangan seperti amphitheatre. Memang bukan film cerita yang diputar, melainkan tayangan-tayangan mendidik dan aman untuk semua kalangan, seperti: tayangan National Geographic, BBC Knowledge, Animal Planet, serta film kartun.

Komentar

Fresh