Manajemen SDM Bank Syariah Yang Baik | OPINI.id

BANK SYARI’AH MAJU DENGAN SDM YANG BERKUALITAS, KOMPETEN DAN SPRITUALISTIK Nama : Erviani Prodi : Manajemen Perbankan Syari’ah Kampus : Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI (STEI SEBI ) Depok Perbankan Syari’ah adalah lembaga keuangan bank yang dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip syari’ah. Di Indonesia, Bank Syari’ah tumbuh dan berkembang dari tahun 1990-an yang mana menjadi solusi dalam krisis ekonomi yang terjadi pada saat itu dan terus berkembang hingga saat ini dengan perkembangan yang

BANK SYARI’AH MAJU DENGAN SDM YANG BERKUALITAS,KOMPETEN DAN SPRITUALISTIK

cukup besar dan signifikan. Agar dapat bersaing dengan bank-bank konvensional yang telah lebih lama berdiri bank syari’ah harus mampu untuk selalu meningkatkan kualitasnya. Eksistensi perkembangan industri Bank Syari’ah di Indonesia saat ini dihambat oleh beberapa faktor, antara lain : a) belum memadainya Sumber Daya Manusia (SDM) yang secara keilmuan yang paham tentang konsep bank syariah dan ekonomi syariah, dan memiliki semangat keislaman yang tinggi, b) kelemahan dalam mendapatkan nasabah dan mengumpulkan dana nasabah, c) tingkat kepercayaan yang masih rendah dari umat Islam, d) adanya ambivalensi antara konsep syari’ah dalam pengelolaan bank syari’ah dengan operasionalisasi di lapangan dan e) permasalahan dalam pengembangan teknologi sistem keuangan syari’ah. Dalam hal tersebut, yang menjadi fokus permasalahan utama yaitu terkait Sumber Daya Manusia (SDM) yang terdapat pada Bank Syari’ah. SDM yang bermutu merupakan pilar utama dalam perbankan syari’ah, Penyediaan SDM yang kompeten dengan jumlah yang cukup menjadi tuntutan mutlak bagi bank syariah untuk menghasilkan produk dan jasa yang bermutu. Hal ini lah yang tidak boleh diabaikan oleh Bank Syari’ah selaku perusahaan. Dari sekian banyak permasalahan terkait SDM (Sumber Daya Manusia) yang melanda Bank Syari’ah, terdapat salah satu problematika klasik yang menjadi polemik saat ini, yaitu : praktisi bank syari’ah yang lemah secara keilmuan, tingkat kepahaman tentang konsep bank syari’ah dan ekonomi syari’ah, tidak memiliki semangat keislaman yang tinggi dan tidak memiliki kekuatan dalam aspek spiritual diri yang baik. SDM yang hanya mengerti tentang ilmu bank syariah dan ekonomi syariah saja, tetapi tidak memiliki semangat keislaman yang tinggi, maka ilmunya bagai jasad tanpa ruh. Sehingga dalam beraktivitas sehari-hari dia tidak ada rasa memiliki, tidak ada rasa ghirah dan rasa tanggung jawab terhadap kemajuan bank syariah. Sebaliknya, SDM yang hanya memiliki semangat keislaman yang tinggi tetapi tidak memiliki ilmu tentang bank syariah atau ekonomi syariah, dia bagaikan orang yang berjalan tanpa mengetahui arah dan tujuan. Sampai saat ini masih jarang praktisi perbankan syariah yang memiliki kedua hal tersebut. Terkait problematika Manajemen SDM Bank Syari’ah, terdapat beberapa solusi yang seharusnya dilakukan dan dapat diterapkan untuk mendukung kemajuan ekonomi syari’ah di masa mendatang, antara lain : Pertama, mencetak SDM yang berkualitas dan profesional di bidang perbankan syari’ah. Salah satu caranya dengan mengembangkan sistem pendidikan yang mengintegrasikan teori dan praktik perbankan syariah dalam rangka meningkatkan integritas bank syariah di tengah-tengah masyarakat. Selain itu dengan menaikkan anggaran untuk pendidikan dan pelatihan yang dilakukan oleh