Jejak Kehidupan Waria Kampung Bandan | OPINI.id

Terletak di Jakarta Utara, daerah yang rencananya akan disulap menjadi stasiun megah ini ternyata memiliki dihuni banyak kaum marjinal seperti para waria. Yuk liat kehidupan mereka di sini.

Mencoba Cabut Dari Kekangan Sosial

Waria bernama Kezia sudah selesai bersolek. Sabtu malam baginya jadi malam yang panjang. Ia pun sudah siap mengamen demi mencari sedikit rupiah.

Lahir sebagai Reza, Kezia memilih menjadi waria dan tinggal di Kampung Bandan, kawasan padat penduduk miskin meski ayahnya tergolong mampu dan sudah membelikan rumah untuk anak laki-lakinya di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat.

Jalan Jauh Dengan Sepatu Hak Tinggi

Tidak sedikit para waria ini yang sakit dan harus mengkonsumsi obat letih karena setiap harinya ia harus berjalan jauh dengan menggunakan sepatu hak tinggi. Bahkan ada yang sanggup menelan sirup obat batuk sebanyak 30 bungkus agar kuat berjalan jauh saat ngamen.

Tidur di Kamar Sempit

Di kamar kontrakan berukuran 1,5 x 2,5 meter seharga 400 ribu rupiah sebulan ini, Ella dan Dede tinggal bersama. Pasangan ini sudah hidup bersama selama tujuh tahun. Dede bekerja menyewakan alat mengamen untuk para waria dengan ongkos lima puluh ribu rupiah seminggu.

27 Waria Singgah di Kampung Bandan

Terletak di kawasan Mangga Dua, Jakarta Utara, Kampung Bandan dikenal sebagai kampung waria. Saat ini ada sekitar 27 waria yang tinggal di sini, area padat penduduk di pinggir rel kereta api. Biaya sewa kamar bervariasi mulai dari 200 ribu hingga 400 ribu rupiah sebulan.

Komentar

Fresh