8 Karya Budaya Indonesia Diakui UNESCO | OPINI.id

Pada tahun 2016 lalu, Kemdikbud RI melalui Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya telah menetapkan 150 karya Budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

Saat ini sudah ada 8 WBTB Indonesia yang telah diakui UNESCO yaitu: Keris, Wayang, Batik, Program Diklat tentang Batik, Angklung, Tari Saman, Noken Papua dan Tiga Genre Tari Tradisional Bali.

Tahun 2017, pemerintah Indonesia rencananya akan mengajukan Kapal Pinisi dari Sulsel sebagai WBTB Indonesia ke UNESCO.

1. Keris Indonesia

Di tahun 2005, Keris telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia . Keris adalah benda budaya yang eksotik dan original. Ini merupakan ‘karya seni’ sekaligus ‘benda budaya’ asli Nusantara. Tak hanya itu, Keris juga menjadi identitas pengikat yang mendorong tingginya rasa kebangsaan di wilayah Nusantara. Keris merupakan senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya). Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Saat ini, penggunaan keris lebih banyak sebagai ornamen pelengkap dalam berbusana adat maupun menjadi benda koleksi yang bernilai tinggi.

2. Wayang Indonesia

Wayang telah diakui oleh UNESCO sebagai daftar perwakilan Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia pada tahun 2008. Pertunjukan wayang dimainkan oleh seorang dalang dengan menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan yang dipilih sesuai dengan cerita yang dibawakan. Cerita-cerita yang dipilih bersumber pada kitab Mahabarata dan Ramayana yang bernafaskan kebudayaan dan filsafat Hindu, India, namun telah diserap ke dalam kebudayaan Indonesia. Wayang telah menyebar hampir keseluruh bagian wilayah Indonesia dengan jenis yang beragam, yaitu: Wayang kulit Purwa, Wayang Golek Sunda, Wayang Orang, Wayang Betawi, Wayang Bali, Wayang Banjar, Wayang Suluh, Wayang Palembang, Wayang Krucil, Wayang Thengul, Wayang Timplong, Wayang Kancil, Wayang Rumput, Wayang Cepak, Wayang Jemblung, Wayang Sasak (Lombok), dan Wayang Beber.

3. Batik Indonesia

Pada tahun 2009, Batik diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia. Pada dasarnya Batik merupakan seni lukis yang menggunakan canting sebagai alat untuk melukisnya dan malam (lilin) sebagai bahan untuk melukis. Cikal bakal batik di Indonesia dapat ditelusuri sejak abad ke V melalui KAIN SIMBUT dari Tanah Banten (kain ini masih tersimpan di Museum Tekstil Jakarta) dan KAIN MA'A dari Tanah Toraja di Sulawesi Selatan yang memakai bubur ketan dan lilin lebah sebagai perintang warna. Sementara kata “BATIK” itu sendiri baru secara tertulis ditemukan pada tahun 1641 dalam dokumen pengiriman barang dari Batavia (Jakarta) ke Bengkulu, sedangkan menurut pakar batik Belanda, Rouffaer (1914), referensi pertama tentang "batik" ini sudah ada sejak tahun 1520.

4. Program Diklat Tentang Batik

Program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) tentang Batik diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2009. Program diklat tentang batik ini ditujukan bagi siswa SD hingga SMA Negeri maupun Swasta dan Mahasiswa Politeknik yang bekerjasama dengan Museum Batik Pekalongan. Diklat ini diselenggarakan setiap tahun dengan tujuan untuk mengenalkan sekaligus memberi bekal kepada siswa maupun generasi muda Indonesia untuk mengenal batik beserta cara dan proses pembuatannya.

5. Angklung

Angklung telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia pada tahun 2010. Alat musik angklung muncul di Tatar Sunda (Jawa Barat) sekitar abad ke XII sampai XVI, merujuk pada adanya kerajaan Sunda. Keberadaan angklung berkaitan dengan masyarakat kerajaan Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari tanaman padi (pare). Kata Angklung berasal dari Bahasa Sunda “angkleung-angkleungan” yaitu gerakan pemain Angklung dan suara “klung” yang dihasilkannya. Pada tahun 1862, Jonathan Rigg, dalam buku "Dictionary of the Sunda Language" yang diterbitkan di Batavia, menuliskan bahwa angklung adalah alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu, yang dipotong ujung-ujungnya, menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan untuk menghasilkan bunyi.

6. Tari Saman

Tari saman diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh UNESCO pada tahun 2011. Dalam beberapa literatur menyebutkan tari saman didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara. Tari Saman biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat maupun ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tari ini hanya ditarikan oleh kaum pria dan syair dalam tarian saman mempergunakan Bahasa Gayo.

7. Noken, Tas Rajutan Khas Papua

Pada tahun 2011 Noken Papua dinobatkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia yang membutuhkan pelindungan mendesak. Noken merupakan warisan suku-suku yang termasuk ras Melanesia yang ada di Papua. Tas ini terbuat dari kulit kayu lokal yang banyak tumbuh di Papua. Kayu yang digunakan sebagai bahan baku juga berbeda-beda. Pada saat digunakan untuk membawa barang atau hasil bumi, noken akan diletakkan di kepala. Uniknya lagi, hanya perempuan Papua yang boleh membuat noken. Perempuan Papua yang belum bisa menjalin noken dianggap belum dewasa dan belum layak untuk menikah. Noken juga dianggap sebagai simbol sumber kesuburan kandungan seorang perempuan.

8. Tiga Genre Tari Tradisional Bali

Sembilan tari asal Bali yang terbagi dalam tiga genre ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda oleh UNESCO pada tahun 2015. Tari-tarian Bali ini digolongkan sebagai tarian sakral, semi-sakral, dan tarian untuk hiburan massal. Salah satu aspek nominasi Tari Tradisi Bali yang dihargai Komite UNESCO adalah upaya masyarakat Bali untuk meneruskan tradisi ini kepada generasi penerus melalui pendidikan informal, non-formal dan formal. Sembilan jenis tari Bali yang diakui UNESCO adalah Rejang Dewa (Klungkung), Sang Hyang Dedari (Karang Asem), Baris Upacara (Bangli), Gambuh (Gianyar), Wayang Wong (Buleleng), Topeng Sidakarya/Topeng Pajegan, (Tabanan), Legong Kraton (Denpasar), Joged Bumbung (Jembrana), dan Barong Ket Kuntisraya (Badung).

Sumber & Keterangan Foto

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id http://whc.unesco.org/ http://lifestyle.liputan6.com https://www.timesindonesia.co.id http://www.kemlu.go.id http://www.isi-dps.ac.id https://museumbatikpekalongan.info https://museumtekstiljakarta.com Museum Batik Kuno Danar Hadi Solo

Komentar (1)

Fresh