pemerintah, karena pendidikan dan pelatihan yang berkualitas baik akan memiliki peluang lebih besar menghasilkan SDM yang berkualitas tinggi. Sedangkan upaya dalam peningkatan profesionalisme yang tidak hanya berkaitan dengan masalah keahlian dan keterampilan saja, namun yang jauh lebih penting adalah menyangkut komitmen moral dan etika bisnis yang mendalam atas profesi yang dijalaninya. Nilai-nilai moral agamis merupakan persyaratan mutlak yang harus dimiliki bagi pelaku perbankan syariah Kedua, jurusan atau bidang studi yang ditekuni idealnya juga harus sesuai dengan jenis pekerjaan yang digeluti. Dalam hal ini Islam sangat memperhatikan masalah kinerja (hasil atau prestasi kerja). Allah SWT menekankan urgensi pelimpahan tugas dan kewenangan kepada orang-orang yang memiliki kemampuan dalam QS. An-Nisaa’ ayat 58 yang artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat (tugas dan kewenangan) kepada yang memiliki ahliyyah (kemampuan) untuk melaksanakannya.” Dan Rasulullah SAW menyebut buruknya kinerja akibat pemberian tugas dan kewenangan kepada mereka yang tidak memiliki kemampuan sebagai saat kehancuran. Ketiga, kerjasama yang harus ada antara pemerintah dengan lembaga pendidikan, para ulama, praktisi perbankan terutama kalangan akademisi, dan termasuk masyarakat untuk melahirkan SDM Ikhsan yang tidak hanya memiliki kapabilitas dalam bidang ekonomi namun juga kapabilitas dalam bidang syariah yang mana memiliki akhlak mulia, kompeten di bidangnya dengan sifat-sifat yang dapat dipercaya (amanah), memiliki integritas yang tinggi (shiddiq), senantiasa membawa dan menyebarkan kebaikan (tabligh), dan memiliki keahlian dan pengetahuan yang handal (fathanah). Keempat, dengan memperhatikan kualitas spiritual yang dimiliki oleh para karyawan ataupun calon karyawan. Karena kehancuran itu disebabkan oleh kehancuran ataupun rusaknya jiwa ( nafs ) manusia. Hal ini di jelaskan oleh allah dalam QS Al-an’am ayat 6 yang artinya : “ ..... kemudian, kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan generasi yang lain setelah generasi mereka “ Dan seperti yang diungkapkan Gay Hendricks dan Kate Ludeman dalam buku The Corporate Mystics, 1996 yang disusun berdasarkan seribu jam wawancara dengan ratusan pengusaha sukses di Amerika Serikat. Setelah 25 tahun mendampingi 800 perusahaan-perusahaan besar, mereka menjumpai banyak aspek spiritual (mystics) di berbagai perusahaan tersebut. Dari hasil hipotesis mereka pemimpin perusahaan–perusahaan yang sukses diabad 21 adalah mereka yang memiliki jiwa spiritual yang baik. Kelima, memberikan apresiasi bagi karyawan perbankan syari’ah agar mereka termotivasi untuk mendukung perkembangan kinerja Bank Syari’ah. Dalam Islam terdapat mekanisme reward and punishment yang merupakan bukti pengakuan Islam terhadap peran motivasi dalam meningkatkan kinerja setiap manusia dalam kehidupannya di dunia. Allah SWT berfirman : “Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl : 97) Manajemen sumber daya manusia syariah yang baik adalah manajemen yang mengetahui tentang SDMnya, dan selalu melakukan suatu perencanaan berdasarkan dengan syariat islam. Satu hal yang mesti diingat bahwa manajemen SDM haruslah mengedepankan keadilan dan mendudukkan manusia pada fitrah kemanusiannya, serta menjadikan SDMnya itu sebagai SDM yang memiliki wawasan yang luas dan yang selalu tunduk terhadap aturan-aturan yang berlaku baik hukum pemerintah maupun hukum agama.

Komentar

Fresh