Wayang Beber, Wayang Tertua di Indonesia | OPINI.id

Sebagai orang Indonesia tentu kita mengenal seni wayang, baik itu wayang kulit, wayang golek maupun wayang wong. Tak hanya itu, wayang juga sudah tercatat di UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Namun jauh sebelum wayang kulit ada di Bumi Nusantara, Indonesia sudah memiliki jenis wayang lain yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri, yaitu Wayang Beber.

Wayang Beber adalah Wayang Tertua

Wayang Beber, merupakan kesenian paling tua dalam sejarah wayang di Indonesia. Menurut bahasa Jawa, kata beber berasal dari kata njlentrehke atau ambeber, yang artinya membentangkan atau dibentangkan. Dalam pertunjukannya, wayang ini memang memiliki keunikan tersendiri karena saat dalang melakukan pertunjukan akan membentangkan gulungan kertas atau kain yang bergambar lakon cerita wayang.

Sejarah Wayang Beber

Wayang Beber mulai ada dan berkembang pada zaman Kerajaan Jenggala tahun 1223 M. Saat itu, bentuknya memang masih belum sempurna, karena gambar-gambarnya dibuat pada daun siwalan atau rontal atau lontar. Pada tahun 1244 M wayang beber mulai menggunakan kertas. Kertas yang berwarna agak kekuningan ini disebut "dlancang gedog." Gambar yang dihasilkan masih berwarna hitam dan putih. Sedangkan di tahun 1316 M, disetiap ujung gulungan kertas wayang, diberikan/dipasang tongkat kayu panjang yang berfungsi untuk menggulung cerita atau memperlihatkan cerita selanjutnya. Ketika pemerintahan Raja Brawijaya V (sekitar tahun 1378 M), sang raja memerintahkan anaknya yang ke tujuh, Raden Sungging Prabangkara untuk belajar wayang dan juga untuk menciptakan Wayang Beber Purwa yang baru, yaitu gambar lakon wayang pada kertas mulai menggunakan beberapa macam warna.

Keberadaan Wayang Beber

Wayang beber memang berbeda dengan wayang kulit dan wayang-wayang lainnya, karena bukan suatu pentas bayangan, melainkan suatu pentas gambar. Hingga wayang ini kurang dikenal masyarakat, makin lama makin menghilang dan termasuk wayang yang langka. Saat ini, wayang beber hanya dapat ditemukan di dua tempat yaitu: 1. Di dusun Gelaran, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 2. Di dusun Karangtalun, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur.

Peruntukan Wayang Beber

Pada zaman kerajaan Majapahit, wayang beber menjadi sarana untuk upacara menolak bala atau upacara Ruwatan. Pada zaman itu pula fungsi wayang beber sudah mulai berkembang menjadi pertunjukan non ritual. Walaupun untuk pertunjukan non ritual, namun dalang akan tetap menyampaikan gagasan vital tentang kebenaran nilai tradisional. Fungsi ini tetap berjalan sampai jaman raja-raja Jawa Islam, hanya saja wayang beber tidak lagi dipergunakan untuk upacara ruwatan tapi digunakan untuk media dakwah. Sedangkan untuk upacara ruwatan mulai menggunakan wayang kulit. (ket foto: Wayang beber di rumah Budi Utomo tahun 1902)

Waktu Pertunjukan & Dalang

Pertunjukan wayang beber dapat dilakukan siang atau malam hari, kecuali malam Jum’at Kliwon karena pada malam tersebut wayang beber harus diberi sesajen. Sedangkan selama bulan puasa atau Ramadhan tidak diperkenankan melakukan pertunjukan wayang beber. Sementara itu, untuk dalang wayang beber harus seorang pria dan keahliannya mendalang itu diwariskan turun-temurun secara lisan kepada generasi penerus, yang biasanya seorang putra dari sang Dalang sendiri. Apabila sang Dalang tidak mempunyai anak laki-laki, keahlian mendalang itu dapat diwariskan kepada salah seorang kemenakannya yang juga laki-laki.

Lakon Wayang Beber

Pada mulanya wayang beber melukiskan cerita-cerita wayang dari kitab Mahabharata, tetapi kemudian beralih pada cerita-cerita Panji yang berasal dari kerajaan Jenggala pada abad ke-XI dan mencapai jayanya pada zaman Majapahit sekitar abad ke-XIV hingga XV. Cerita Panji adalah sebuah kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri. Isinya adalah mengenai kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utamanya, yaitu Raden Inu Kertapati (Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana). Cerita ini mempunyai banyak versi, dimana dalam berbagai versi ini dimasukkan dalam satu kategori yang disebut “Lingkup Panji” (Panji Cycle).

Wayang Beber Donorojo, Pacitan

Wayang Beber pertama dan masih asli sampai sekarang masih bisa dilihat di Daerah Pacitan, Donorojo. Konon, gulungan wayang beber di Pacitan, merupakan peninggalan sejak zaman Majapahit. Menurut Kitab Sastro Mirudo, wayang beber ini dibuat pada tahun 1283 atau dengan condrosengkolo (penanggalan), "Gunaning Bujonggo Nembah Ing Dewo" (1283) Gulungan wayang beber ini mengisahkan lakon utuh dari ceritera Panji yang berjudul Joko Kembang Kuning. Berjumlah 6 gulungan, setiap gulungan memuat 4 adegan. Jadi jumlah keseluruhan menjadi 24 adegan, tetapi adegan yang ke 24 tidak boleh dibuka, yang menurut kepercayaan pantangan untuk dilanggar.

Wayang Beber, Gunung Kidul

Wayang Beber di Gunung Kidul dinamai wayang beber kyai Remeng. Gulungan wayang beber di Gunung Kidul mengisahkan Remeng Mangunjaya (bagian dari cerita Panji yang berusia 350-400 tahun). Wayang Beber yang terdapat di dusun Gelaran seluruhnya berjumlah 8 gulungan, empat gulungan diantaranya merupakan seperangkat lakon utuh berjudul Remeng Mangunjoyo. Empat gulungan lainnya merupakan fragmen-fragmen lakon cerita panji yang belum diketahui judulnya. Menurut cerita rakyat di sana, wayang beber tersebut dibuat dalam rangka peringatan tujuh bulan kandungan istri Sultan Hadiwijaya (1546-1586) yang terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir.

Sumber:

http://www.wacana.co/ http://www.wikiwand.com/de/ http://regional.kompas.com https://waybemetro.wordpress.com www.goodnewsfromindonesia.id https://waybemetro.wordpress.com https://pacitanku.com

Komentar

Fresh