Tulisan | OPINI.id

Umat Islam harus peduli dengan nasib saudara sesama muslim yang ada di Palestina

Apakah masyarakat Indonesia pedulikan kita terhadap Palestina

Indonesia ada sebuah negara yang penduduknya mayoritas adalah penganut agama Islam. Maka seharusnya kita yang mayoritas ini menunjukkan kepedulian yang lebih maksimal lagi kepada saudara kita yang ada di Palestina. Sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :"sesama muslim itu ibarat satu tubuh jika ada bagian dari tubuh kita ada yang sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya,". Sesuai sabda Rasulullah di atas maka kita harus membantu saudara kita yang ada di Palestina. Masyarakat Indonesia dalam kenyataannya sangat peduli dengan kaum muslim yang ada di Palestina, masyarakat berbondong-bondong mengadakan penggalangan dana dimana-mana. Ada yang dipinggir jalan, pusat perbelanjaan, di tempat wisata dan di masjid-masjid. Para seporter sepak bola juga tidak mau ketinggalan mereka ramai-ramai membuat koreografi bendera Palestina sebagai bentuk dukungan mereka.maka jika pertanyaannya apakah masyarakat Indonesia peduli pada kaum muslimin di Palestina atau tidak ? Maka jawabannya adalah masyarakat Indonesia sudah peduli dengan kaum muslimin yang ada di Palestina.

HOAX

Masyarakat saat ini tidak pernah lepas dengan smartphone, alasan kenapa mereka ketagihan karena ada media social yang biasanya mereka gunakan untuk memberikan kabar terkini tentang kegiatan-kegiatan mereka dan mendapatkan berita terbaru dari berbagai tempat. Berita yang mereka terima bisa terkait politik, agama, social dan hiburan, dan kebenaran berita tersebut masih dipertanyakan. Ketika mendapatkan berita dari orang lain kita langsung menyebarluaskan lagi ke orang lain tanpa mempedulikan berita tersebut benar atau salah. Fenomena ini sebenarnya pernah terjadi di zaman abu hanifah, abu hanifah ketika ingin memutuskan sebuah hukum dia lebih mementingkan pengambilan keputusannya dengan menggunakan akal dan jarang sekali mengambil pendapat dari sebuah hadist. Hal ini terjadi karena pada masa itu banyak sekali bertebaran hadist-hadist palsu. Bahkan ada satu orang yang menuliskan 6000 hadist palsu, pedagang membuat hadist palsu untuk kepentingannya, politikus membuat hadist palsu untuk kepentingannya dan pemerintah membuat hadist palsu untuk kepentingannya. Media social pada hari ini tidak dapat kita percaya kebenarannya, ada isu-isu agama, politik dan social. Banyak sekali foto-foto dan video yang sudah diedit dan beredar dimasyarakat yang patut dipertanyakan kebenarannya. Masyarakat akhirnya bingung membedakn mana berita yang benar dan mana berita yang salah. Oleh karena itu jika kita mendapatkan sebuah berita, kita lihat lagi, kita cermati lagi apakah itu berita benar atau berita yang salah. Apa yang orang lain katakan benar itu belum tentu benar bagi kita. Apa yang orang katakana salah itu belum tentu salah bagi kita. Maka upaya yang harus kita lakukan adalah jangan sembarangan menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya, sehingga masyarakat tidak menerima berita-berita yang salah lagi dikemudian hari.

