Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media

BAHAGIA
DI ERA YANG
MENGUTAMAKAN
PERMUKAAN

By Adriano Qalbi



Sebelum saya mulai menuliskan topik ini, perlu disampaikan bahwa, besar harapan saya agar tidak dianggap sebagai influencer yang bertemakan “acceptance”, “love yourself” atau hal-hal sendu dan dalam lainnya.

Saya Adriano Qalbi di sini, seorang komedian. Seseorang yang sangat berharap kemajuan teknologi berhenti sampai di awal 2000an saja. Saat kamera belum menjamur, semua belum terhubung, dan yang pasti belum banyak yang tersinggung. Ingin sekali lahir dan berkarya di masa lalu, tapi nasib malah menentukan lain. Saya jadi berada satu zaman dengan seseorang yang memakai bandana dan pernikahannya disaksikan Presiden Republik Indonesia.

Sesungguhnya saya sangat menanti saat dimana media sosial dinyatakan sangat berbahaya. Lebih berbahaya dari rokok. Karena untuk membeli rokok masih ada peraturan di atas 21 tahun, tapi kalo media sosial, bebas usia.

Tapi pada kenyataannya tidak akan mungkin terjadi, jika kebanyakan orang suka, mengapa bisa jadi pengaruh yang buruk? Kan “vox populi vox dei”. Percayalah, sudah dibahas di tulisan sebelumnya, bahwa banyak tidak menjamin kebenaran.

MENCARI KEBAHAGIAAN


Entah karena umur yang sudah tidak bisa mengejar kemajuan. Tapi semua kemajuan yang ada, seperti sengaja ditemukan, hanya untuk membuat diri saya kesal. Orang tua saya saja, saya yakin tidak sekesal ini saat belajar dengan SMS, dibanding saya berhadapan dengan Tiktok.

Entah dari kapan, mencari kebahagiaan menjadi tujuan hidup manusia, dan tujuan ini pun lintas budaya, tidak terkekang di satu tempat. Saya selalu penasaran siapa yang memprakarsainya, dan bagaimana mengutarakannya. Karena saya yakin, rasa tidak bahagia ada lebih dahulu, daripada kata bahagia itu sendiri.

Apakah seorang anak yang bilang terhadap orang tuanya “Pokoknya aku ngga mau jadi Firaun berikutnya”, dan meninggalkan ayahnya dalam kebingungan, “Kalau tidak mau jadi Firaun, kamu mau jadi apa?”.

Saya juga meyakini, bentuknya sangat abstrak. Seperti contoh yang sudah dibahas, adanya dalam pilihan hidup, hubungan, perjuangan, perasaan, kebebasan dan mungkin masih banyak lagi. Bentuknya tidak solid atau materil, jika iya, mungkin dongeng Aladin berakhir saat jin keluar untuk mengabulkan tiga permintaan, dan Aladin menjawab, harta, tahta dan wanita. Puff. Tamat!


Cerita mereka pun bisa beragam dan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ada teman yang membayar SPP sebesar Rp100.000 saja (pada tahun 2000), keluarganya tidak mampu dan harus mendapatkan bantuan karena berprestasi. Ada teman saya yang ketika kami pergi bersama-sama naik mobil, itu adalah pertama kalinya dia naik kendaraan berpendingin selain taksi dan Patas AC.

Maafkan jika ada SJW yang tersinggung, kenapa wanita menjadi permintaan. Karena penulis merupakan lelaki, saya tidak berani berasumsi, apa tiga pilihan teratas jika wanita yang memintanya. (sebetulnya apa sih tiga pilihan teratas wanita?)

Bentuknya sangatlah introspektive, tidaklah ekstrospektive. Ini konsisten dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu. Semua budaya memiliki kisah yang sama. Hebat bukan? Tidak ada yang mengusung, tidak ada yang mengajari.



Beda dari pemujaan sebuah pergerakan, tapi seluruh manusia paham akan konsep ini. Dan lebih hebat lagi, tidak syarat kemajuan atau teknologi. Tanpa koran, tanpa listrik, Siti Nurbaya pun tahu lebih baik mati daripada menikahi Datuak Maringgih.

