Instrumen Publistas Pers & Faal Sosial. | OPINI.id

Sebelumnya, Penulis haturkan terima kasih kepada semua pihak atas sahabat baik selama ini, terkhusus pers/jurnalis yang telah memberikan contoh pengabdian kepada masyarakat atas profesi yang telah diemban bertujuan mencerdaskan bangsa dan menjaga keutuhan NKRI tercinta. Secara pribadi, saya mengucapkan "Selamat Hari Pers Nasional" tepat hari ini, sabtu 9 februari 2017. Harapan saya "Reboisasikan Aktual Berita, Pers Sosok Pendidik Bangsa". Semoga kita semua diberikan keberkahan dalam kehidupan menjadi do'a di hari pers nasional tahun ini. Amin

I. Cerita klasik, Antara Fakta & isu asumsi atau prediktif

Pertengahan tahun 2013, penulis berkesempatan menjelajah kesebrang pulau dengan pamor julukan tanah tapis berseri. Sebuah kota yg hingar bingar akan keramaian dan melesatnya pembangunan infrastruktur, ekonomi hingga tekhnologi. Tetapi disatu sisi, kota ini termasuk kental akan sejarah. Tak heran wisatawan bule silih berganti menyambangi kota yang penuh situs - situ kuno prasejarah ini. Namun, sayangnya peminat dari pengunjung lokal kian hari semakin menipis keadaanya. Entah faktor apa yang mempengaruhi. Rasa penasaran ini menghantarkan penulis bertanya tanya soal situs kuno prasejarah yang saat ini kurang diminati oleh pengunjung lokal. Padahal tidak sedikit pakar arkeolog cina terus berdatangan untuk memenuhi kebutuhan penelitiannya. Ya, pada akhirnya tibalah dibangunan tua yang tidak begitu luas dan sempit. Dua jari manis ini masih terjepit sebatang kretek kering yang sulit untuk dilepaskan, entah candu atau onar. Yang pasti mencoba untuk dipatahkan untuk sementara waktu. Terlebih utama yaitu paparan aturan yg kerap menjadi syarat ketertiban dan kenyamanan. Setelah melewati resepsionis, di balik dinding penjaga menjadi bab pendahuluan menelisik kayu tipis yang bertuliskan tak mengena dalam nalar difikiran. Tak sembarang juga ditaruh dan dipajang, namun diamankan di kotak kaca yg sesuai pas ukuran. Sesekali mungkin tukang kebersihan mengepul ngepul debu yang bertempelan. Tapi sayangnya, debu itu sudah terlalu menumpuk dan mungkin sudah jarang dibersihkan. Prasangka manusiawi kerap bertanya, Apa memang seorang tukang kebersihan malas? Padahal sudah dipercayakan, terlebih akal rasional ini memberi usulan isu. Oh mungkin jasa seorang tukang kebersihan terpengaruh atas finansial gaji yg kurang cukup relevan, tak semudah curahatan sedih kepala negara yang meminta gaji dinaikan dan fasilitas yang memungkinkan. Entahlah itu, yang jelas situs kuno prasejarah sebaiknya ditata dan kelola dengan baik. Karena tidak mungkin situs yang telah terdaftar apalagi aset pemerintah yang kerap menimbulkan ruang tanya bagi wisatawan asing ataupun lokal. Sebuah penggiringan dari sebuah realita menjadi cerita hingga mungkin tak mengena dalam alur yg semestinya tadi. Itulah awal ketidakfahaman penulis akan hanya melihat situs kuno tetapi yang dibahas kronologis yg terjadi. Juga sama dengan yang lainya, kedatangan ke museum bangunan tua hanya sekedarnya saja. Tetapi bagi arkeolog adalah penelitian berproyeksi sangat besar. Jelas, alat media komunikasi informasi yang ia pakai didominasi di era sekarang ini. Padahal yang ia amati adalah media komunikasi pada era zaman prasejarah. Aplikasi alat media komunikasi media kertas yang menemukan pertama kali adalah bangsa cina. Padahal makhluk purba yang bermukim di indonesia yang situs nya terpajang dimuseum, terlihat kayu tipis yang menyerupai percis kertas. Secara dasar, tidak akan menemukan kertas sebelum faham atas olahan kayu dan penggunaanya. Begitulah konflik yang terjadi berawal dari alat media. Bahkan penggunaan huruf Hierogliph pada bangsa mesir kuno < 500 SM dituangkan dalam secarik kertas diklaim tulisan yang pertama. Entah mana yg mendekati kebenaran. Yang jelas alat media yang dinamakan kertas telah menjadi benda yang penuh tanya. Misalnya dengan sebaran informasi yang tertuang tinta pena kalau sekarang, menjadikan orang terurai karakternya, apakah sebagai followers atau following.