PROBLEMATIKA SUMBER DAYA MANUSIA DI BANK SYARIAH

Perbankan syariah adalah lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya lagi kepada masyrakat dalam bentuk kredit, tapi dalam pelaksanaannya juga menggunakan prinsip syariah. Untuk menunjang keperluan tersebut perbankan syariah membutukan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan yang luas didalam bidang perbankan dan memiliki akhlak yang baik. Sebab, tidak mungkin perbankan syariah dapat mencapai kesuksesan tanpa adanya SDM yang berkualitas. Dalam perkembangannya perbankan syariah ternyata memililiki kendala-kendala yang ditemui, salah satu masalah yang muncul adalah permasalahan SDM. Permasalahan SDM yang sering ditemukan pada bank syariah yaitu: Pertama, banyak perbankan syariah yang tidak memiliki SDM yang memadai, banyak dari SDM perbankan yang ternyata diambil dari bank konvensional, bukan dari mereka yang memang mempelajari perbankan syariah. Kedua, minimnya SDM bank syariah, yang mestinya dengan adanya pertumbuhan perbankan syariah SDM yang tersedia juga harus mencukupi. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, bank-bank syariah masih menggunakan SDM dari perbankan konvensional, yang nanti dipoles dan dibekali dengan pengetahuan syariah. “SDM kita bikin, jadi dari konvensional dididik untuk belajar syariah. Kalau baru dari fresh graduate sulit. Jadi dengan adanya latar belakang di bank atau lembaga keuangan sehingga lebih cepat untuk mencetak tenaga-tenaga syariah.” Ujar Direktur Syariah PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Herry Hymyato. Direktur Eksekutif Perbankan Syariah BI, Edy Setiadi mengaku, saat ini industri perbankan syariah cenderung merekrut pegawainya dari bank konvensional daripada mengambil dari fresh graduate. Perbankan syariah menilai lebih baik menambahkan ilmu syariah kepada SDM bank konvensional, daripada pegawai yang masih fresh graduate yang tidak mengetahui pengetahuan bisnis perbankan. “untuk syariah ini, sekarang belum riil yang megang (pimpinan) adalah orang-prang yang murni syariah, kebanyakan pindahan dari konvensional. Nah di level pegawai-pegawai juga demikian,” tandas Edy. Ia menegaskan, salah satu upaya Bank Indonsia (BI) mengatasi masalah tersebut dengan menetapkan aturan dimana bank harus mengalokasikan 5% dari keuntungannya untuk pengembangan SDM. Selain itu, bank sentral juga berupaya meningkatkan kerjasama dengan lembaga pendidikan, yakni universitas dan perguruan tinggi untuk menyiapkan SDM perbankan yang syariah. BI juga mendorong perbankan syariah untuk percaya pada perguruan tertinggi untuk merekrut karyawannya, jadi tidak melulu harus mengambil SDM dari bank konvensional. Seharusnya dengan adanya fenomena diatas, perbankan harus mementingkan SDM yang memiliki pengetahuan yang lengkap tentang perbankan syariah. Jika bank nantinya banyak menerima SDM yang mengetahui tentang perbankan syariah, maka akan mempengaruhi kinerja bank syariah secara keseluruhan. Pada akhirnya juga bank syariah akan mendapat kepercayaan dari masyarakat, dengan adanya SDM yang mengerti Perbankan syariah secara keseluruhan dan diterapkannya konsep perbankan secara menyeluruh. Masalah yang selanjutnya adalah minimnya SDM perbankan syariah, Asosiasi Bank Syariah (Asbisindo) mengemukakan, minimnya SDM di Industri perbankan syariah masih menjadi tantangan besar kedepannya menyusul pertumbuhannya yang terus meningkat. “kebutuhan terhadap SDM perbankan syariah rata-rata sekitar 11.000 per tahun. Saat ini jumlah SDM-nya Masih minim,”kata Ketua Umum Asbisindo, Yuslam Fauzi. Yuslam mengemukakan, institusi formal pendidikan di Indonesia hanya mampu memsok SDM ekonomi dan keuangan syariah sekitar 3.750 orang pertahun. “perguruan tinggi yang memiliki konsentrasi di ilmu ekonomi syariah perkiraan kami belum cukup memenuhi kebutuhan pasar,.” Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementrian Agama, Anggito Abimanyu menambahkan. SDM di perbankan syariah masih cukup minim dan terbatas, kondisi ini berbeda dengan bank konvensional. SDM syariah juga harus jemput bola dan mampu menyampaikan instrument syaria

