Suku Dayak Yang Disegani Dunia | OPINI.id

Suku dayak adalah salah satu suku paling terkenal di Indonesia. Cara hidup mereka memang jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat Indonesia modern. Namun, yang mereka lakukan itu untuk melestarikan budaya dan menjalani hidup yang diturunkan dari para leluhur.

Suku Dayak punya riwayat bikin Belanda kalang kabut saat menjajah negara kita. Mereka bahkan berhasil membuat serdadu negeri kincir angin itu ‘pulang kampung’.

1. Pasukan Hantu

Ketika Belanda menjajah Indonesia dan datang ke Kalimantan, mereka ketakutan karena tanah Borneo punya pasukan menakutkan yang mereka sebut dengan ‘The Ghost Warrior’ alias ‘Pasukan Hantu’. Ada yang berteori bahwa pasukan hantu sebenarnya adalah para prajurit suku Dayak, namun ada juga yang mengatakan pasukan hantu adalah ‘Panglima Burung’ yaitu makhluk halus yang sangat dipercayai oleh suku Dayak yang tugasnya melindungi segenap suku Dayak. Menurut cerita orang-orang Dayak yang hidup di jaman penjajahan, Belanda ketakutan pada suku Dayak karena kemampuan perang mereka. Orang Dayak menyerang penjajah dengan menggunakan sumpit dan mandau, yang jika sudah digunakan, pasti menelan korban nyawa. Sementara jika peluru Belanda mengenai orang Dayak, maka korban akan sembuh dengan bantuan sikerei (dukun) setempat dalam hitungan hari. Itulah yang akhirnya membuat Belanda hengkang dari Bumi Borneo.

2. Sumpit Beracun

Pada jaman penjajahan, ketika Belanda sudah mengenal teknologi pistol dan peluru, masyarakat Dayak hanya melawan mereka dengan sumpit. Senjata yang digunakan dengan cara ditiup ini memang sudah dikenal beracun dan mematikan. Menurut Pembina Komunitas Tarantang Petak Belanga, penjajah Belanda sering bilang, harus menghadapi pasukan hantu, karena kedatangan mereka selalu tiba-tiba dan begitu cepat. Sumpit beracun memang bisa menaklukkan lawannya dengan cara yang cukup sadis. Biasanya, anak sumpit akan diarahkan ke leher. Begitu tertancap anak sumpit, maka korban akan kejang-kejang hingga tewas. Hal mematikan tersebut terjadi hanya dalam hitungan menit.

3. Mandau, Parang Mematikan

Mandau adalah semacam parang yang selalu dibawa-bawa oleh pria Dayak. Meskipun sedang tidak ada bahaya atau perang, membawa mandau memang sudah menjadi kebiasaan dan kewajiban bagi para pria Dayak untuk berjaga-jaga. Namun, ada beberapa aturan dalam pemakaian mandau, salah satunya adalah mandau tidak boleh digunakan untuk mengancam dan hanya boleh digunakan untuk membela diri. Mandau juga tidak boleh dikeluarkan sembarangan dari sarungnya, konon, jika mandau sudah keluar dari sarangnya, mau tidak mau akan ada korban yang tewas. Tidak sedikit saksi mata yang mengatakan bahwa mandau bisa terbang dan membunuh mangsanya begitu saja, karena parang satu ini memang mempunyai kekuatan magis.

4. Ilmu Gaib

Sebelum beberapa agama masuk ke tanah Borneo, suku Dayak memang menganut paham animisne. Mereka menyembah roh-roh leluhur sekaligus melakukan ritual-ritual pemujuaan pada roh-roh tersebut. Konon, ilmu gaib orang Kalimantan dikirim melalui median angin atau dikenal dengan ‘racun paser’. Ketika racun paser telah masuk ke tubuh seseorang, maka orang itu akan mengalami gatal-gatal di seluruh tubuh. Kulitnya akan kering seperti dihisap oleh tulang sendiri, dan rasa gatal tidak hanya terasa di kulit, namun juga terasa sampai ke tulang-belulang. Ilmu-ilmu yang dikirim lewat media yang kasat mata inilah yang membuat misteri di tanah Borneo semakin kental.

5. Tato Dayak

Tato bagi suku dayak adalah tradisi yang mempunyai makna tersendiri. Kultur tato dari suku dayak adalah salah satu yang tertua di dunia. Tato juga sebagai catatan kehidupan. Pembuatannya sudah dilakukan sejak dari awal kelahiran, saat anak perempuan atau lelaki memasuki masa dewasa (akil baligh), saat perkawinan, bahkan hingga prosesi pindah rumah. Sementara bagi kaum lelaki yang pernah ikut perang dan berhasil membunuh musuhnya maka akan mendapat tato tambahan sebagai kebanggaan. Pembuatan tato suku Dayak masih menggunakan alat tradisional, sehingga rasanya tidak kalah menyakitkan dengan pembuatan tato modern.

6. Sumber & Keterangan Foto:

Foto koleksi Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda. Foto koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen. Desain motif Tato Dayak (C. Hose and W. McDougall 1912). suarapakat.co.id ulinulin.com

Komentar

Fresh