Sekilas, Kamikaze | OPINI.id

Kamikaze, pada umumnya merujuk kepada serangan bunuh diri yang dilakukan awak pesawat Jepang pada Perang Dunia II terhadap kapal-kapal laut sekutu. Namun, dalam bahasa Jepang, Kamikaze memiliki arti harafiah Angin Dewa.

Angin Topan yang Menyelamatkan dari Serbuan Mongol

Pada awalnya Kamikaze merupakan sebutan untuk angin topan yang menyelamatkan bangsa Jepang dari invasi Mongol pada tahun 1281. Kamikaze atau Angin Dewa, menjadi sebutan para prajurit pesawat jepang yang membuktikan kesetiaan dirinya terhadap kekaisaran Jepang dengan cara melakukan taktik perang yang bisa dikatakan radikal, yaitu menabrakan pesawat yang berisi bom, ke kapal kapal laut atau tempat persediaan senjata sekutu. Bagi sekutu, tidak ada perjuangan dari para tentara yang melawan mereka yang lebih radikal, dibanding yang dilakukan oleh pilot pilot muda Jepang: Kamikaze. Dalam catatan nationalgeographic.co.id Motoharu Okamura, yang pernah memimpin satu skuadron kamikaze sempat berkata "saya percaya bahwasatu satunya cara berperang yang mendukung kami adalah serangan tabrakan menggunakan pesawat kami. Tidak ada cara lain. Beri saya 300 pesawat, dan saya akan mengubah jalannya perang."

Unit Kamikaze Pertama

Sejatinya dibentuk oleh Laksamana Madya Tokijiro Ohnisi, seorang Panglima Armada Udara Pertama yang membawahi seluruh kekuatan udara Jepang di Filipina kala itu. Pasukan tersebut pun dinamakan "Tokkotai". Pada tugas pertamanya, kesatuan udara bentukan Ohnisi menghantam armada kapal induk AS agar kekuatan udara dari AS tidak mengganggu serangan laut tentara Jepang. Masing masing pesawat Kamikaze ini membawa bom -- yang diperkirakan -- seberat 250kilogram. Bom terbang yang dibawa langsung oleh pilot menuju sasarannya ini merupakan cara paling efektif dan berada pada tingkat serangan maksimal menurut Ohsini. Serangan Kamikaze pertama diyakini dilakukan oleh Laksamana Madya Masafumi Arima, yang juga merupakan Komandan Armada Udara ke 26 pada tanggal 15 Oktober 1944. Ketika memimpin seratus kapal Yokosuka D4Y, secara tiba tiba Arima terbang menukik ke arah kapal induk USS Franklin, dan menyebabkan kapal itu terbakar. Kejadian ini pula lah yang membuat Arima naik pangkat menjadi seorang Laksamana.

Latihan dan Penunjukan Awak Kamikaze

Pelatihan untuk menjadi seorang awak Kamikaze tentu tidak sama dengan tentara atau awak kapal biasa. Mereka digembleng dengan keras. Pelatihan disiplin, serta fisik yang keras sudah menjadi menu utama dalam keseharian para calon pilot pesawat Kamikaze tersebut. Tidak jarang pula mereka menerima pukulan dari tongkat bambu dari para instruktur. Hal ini bertujuan untuk membentuk mental, serta pola pikir para awak kapal tersebut menjadi "saya akan melakukan ini untuk bangsa saya". theguardian.com berhasil mendapatkan wawancara dari seorang calon pilot kamikaze pada masa tersebut, Hisao Horiyama. Pemuda yang kala itu baru berumur 21 tahun, dihadapkan kepada pilihan untuk 'terbang menjadi seorang pilot kamikaze' atau 'tidak berkontribusi apa apa sama sekali'. Tentunya dengan pembentukan mental serta fisik yang keras, Hisao tidak lain memilih untuk terbang menjadi seorang pilot kamikaze, demi kehormatan bangsa serta kekaisaran Jepang. Dalam pikirannya, tindakan nekat meledakan pesawat di garis terdepan bersama pilot lainnya akan memberikan kemenangan untuk Jepang dan Kaisar. Horiyama pada kala itu hanyalah prajurit muda, yang baru bergabung dalam artileri tentara Kekaisaran Jepang.

Hisao, beruntung?

Pada Januari 1945, Jepang melancarkan kurang lebih 500 pesawat kamikaze sebagai bentuk perlawanan dari Invasi AS dan sekutu. Tercatat hingga akhir perang, lebih dari 3800 awak Kamikaze meninggal dengan cara menabrakan pesawat ke arah sekutu. Dalam wawancaranya bersama Guardian Hisao mengatakan "Kami dilatih untuk menekan emosi. Bahkan jika kita mati, kita tahu itu untuk suatu tujuan mulia. Mati adalah pemenuhan tertinggi dari tugas kita, dan kita diperintahkan untuk tidak kembali hidup-hidup. Kami tahu bahwa jika kita kembali hidup, atasan kami akan marah." Hisao pun sudah menuliskan wasiat kepada kerabat terdekat serta keluarganya yang akan dikirimkan setelah Hisao menjalankan tugasnya sebagai awak pilot kamikaze. Namun, entah naas atau justru beruntung. Setelah penunjukan Hisao sebagai pilot kamikaze, Jepang justru kalah dalam perangnya melawan AS dan sekutu. Tekad untuk memberikan segalanya bagi bangsa dan kekaisaran Jepang-pun tidak menjadi kenyataan.

Akhir masa Kamikaze

Menjelang akhir PD II, industri pesawat terbang Jepang yang berlokasi di Pulau Jawa, Republik Indonesia kala itu sudah mengorbankan hampir 2.500-an pesawat terbang yang digunakan dalam misi bunuh diri tersebut. Menurut pengumuman pihak militer Jepang, operasi tersebut berhasil menumpas 81 kapal dan merusak 195 kapal perusak milik Sekutu. Namun menurut catatan pihak Sekutu, Jepang mengerahkan sekitar 2.800-an pilot Kamikaze yang menenggelamkan 34 kapal, dan membunuh hampir 4.000 orang pasukan sekutu. Statistik perang memang sulit untuk dipastikan. Meski sudah melawan mati-matian, Jepang toh tak bisa menepis kekalahan pada Perang Dunia II, yang pada akhirnya menutup operasi bunuh diri Kamikaze ini.

Referensi

http://fly.historicwings.com/2013/04/the-other-kamikaze/ http://www.bbc.com/news/magazine-26256048 http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/siapakah-pilot-kamikaze-pertama-jepang https://www.theguardian.com/world/2015/aug/11/the-last-kamikaze-two-japanese-pilots-tell-how-they-cheated-death

Komentar

Fresh