Kelakuan Rese Kelas Menengah Ngehe | OPINI.id

Kalian pasti tidak asing dengan istilah kelas menengah ngehe, bukan? Memang tidak ada makna khusus dari kelas menengah ngehe, tapi istilah itu mengacu pada orang-orang yang mempunyai tingkat pendapatan lumayan tinggi dibanding kelas menengah bawah. Namun, kebanyakan dari mereka banyak juga yang ngehe alias menyebalkan. Apa saja kelakukan ngehe mereka?

1. Menawar tanpa perasaan

Kebanyakan orang Indonesia rasanya kurang afdol kalau ingin membeli sesuatu tanpa menawar terlebih dahulu. Ibaratnya ingin mendapat barang bagus, tapi dengan harga yang sangat murah. Bahkan tidak jarang dari mereka melakukan penawaran dengan harga mencekik pedagang. Misalnya dari harga Rp 15.000,00 ditawar menjadi harga Rp 8.000,00. Padahal, pedagang pun juga perlu mendapat untung untuk memutar kembali uang mereka.

2. Berebut barang diskon

Kelakuan rese kelas menengah ngehe lainnya yaitu berebut barang diskon seakan-akan dunia mau kiamat. Seperti yang terjadi baru-baru ini di mana orang-orang berebut membeli sepatu yang didiskon dengan harga miring. Bukannya berlangsung dengan baik, eh malah keadaan jadi tidak terkendali. Entah kenapa kalau melihat barang diskonan bawaannya mau belanja saja walau nggak butuh-butuh amat.

3. Komentar soal fisik dan penampilan

Di internet, pasti kamu tidak asing lagi dengan meme-meme yang banyak bertebaran. Salah satunya mengenai penampilan fisik serta penampilan orang yang tidak biasa hingga menjadi bahan bercandaan. Kadang kita tertawa melihat meme tersebut, tapi pernah tidak merasakan bagaimana perasaan orang tersebut? Apakah dia ikut tertawa atau sebaliknya?!

4. Memandang rendah orang yang berbeda

Sadar atau tidak, kita selalu membuat perbandingan. Terlebih apa yang dilihat oleh mata. Misalnya saja, ada orang yang penampilannya aneh atau nyentrik, lalu kita anggap mereka gila atau aneh. Ada waktu juga di mana kita berkesan sebagai penguasa dan menindas yang dianggap lemah. Sungguh perbuatan yang ngehe.

5. Gampang berujar kebencian

Kalau dulu kita mendengar peribahasa mulutmu, harimaumu, maka di zaman media sosial saat ini peribahasa tersebut berubah menjadi jempolmu, harimaumu. Banyak orang yang tersandung kasus karena begitu mudahnya berujar kebencian, terlebih di akun komentar media sosial artis atau portal berita online tanpa berpikir dampak panjangnya seperti apa. Sudah banyak contoh orang-orang yang dipidana karena tidak bisa mengontrol jempolnya.

6. Menyerobot yang bukan hak miliknya

Menyerobot yang bukan haknya sering kali kita temui ketika sedang berada di fasilitas umum, seperti bus Transjakarta, Commuterline, bahkan trotoar jalan. Seperti contohnya kadang-kadang kamu menempati kursi prioritas yang sebenarnya diperuntukkan untuk orang lain. Namun, ketika ditegur untuk pergi eh malah marah-marah sendiri.

7. Pura-pura hidup 'sehat'

Gaya hidup sehat seakan menjadi 'dewa' baru bagi masyarakat kelas menengah. Menjadi anggota di pusat kebugaran, foto makanan hijau kemudian mengunggahnya di Instagram seakan menjadi hal biasa. Namun, apakah benar itu benar atau hanya pencitraan semata?

8. Keinginan untuk dilayani

Self-service yang sering dijumpai di luar negeri, rasanya tidak bisa diberlakukan di Indonesia. Bagaimana tidak, banyak orang di sini yang selalu minta dilayani. Memberi perintah kepada orang lain yang menurut mereka memang menjadi pekerjaannya dan tidak mengucapkan terima kasih setelah dibantu. Merasa jemawa pun menjadi kebiasaan buruk yang susah dihilangkan.

9. Nggak mau ketinggalan tren

Kantong pas-pasan, tapi jiwa sosialita adalah sebutan yang pantas disematkan untuk para kelas menengah ngehe. Mereka akan melakukan segala cara untuk selalu terlihat kekinian, walaupun dengan cara berhutang ke teman atau dengan cicilan kartu kredit. Tidak ketinggalan tren itu prinsip hidup yang harus diterapkan!

10. Menggunakan bahasa 'alien'

Kalau Bahasa Indonesia dianggap sebagai manusia, mungkin dia akan merasa sedih. Bagaimana tidak, banyak kosa kata bahasa yang diubah atas nama bahasa gaul. Kata bisa menjadi sabi, yuk jadi kuy, mabuk jadi kobam, dan berbagai perubahan lain. Tidak hanya itu ada juga kata-kata yang disingkat, seperti kentang yang maksudnya kena tanggung. Seperti bahasa alien, ya.

11. Meninggalkan orang yg menyayanginya

Tak ada yang lebih sakit dari patah hati, selain ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Begitu yang sering ditemui saat ini. Banyak alasan yang mendasari hal itu. Ketidakcocokan, perbedaan prinsip, harta, atau orang ketiga menjadi dasarnya. Hanya saja, sikap tersebut sangat menyebalkan untuk mereka yang ditinggalkan.

Komentar (5)

Fresh