Perantau Yang Merindu | OPINI.id

Perantau yang merindu

Selamat pagi dunia. Pagi yang sangat buta ini, entah aku sedang sangat merindukannya. Apapun tentangnya. Apapun darinya. Tak ada yang lebih aku cintai setelah Tuhan dan Rasul-ku selain keduanya. Senyumannya. Seolah-olah menjadi gelora penyemangatku ketikaku mulai lelah, pasrah ataupun putus asa. Aku sangat menyadarinya. Ketika aku hanya menjadi penyulit semata bagi mereka. Tak ada yang bisa dibanggakan sampai saat ini.. Rasanya malu, tak bertepi. Ketika keadaan sulit untuk tak meminta apapun darinya. Padahal diriku kini sudah beranjak dewasa. Harusnya tak lagi aku harus Menyusahkannya.. Merepotkannya.. Membebaninya.. Tapi sungguh sulit, hidup ini memang berat tanpa kehadirannya. Mama papa.. Tak henti-henti aku mengkhawatirkanmu ketika jauh. Cikarang - Ciputat bukanlah jarak yang dekat. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Harapanmu adalah amanah terbesar untuk dijalani. Dengan ridhomu, support dan ikhlasmu mungkin kesulitan akan menjadi mudah untuk ku jalani. Tak pernah surut untuk selalu ku ucap namamu dalam setiap doaku. Aku sangat mencintaimu. Aku sangat menyayangimu. Lebih dari apapun yang kupunya. Sehat ya mama papa.. Anak gadismu berusaha untuk memperbaiki diri dengan kesungguhan keras agar kelak menjadi kebanggaanmu. Maafkan untuk masalaluku yang menjadi beban mama dan papa menuju syurga. Kali ini aku pandai memilih.. Kali ini aku cerdas untuk menghadapi.. Sekalipun dunia membenci ! Asalkan ridhomu tak henti. ... Ciputat 14 November 2017 06 : 29 WIB Pesantren luhur sabilussalam ... Ditulis by Via Junita.

Komentar

Fresh