Semua Agama Tidak Sama

Sekarang ini kira-kira ada Sembilan ribu lebih agama dan aliran kepercayaan di atas muka bumi ini. Yang paling besar pemeluknya adalah lima agama utama; Islam, Kristen, Yudaisme, Hindu dan Buddha. Kita perhatikan lima agama itu. Jika dikatakan sama saja, dan akan sampai pada Tuhan yang sama, tentu kita akan mendapati adanya banyak kesamaan untuk hal-hal yang paling mendasar. Misalnya tentang penggambaran Tuhan. Faktanya bagaimana? Apakah mereka sama dalam memahami dan menghayati Tuhan yang disembah? Ternyata tidak! Sama sekali tidak sama! Menurut Islam, Tuhan yang berhak disembah hanya satu yaitu Allah. Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Tuhan yang menciptakan kita semua dan memberi rizki kita semua. Tuhan yang menghidupkan dan mematikan. Tuhan yang Maha Kuasa yang tidak perlu bantuan siapa pun. Tuhan yang wujud-Nya tidak memerlukan bantuan siapa pun, tidak tergantung apa pun. Dia tempat bergantung. Tuhan yang berbeda dengan semua makhluk dalam segala sifat dan dzat-Nya, maka dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tuhan yang telah ada sebelum semua yang ada di semesta ini ada, bahkan sebelum kata ada itu ada. Tuhan Yang Maha Adil, Maha Kaya, Maha Pengasih dan Penyayang. Dia tidak boleh disekutukan dengan apa pun juga. Itulah Tuhan dalam pandangan Islam. Agama Yahudi juga mempercayai satu Tuhan. Namun dalam pandangan Yahudi, Tuhan itu bisa saja memiliki sifat seperti manusia, misalnya Tuhan itu perlu istirahat dan berhenti pada hari ke-7 dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya. lni berbeda dengan konsep Islam, Allah itu mukhalafatu lil hawa ditsi, berbeda dengan semua makhluk. Allah tidak perlu istirahat. Allah tidak mengantuk, tidak tidur, tidak lelah, tidak letih, tidak bosan! Sedangkan Kristen ada sebagian gereja yang mengakui keesaan Tuhan, tetapi sebagian besar mengakui bahwa Allah itu Tritunggal. Yesus diangkat jadi Tuhan sebagai anak Tuhan dan diberi surat keputusan pengangkatan Tuhan oleh Kaisar Konstantinus, pada tahun 325 M dalam konsili yang didukung 220 uskup di Nicea. Sementara Hindu menyembah banyak dewa. Adapun Buddha tidak mengenal ajaran Tuhan dalam pemahaman sebagai Penguasa, Pengatur alam semesta yang berkepribadian yang dipercaya memiliki kekuatan Maha. Nama-nama Tuhan di dalam agama-agama itu juga berbeda. Setiap agama memiliki penyebutan yang khas. Dalam bahasa lbrani, Bahasa kitab suci agama Yahudi dan Nasrani, disebut Yahwe. Oalam Al Qur'an disebut Allah, nanti Al Qur'an menjelaskan Allah memiliki asmaul husna, nama-nama yang mulia. Dalam agama Hindu disebut Trimurti. Apakah Tuhan dari agama-agama tersebut mengacu pada Tuhan yang sama? Jawabnya sangat jelas, tidak. Karena setiap agama memiliki konsep yang berbeda dan perbedaan itu sangat signifikan. Ketika seorang Muslim shalat, yang dia bayangkan tentang Tuhan yang dia sembah sangat berbeda dengan Tuhan yang disembah orang Hindu. Tata cara penyembahannya pun berbeda. Orang Muslim menganggap yang disembah orang Hindu itu salah dan sebaliknya. Orang Kristen melihat orang Muslim, orang Hindu, orang Budha dan lain sebagainya sebagai domba-domba yang sesat. Mereka semua meskipun ahli ibadah dalam agama masing-masing masih juga sesat karena tidak menyembah Yesus Kristus, tidak mengakui ketuhanan Yesus Kristus. Ini fakta riilnya. Dalam konsep tentang Tuhan yang sangat mendasar sangat berbeda satu sama lain. Juga konsep-konsep lainnya, tentang tata cara beribadah, konsep hidup setelah mati dan lain sebagainya sangat berbeda. Jadi apakah melihat fakta ini, kita masih mau mengatakan semua agama sama? Jika kita tetap mengatakan semua agama adalah sama dan akan sampai pada puncak yang sama, maka kita telah melakukan sebuah pembodohan! Kita juga harus jujur, kalau dalam beberapa konsep hubungan antara manusia, agama-agama utama memiliki beberapa kesamaan. Misalnya, sama-sama melarang perzinahan, pembunuhan, pencurian, dan kedustaan. Sama-sama mengajarkan untuk hormat kepada kedua orang tua serta mengasihi yang lebih muda dan anak-anak. Meskipun dalam beberapa konsep banyak juga bedanya. Misalnya, Islam melarang riba sementara Yahudi membolehkannya. Dalam Islam babi itu haram di makan, dalam agama yang lain boleh dimakan. Dalam agama Hindu, sapi itu sangat dikuduskan, sementara dalam agama yang lain tidak, bahkan boleh dikonsumsi. Saat ini daging paling dikonsumsi di dunia mungkin adalah sapi. Sekali lagi ini fakta riilnya. Kita tidak bisa mengatakan semua agama adalah sama. Kita tidak perlu memaksakan agama-agama itu untuk disama-samakan. Tidak perlu. Yang penting dan perlu untuk kita perjuangkan bersama adalah kedewasaan dalam beragama. Para pemeluk-pemeluk agama harus menghayati ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh, sereligius-religiusnya, sedekatdekatnya mereka dengan Tuhan mereka. Sehingga jiwa mereka menjadi bersih. Lalu mereka hendaknya beragama secara dewasa dan memandang agama orang lain juga secara dewasa! Dari situ akan tercipta toleransi yang hakiki, toleransi yang anggun! Diambil dari novel Ayat-Ayat Cinta karya Habburrahman El-Sirazy

