6 Alasan Seseorang Untuk Berbohong | OPINI.id

Alasan paling klasik seseorang untuk berbohong adalah mereka menganggap bahwa lebih baik berbohong saja daripada harus menyakiti orang lain...hmm

Padahal ada banyak alasan berbohong lainnya yang sering terlontar dari mulut seseorang, mungkin termasuk juga kamu.

1. Berbohong Demi Kebaikan

Berbohong demi kebaikan adalah alasan berbohong yang paling umum terlontar dari mulut banyak orang karena dianggap tindakan yang tampak mulia. Tapi, tahukah kamu kalau sebenarnya mereka lebih memilih untuk kecewa mendengar kebenaran pahit ketimbang harus merasa senang karena sebuah kebohongan. Pasalnya, sebaik apapun kebohongan tersebut dibuat, lama kelamaan akan ketahuan dan akhirnya tetap saja mengecewakan juga.

2. Terbiasa Berbohong

Banyak orang yang terbiasa untuk terus menerus berbohong karena menganggap bahwa kebohongan bukanlah sesuatu yang salah. Sayangnya, mereka tidak berpikir kalau berkata bohong akan membawa efek domino yang buruk, karena justru hal yang harus ditutupi itulah yang menjadi masalahnya. Makanya mereka tak merasa ada masalah jika harus berbohong untuk semua itu agar engga terjerat masalah lain atau harus bertanggungjawab pada hal yang ia sembunyikan.

3. Merasa Nyaman Jika Berbohong

Kebiasaan suka berbohong lama-lama akan membuat si pembohong merasa bangga dengan keahliannya merangkai bualan karena berhasil menipu banyak orang. Kepercayaan diri inilah yang kemudian mendorongnya untuk terus melanjutkan kebohongan dengan bualan-bualan baru lainnya. Pada akhirnya, mereka akan terus berbohong karena membuatnya merasa nyaman, merasa dipercaya orang lain dan bisa mencapai tujuan yang diinginkannya tanpa memikirkan dampaknya bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

4. Berbohong Untuk Menutupi Kebohongan Sebelumnya

Sekali kamu berbohong, mau tidak mau, suka atau tidak suka maka kamu harus mempersiapkan kebohongan berikutnya untuk mendukung jalan cerita bualan sebelumnya agar terdengar masuk akal dan orang lain percaya. Apapun alasan berbohong sebelumnya, reaksi berantai ini hampir selalu akan terjadi. Pasalnya, saat kebohongan itu muncul, kemungkinan besar rekan atau keluarga kamu akan bertanya hal lain yang berhubungan tentang itu. Akhirnya, otak kamu kembali bekerja untuk membuat kebohongan baru. Makin lama, kebohongan yang kamu buat akan semakin banyak.

5. Bohong Ketika Tidak Berniat Berbohong

Hal ini biasa terjadi saat seseorang harus menghadapi suatu masalah yang tak terkendali, maka wajar jika merasa stres. Mulai dari rasa campur aduk antara cemas takut dan panik, keringat deras, jantung berdebar, dan lainnya. Respon stres alami ini kemudian akan menghidupkan satu respon lainnya, yaitu respon ‘bagaimana saya harus keluar dari masalah ini secepatnya tanpa masalah’. Salah satu caranya adalah dengan berbohong. Maka otak akan cepat bereaksi dan memberikan sugesti serta mencari cara tercepat untuk mengatakan sebuah kebohongan.

6. Bohong Pasif Agresif Untuk Mencerminkan Keinginan

Bohong pasif agresif adalah alasan berbohong yang disampaikan oleh seseorang karena didasari oleh rasa ketidakpuasan pribadi atas apa yang ia punya atau ia dapatkan saat itu. Maka berbohong dijadikan jalan untuk “memperindah" hidupnya agar orang-orang yang mendengarnya terkesima, kagum atau menyukai dirinya. Padahal, di balik kebohongan itu ia merasa hampa, bahkan mungkin kondisinya tak seperti yang dia ceritakan. Namun, sebenarnya ia memimpikan kehidupan seperti yang ia ceritakan dalam kebohongannya.

Sumber:

https://hellosehat.com/ http://lifestyle.liputan6.com/ http://www.pendidikankarakter.com http://www.psikoma.com

Komentar

Fresh