II. Jurus klaim, rentetan sejarah singkat alat media.

Zaman keemasan merangkak secara perlahan lahan. Pada silam 1300 an M dunia kembali dikejutkan dengan adanya johan gutenberg penemu mesin cetak dengan cetakan huruf plat. Tetapi disudut daerah timur pun tak mau kalah dengan pengklaiman, bahwasanya seorang saudagar arab tua pun menemukan mesin cetak yg pertama kali memproduksi. Itu bertepatan tahun 1440 - 1455, jelas dibeberkan secara eksplisit dari karangan buku huruf arab tidak ada kasroh dan fatah. Tak lama bergeser tahun, layar kaca sebelum penemuan televisi yang kian gontok gontokan dalam pengklaiman. Yaitu 1861 ditemukan media visual bergerak, memproyeksikan gambar yang cikal bakal film sekarang. Ini pun tak lepas dari pro dan kontra soal penemu. Tak komplit jika alexander graham bell dan edweard maybridge menjadi topik pembahasan. Alxander bell penemu telepon yg pertama kali secara umum, ini pun belum dipastikan ke abshaannya. Sebab sebelum tahun 1877 adalah dimana zaman istana di timur tengah sudah terjadi komunikasi dgn sebuah alat yang hanya dimiliki raja dan ratu arab. Begitu juga fotografi atau kamera, barat dan timur tengah tak luput dari peperangan jurus klaim. Edward contohnya, mengklaim pertama penemu kamera dan fotografi dengan kecepatan tinggi, padahal seorang pemuda arab terlebih dahulu sudah mengklaim penemu pertama kamera dan fotografi dengan diawali kamera lobang jarum yg terjadi transisi melesat sampai sekarang ini.

III. Mudik dari otoritarian ke liberal pers.

Media komunikasi dan informasi seluruh elemen masyarakat sepakat, bahwasanya bisa menjadi sosok yang menakutkan dan menyenangkan. Apalagi di zaman puncak era digital kini semakin mudah untuk mendapatkan informasi. Bisa melalui koran, tv, radio, sosial network dan lain sebagainya. Sebab indonesia sendiri dengan sistem demokrasinya sangat menjungjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Freedom of press atau diartikan kebebasan pers. Kini dibeberapa perguruan tinggi negeri dan swasta menyajikan program khusus, agar penggalian ilmu menjadi seorang pengkabar berita kepada masyarakat dicetak dengan kehati hatian dan terukur. Sebab meskipun kebebasan pers nyaris tak terbatas, tetapi jurnalis yang handal adalah bercita cita mencerdaskan masyarakat. Bahkan masyarakat umun pun hingga saat ini mudah mendaptakan pendidikan pers, baik pihak lembaga pers atau pun atas dasar inisiatif para jurnalis kreatif yang mengadakan seminar atau pelatihan. Negara sangat mengormati kebebasan pers, karna bagian dari hak asasi manusia (HAM). Bahkan 4 pilar yang menjadi tulang punggung negara, kebebasan pers masuk didalamnya. Tetapi, negara pun tak diam. Karena aturan perlu dibuat agar sesuai koridor hukum yang ditetapkan berjalan dan bertujuan baik untuk masyarakat. Maka dibukukannya UU No 40 Tahun 1999 tentang pers. Sedikit membahas soal paham pers liberal. Sebab UU No 40 Tahun 1999 adalah liberalisasi pers. Yang tertuang. Pertama s/d ketiga secara umumnya tentang kemerdekan hak mencari, mempeoleh dan menyebarkanluaskan gagasan dan informasi, serta dijamin HAM dan tidak ada pelarangan penyiaran dan pemberedelan. Berbeda jauh dengan pers di nuansa zaman orba yang menganut faham otoritarian. Disinyalir pada wakut silam selama 30 tahun pers dikooptasi oleh negara sehingga fungsinya hanya melulu sekedar menjadi corong pemerintah. Sungguh kejam bukan? Dipenjara, diasingkan, ditangkap, hingga diintrogasi menjadi konsumsi sehari hari pers. Itu mimpi buruk yang hingga kini tak lagi dirasakan dan ditelan bulet bulet. Tetapi kini, pers menjadikan senjata jitu yang akurat. Namun untuk memaksimalkan pelanggaran yang terjadi pada pers, maka dibutuhkan pedoman bagi jurnalis sebagai orang tua yang memberikan aturan. Sebagaimana ibu dan bapak yang memiliki aturan tetap dalam mengemban amanah menjaga, mendidik dan merawat anaknya karena rasa kasih sayang. Maka rumah dari seorang jurnalis adalah pelanggaran kode etik (KEJ). Pembukuan KEJ yang harus ditaati telah diperintahkan UU No 40 Tahun 1999 Tentang pers. Setelah dibuat aturan main yang cukup relevan dan kredibel, tetapi pelanggaran jurnalis sering kali ditemukan yang tidak sesuai aturan KEJ. Seperti dalam peliputan tidak terpehuninya perimbangan berita, lalu ada juga antara fakta berita dan opini dicampur adukan hingga ketidak jelasan berita dan nara sumber, dan juga tak lepas pencitraan orang dalam arena perpolitikan. Padahal kebebasan mengakses informasi apapun terkait dengan kepentingan umum harus dimanfaatkam dengan baik yang terlindungi di UU No 14/2008 tentang keterbukaan informasi publik. Maka di Hari Pers Nasional kita berharap ada resolusi terkait pemberitaan. Meski UU pers di bukukan asal hasil produk politik namun sungguh pun selagi aturan baik dan bisa difahami maka seyogyanya ditaati dan dijalankan. Tetapi tidak menutup kemungkinan revisi UU pers itu tidak direvisi, justru bicara soal teori hukum ada kepastian, keadilan dan kemenfaatan hukum. Maka revisi perlu dibuat secara ketat, agar penyakit kepentingan disemua lini perlu dibasmi hama yang sering mengkerdilkan masyarakat. Media yang lurus, jurnalis yang cerdas menjadi harapan masyarakat umum sebagai media informasi yang jujur, tidak berpihak, berkualitas dan mencerdaskan bangsa sesuai amanat pancasila dan Undan Undang 1945.

Komentar (2)

Fresh