Menengok Ingatan Cinta lewat Gendongan | OPINI.id

Gendongan bayi memiliki makna yang amat dalam bagi tumbuh kembang seorang anak manusia. Melalui gendongan bayi atau baby carrier, seorang anak manusia mengenal cinta, kasih sayang dan kelembutan ibunya yang mengandung dan membesarkannya, sebelum akhirnya seorang anak siap terjun ke alam bebas hidup bergabung sebagai subjek individu dalam masyarakat. Gendongan bayi, ayunan, serta nyanyian sebelum lelap bagi bayi akan jadi ingatan bagi seorang anak manusia agar pandai menyimpan riwayat

Menengok Kembali Ingatan Cinta dalam Gendongan Bayi

Gendongan bayi memiliki makna yang amat dalam bagi tumbuh kembang seorang anak manusia. Melalui gendongan bayi atau baby carrier, seorang anak manusia mengenal cinta, kasih sayang dan kelembutan ibunya yang mengandung dan membesarkannya, sebelum akhirnya seorang anak siap terjun ke alam bebas hidup bergabung sebagai subjek individu dalam masyarakat. Gendongan bayi, ayunan, serta nyanyian sebelum lelap bagi bayi akan jadi ingatan bagi seorang anak manusia agar pandai menyimpan riwayat yang kelak akan membesarkan jiwa, menghaluskan budi, menjangkau kebaikan sebelum tiada. Di berbagai kebudayaan manusia, terdapat ragam gendongan bayi dengan segala nilai dan filosofi kebudayaan yang dikandungnya. Gendongan-gendongan bayi, yang beraneka ragam dari tiap-tiap suku bangsa di dunia ini, berperan dalam pembentukan karakter dan tempaan jiwa raga seorang anak manusia untuk menapaki jalan hidupnya. Gendongan bayi merupakan benda yang berperan sebagai ikatan penting yang mewakili cinta mendalam dan perhatian sepenuh hati dari orangtua kepada anak-anak mereka. Nilai universal ini dimulai sejak lama dan telah diterapkan di masa lalu hingga sekarang. Orang-orang dari berbagai suku bangsa dan daerah yang berbeda telah mengembangkan adat kebiasaan mereka, upacara, dan budaya berdasarkan nilai tersebut. Benda-benda buatan tangan yang amat halus secara bertahap menjadi warisan budaya yang tak ternilai harganya. Jauh di balik ayunan dan gendongan bayi, terhantar ingatan, seperti ladang jiwa dalam diri. Di situ kita akan membaca sejarah kasih sayang orang tua, khususnya ibu. Sesuatu yang ada sejak lahir, tak bisa diubah, ia akan menjadi riwayat kasih sayang, tangan halus, kesabaran, dan senyuman – ibu. Melalui pameran gendongan bayi bertajuk “Fertil, Barakat, Ayom” yang berlangsung di Museum Nasional, Jakarta, pada 19-29 Oktober 2017, kita diajak menengok riwayat yang kini bisa kita ulang dan dilihat kembali. Walau tak sepenuhnya bisa kembali. Namun ia bisa dipanggil lebih dekat. Studiohanafi bekerjasama dengan National Museum of Prehistory (NMP) Taiwan menyajikan karya-karya gendongan bayi terbaik dalam pameran di Museum Nasional. Pameran ini akan menyuguhkan gambaran yang sarat makna cinta serta berkah tentang kelahiran dan tentang pola membesarkan anak. Melalui display kontemporer, Hanafi bersama Enrico Halim (Aikon) akan mendesain ruang pamer temporer Museum Nasional Indonesia menjadi bentuk rahim. Tak ada sudut yang tajam. Segalanya lembut, nyaman dan halus. Pengunjung akan memasuki ruangan dengan lantai kayu yang mengambang. Melihat satu per satu koleksi gendongan bayi, foto, narasi teks budaya, dan video bersama iringan lagu pengantar bayi (lullaby). Ditambah, untuk memperkuat tema sebagai pameran etnografi, pada salah satu ruang akan berisi koleksi gendongan bayi dari Dayak-Kalimantan bersama sosok ibu yang menenun. Selain gendongan bayi, pameran akan diisi oleh pendamping acara berupa seminar antropologi tentang gendongan bayi Asia dan pola asuh anak di suku-suku asli Indonesia dan Taiwan dengan tiga pembicara sebagai narasumber antropolog, yakni Dr. Tony Rudyansjah, M.A. dan Dr. Dave Lumenta, Ph.D dari Universitas Indonesia, serta Chi-Shan Chang, Ph.D selaku Kurator dari National Museum of Prehistory- Taiwan. “Kami tidak hanya ingin menampilkan pameran tapi juga pengetahuan kepada publik seni Indonesia dan menjalin hubungan yang lebih panjang dengan Taiwan melalui jalan kebudayaan” ungkap Hanafi.[]

Komentar

Fresh