Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Next Video

Angka Perceraian Makin Tinggi Gara-gara Corona?

Kenaikan angka perceraian terjadi di sejumlah daerah seperti Jawa Barat, Semarang dan Maluku Utara. Penyebab perceraian kebanyakan masalah ekonomi sebagai dampak dari pandemi virus corona. Penyebab lainnya diikuti dengan perselisihan di rumah, ketidakcocokan dan KDRT.

Lonjakan tertinggi angka perceraian di Kabupaten Bandung, menurut Ahmad Sadikin Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Soreang, terjadi pada bulan Maret hingga Juni 2020. Saking tingginya, PA Soreang bahkan sempat ditutup sementara selama dua minggu pada bulan Mei karena kewalahan. PA kemudian dibuka kembali dengan pembatasan sebanyak sepuluh gugatan per harinya.

Bulan Juni menjadi bulan dengan kasus perceraian paling tinggi dengan angka mencapai 1012 gugatan. Padahal, gugatan pada bulan-bulan sebelumnya masih di angka 700 hingga 800 gugatan. Sementara bulan Agustus ini, total hingga Senin sudah mencapai 592 gugatan dan masih bisa bertambah.

Pandemi yang banyak memakan korban PHK dan mengerdilkan penghasilan suami membuat istri merasa nafkah yang diberi tak lagi cukup untuk menghidupi keluarga. Bahkan tak sedikit kasus yang menyebutkan bahwa suami tidak menafkahi istrinya lagi.

Istri yang merasa penghasilan suami menurun atau bahkan tidak diberi nafkah sama sekali, terkadang memutuskan untuk bekerja. Di sinilah bibit perceraian mulai tumbuh. Skenario selanjutnya bisa ada dua alternatif: Suami merasa tidak lagi merasa berfungsi sebagai sosok pencari nafkah sehingga muncul kecemburuan, atau suami menjadi malas bekerja dan memanfaatkan istrinya sehingga pertengkaran menjadi sulit terhindarkan.

Selain masalah ekonomi, penyebab perceraian terjadi karena keseringan berinteraksi di rumah. Sulit untuk beberapa pasangan suami istri (pasutri) yang selama pandemi terjebak di rumah untuk berinteraksi dan terlibat satu sama lain dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.

Mereka—para pasutri itu—dipaksa terbiasa mengatasi masalah yang sebenarnya bisa mereka hindari kalau seandainya pandemi Covid-19 gak pernah ada. Tapi kenyataannya beberapa bulan ini, masalah yang seharusnya gak jadi masalah keluarga harus bercampur dengan rutinitas kayak bekerja dan bersosialisasi.

Tekanan keseluruhan dari pandemi—finansial, emosional, dan fisik—maksa beberapa orang buat ngasih perhatian lebih ke pasangan mereka, bahkan lebih dari yang udah mereka lakukan sebelumnya. Semua jadi kompleks saat tegangan jadi tinggi, tapi gak ada tempat untuk pergi.
Menghabiskan lebih banyak waktu bersama dalam jarak dekat bisa ningkatin kemungkinan perceraian, dan Indonesia bukanlah negara pertama yang merasakannya.

Di China, menurut laporan Bloomberg, terjadi lonjakan perceraian usai lockdown berminggu-minggu sejak bulan Maret. Kota Xian dan Dazhou, Provinsi Sichuan mengalami jumlah gugatan perceraian yang mencapai rekor tertinggi pada awal Maret. Sama seperti kejadian di Kabupaten Bandung, hal ini juga menyebabkan antrean panjang di kantor-kantor pemerintah.

Tapi agaknya kurang bijak kalau kita nyalahin pandemi sepenuhnya atas peningkatan tingkat perceraian dan masalah hubungan. Dilansir dari Spectrum News, ahli saraf asal New York bilang banyak kliennya yang udah nyadar kalau mereka punya masalah dalam pernikahan mereka sebelum pandemi. Nah, di momen pandemi ini justru keadaan semakin buruk dan beberapa manfaatin ini jadi waktu yang tepat buat pisah dengan alasan berkurangnya komitmen, ketidakcocokan, perselingkuhan, atau konflik yang terus-menerus.

RECOMMENDATION