Kesederhanaan Cermin Hidup Danny Pomanto | OPINI.id

Tumbuh dan besar dari keluarga sangat sederhana yang tinggal di sebuah lorong di jalan Amirullah, Kota Makassar, Danny Pomanto menapaki jalan untuk meraih mimpi dan cita-cita dalam perjuangan hidupnya.

Kesederhanaan, Cermin Hidup Danny Pomanto

Pemimpin itu harus mengabdi pada rakyat, sederhana, dan visioner. Kita pasti sering mendengar kata-kata tersebut. Jika berbicara soal pemimpin, sepertinya Indonesia sudah banyak memiliki contoh. Apalagi dalam iklim demokrasi yang terus bertumbuh. Demokrasi memberi peluang yang besar kepada setiap anak bangsa untuk mengabdikan dirinya menjadi pemimpin. Di negara dunia ketiga, menjadi kepala daerah merupakan tantangan yang cukup sulit. Hidup dalam kemewahan merupakan pandangan yang lekat bagi seorang kepala daerah. Berbagai fasilitas dapat dinikmati ketika seseorang menjadi kepala daerah. Kehidupan kepala daerah yang akrab dengan kesederhanaan sungguh langka. Namun, beberapa kepala daerah membuktikan jika kekuasaan tak selamanya harus sejalan dengan kemewahan. Sederhana Tumbuh dan besar dari keluarga sangat sederhana yang tinggal di sebuah lorong di jalan Amirullah, Kota Makassar, Danny Pomanto menapaki jalan untuk meraih mimpi dan cita-cita dalam perjuangan hidupnya. Peran Aisyah Abdul Razak, sang ibu, yang merupakan seorang guru menjadi semangat bagi Danny untuk terus menjaga kesederhanaanya. Begitupun yang ditunjukan Danny saat menjadi Wali Kota Makasar. Kesederhanaan seperti sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Kebiasaanya bergaul bersama rakyat membuatnya tak canggung menerima masukan dan kritik. Ada cerita menarik tentang Danny. Dalam sebuah acara bertajuk 'Limosin Rakyat', saat itu salah satu partai politik mendatangkan para tukang becak untuk mengangkut tamu-tamunya berkeliling, salah satunya Danny. Becak yang ditumpangi Danny dikayuh seorang kakek bernama Baco Dg Tiro (80 Tahun). Melihat kondisi Dg Tiro yang sudah tua, Danny justru mengambil alih kemudi dengan mempersilahkan Dg Tiro untuk duduk. Sementara Danny yang mengayuh becak tersebut. "(Wali Kota) sudah naik di becak, tiba- tiba balik ke belakang. Dia melihat saya sudah tua lalu bertanya apa saya bisa membawa dia, saya bilang bisa Pak, tapi beliau langsung turun dan berkata sini saya bawaki Daeng," ujar Dg Tiro dikutip melalui Makassar Tribun. Danny tidak pernah melewatkan kesempatan untuk selalu dekat dengan masyarakat. Bahkan, untuk mengejar ketertinggalan menghadiri acara ramah tamah HUT Sumsel 348, Danny memilih menggunakan motor warga untuk menembus kemacetan agar tidak terlambat. Danny juga merupakan wali kota yang memiliki segudang prestasi. Seminggu setelah memimpin, Danny langsung memboyong dua kategori penghargaan bagi Kota Makassar, yakni Kota Terbaik Nasional sekaligus Kota Terbaik Region Sulawesi. Berlatar belakang profesi Arsitek, Danny terus aktif menata dan menghias seluruh lorong atau gang di kotanya yang jumlahnya mencapai 7.520 lorong. Mungkin, tindakan itu dilakukan karena Danny pernah merasakan dan juga banyak menjalani hidup di daerah lorong. Danny terobsesi menjadikan lorong-lorong di kotanya menjadi penopang Makassar menjadi Kota Dunia. Danny mempunyai tiga misi membangun kotanya. Pertama, merekonstruksi kesejahteraan warganya berstandar dunia, kedua merestorasi tata ruang untuk menjadi nyaman seperti kota-kota dunia dan ketiga mereformasi tata pemerintahan dan pelayanan publiknya yang berstandar kelas dunia, transparan, dan bebas KKN. Tetapi, dari itu semua, hal yang nampak pada diri Danny adalah sosok sederhana dan merakyat. Prestasi dan kebijakan yang dilakukan Danny merupakan manifestasi kedekatannya bersama rakyat. Danny sepertinya tahu, dengan bergumul sedekat mungkin dengan masyarakat, akan menghasilkan kebijakan yang juga berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Memimpin dengan kesederhanaan menjadi kunci sukses bagi Danny.

Komentar

Fresh