Kematian Pesepakbola Indonesia | OPINI.id

Publik pencinta sepakbola Indonesia berduka. Choirul Huda, kiper legendaris Persela yang menghabiskan seluruh karir profesionalnya di klub itu mengembuskan napas terakhirnya. Penyebabnya, ia mengalami benturan keras di lapangan dengan rekannya sendiri. Seketika Huda pun limbung, dan nyawanya tak dapat diselamatkan ketika dibawa ke rumah sakit. Choirul Huda bukan yang pertama yang mengalami nasib demikian. Siapa saja mereka?

Eri Irianto

Bagi yang masih mengingat beliau, tendangan geledeknya pasti menyisakan kesan yang mendalam. Eri meninggal kala memperkuat Persebaya Surabaya, 3 April 2000. Saat itu ia berusia 26 tahun. Eri mengalami benturan dengan pemain PSIM saat bertanding di Stadion Gelora 10 November, Surabaya. Setelah mengalami benturan, Eri tidak sadarkan diri. Ia sempat dibawa ke RSUD Dr Soetomo. Namun nyawanya tak tertolong. Kata dokter, Eri mengalami gagal jantung. Untuk mengenang Eri, Persebaya memesiunkan nomor punggung 19 yang identik dengannya. Bajul Ijo juga menamakan mes pemain Persebaya di Jalan Karang Gayam dengan nama Wisma Eri Irianto.

Jumadi Abdi

Tekel-tekel brutal memang kerap terjadi di Indonesia. Ketegasan wasit dibutuhkan untuk mengatasi kebrutalan itu. Jumadi Abdi adalah korban kebrutalan tekel lawan. Gelandang PKT Bontang ini meninggal setelah dihajar Deny Tarkas pada 15 Maret 2009 lalu. Siapapun yang menontonnya, akan melihat pelanggaran tak pantas itu. Kaki lawan mengarah ke perut Jumadi sehingga pull sepatunya merobek perut. Jumadi pingsan kemudian dibawa ke rumah sakit. Bukan cuma perutnya, usus halus Jumadi pun robek. Organ dalam lainnya keracunan karena kotoran pencernaan makanan masuk ke seluruh organ dalam. Setelah dirawat selama seminggu dalam kondisi kritis, Jumadi dinyatakan meninggal dunia.

Akli Fairuz

Kebrutalan serupa menimpa penyerang Persiraja, Akli Fairuz. Akli mengembuskan napas terakhir pada 16 Mei 2014 di Rumah Sakit Zainal Abidin, Banda Aceh. Kejadiannya persis dengan kejadian yang menimpa Jumadi Abdi. Kaki penjaga gawang PSAP Sigli, Agus Rohman, diangkat terlalu tinggi. Organ dalam Akli Fairuz bocor karena benturan tersebut. Meski berbagai upaya dilakukan, nyawanya tidak tertolong.

Komentar

Fresh