Pengembangan Pasar Modal Syariah

Dalam kondisi sistem kuangan yang tingkat spekulasinya lebih tinggi, sistem keuangan syariah khususnya pasar modal syariah hadir menawarkan alternatif yang menarik dibandingkan pada industri konvensionalnya yang masih mengandalkan riba sebagai fondasi dasarnya. Pasar modal syariah, seperti halnya pasar modal konvensional, merupakan komponen penting dalam sebuah sistem keuangan secara keseluruhan. Dalam praktiknya, industri pasar modal syariah mengacu pada prinsip-prinsip syariah yang operasionalnya secara umum sejalan dengan konsep Islam dalam pemerataan dan peningkatan kemakmuran. Prinsip syariah pada dasarnya bertujuan untuk memastikan keadilan dalam sebuah transaksi. Hal tersebut bertujuan untuk memastikan tidak adanya seseorang dalam melakukan sebuah transaksi. Pasar Modal Syariah menawarkan akses yang lebih luas bagi perusahaan dalam rangka mengembangkan usahanya. Pasar modal syariah juga memberikan pilihan yang lebih baik lagi dari aspek syariahnya. Pasar modal syariah dalam perjalananya harus mengalami perkembangan, karena dengan berkembangnya pasar modal syariah maka akan memberikan pilihan untuk masyarakat dalam berivestasi dalam pasar modal syariah. Untuk itu dalam upaya pengembangan pasar modal syariah, OJK selaku regulator di jasa keuangan meluncurkan Roadmap Pasar Modal Syariah dengan tema “Membangun Sinergi untuk Pasar Modal Syariah yang Tumbuh, Stabil, dan Berkelanjutan.” Melalui Roadmap tersebut, Dalam rangka mewujudkan pasar modal syariah yang tumbuh, stabil, berkelanjutan, dan akuntabel, OJK telah menetapkan 5 (lima) arah pengembangan pasar modal syariah untuk periode 2015 – 2019 yaitu: 1. Penguatan pengaturan atas produk, lembaga, dan profesi terkait pasar modal syariah. 2. Peningkatan supply dan demand produk pasar modal syariah. 3. Pengembangan sumber daya manusia dan teknologi informasi pasar modal syariah. 4. Promosi dan edukasi pasar modal syariah . 5. Koordinasi dengan pemerintah dan regulator terkait dalam rangka menciptakan sinergi kebijakan pengembangan pasar modal syariah. Strategi diatas harus ada dalam pengembangan pasar modal syariah, karena dengan melaksanakan strategi diatas bisa membuat perkembangan pasar modal syariah lebih terukur dan lebih sesuai dengan rencan pengembangan yang disampaikan OJK. Diambil dari buku Perkembangan Pasar Modal Syariah 2016

Komentar

Fresh