Dan, yang menjadi lawan kebahagiaan bentuknya juga sangat ekstospektive. Seperti, cemburu, iri, marah, benci dan lain-lain. Semua perasaan ini keluar saat kita melihat rumput tetangga, apa pun aspeknya. Bisa karena beda gaji, beda pasangan, dikecewakan dan lain-lain. Lalu, bagaimana kita bisa melihat ke dalam, jika kita secara konstan terhubung dengan yang lain?

Saya ingat saat SMA, mengetahui ada anak orang kaya satu sekolah, yang jika terlalu sering bergaul dengannya, saya jadi tersadar, hidup saya banyak kurangnya. Mulai dari mobil mewah, sampai bisa minum air dingin dari dispenser.

Tapi dulu hal yang mudah untuk dihindari, saat akhir pekan tiba, saya hanya tidak perlu bergaul dengannya, dan masalah hilang. Saat pindah tingkat pun, saya langsung tidak menjadi temannya lagi.

Dan saya ingat betapa mengerikannya saat pindah dari industri periklanan untuk mencoba stand-up comedy. Bukan transisi perpindahan bidangnya, tapi saat itu sedang marak twitter, dan untuk pertama kalinya, hidup saya terbuka untuk kritik dari orang yang tidak saya kenal, dan secara konstan terbarui tentang kemajuan pencapaian pelaku stand-up lainnya. Baru sekali seumur hidup rasanya, saya merasa kesal dengan pencapaian orang lain, karena saya merasa saya penampil yang lebih baik.



Mungkin saya memang memiliki sifat iri, tapi kemajuan konektivitas juga mengamplifikasinya jadi lebih jauh. Mungkin dulu hanya iri di kepala saja, sampai akhirnya tertidur.

Tapi sekarang, berapa banyak manusia, sambil menunggu kantuk, menggulirkan konten demi konten, membakar api iri, sebelum tidur. Meratapi kehidupan anak orang kaya yang satu sekolah, meski di akhir pekan. Saya bersyukur tidak mengalami masa remaja di era ini.

Susah move-on, itu istilah yang sering digunakan akhir-akhir ini untuk mengekspresikan kesulitan melewati duka dari hubungan yang telah berlalu. Bagaimana tidak semakin sulit, lingkungan teknologinya tidak mengijinkan untuk itu.

Semua jejak digital terekam selama-lamanya. Dan kita harus kuat untuk, menghapusnya satu per satu atau tidak mengaksesnya sama sekali. Tapi di sisi lain, perangkatnya pergi ke mana pun kita pergi.

Karena untuk mencarinya harus melihat ke dalam. Lalu bagaimana cara melihatnya dengan jelas, jika distraksi dari luarnya sangat besar? Bicara tanpa riset, hanya mengandalkan opini, saya sebetulnya yakin, inilah era dimana manusia sebetulnya paling tidak bahagia.

CARA BAHAGIA?


Selain tentang obsesi diri, menurut saya, cara untuk berbahagia adalah untuk melepaskan yang penting. Belum lama, saya ada dalam pembicaraan dengan salah satu rekan kerja. Lagu Glenn Fredly sedang terputar di mobil. Kami berdua mengenang kembali perjalanan hidup Glenn, sudah setahun lebih beliau meninggalkan kita. Beliau meninggal di usia 44, kami berusia 37-38. Kepergian beliau ini merupakan pukulan telak bagi kami. Karena hidup kami cukup beririsan dengan beliau.

Buat kami yang usianya tidak terpaut jauh, kematian terasa dekat sekali. Kami berbicara kurang lebih 1 jam, dan pembicaraan ini membuat saya bercermin dengan hidup saya. Dulu, setelah lulus, buat saya yang paling penting itu adalah karir, pencapaian, pengakuan. Jujur, saya tidak pernah terpikir hal yang lain.

Tapi setelah memasuki paruh 30, dan berpulangnya Beliau, ternyata karir, pencapaian yang saya agung-agungkan langsung menguap seketika. Terdengar sangat kontemplatif, tapi itulah adanya. Beliau yang begitu besar dan dipuja banyak orang saja lenyap, apalagi saya, selebriti kurang terkenal ini.



Mungkin sudah dimulai dari dulu, tapi untuk saya, dari tahun 2011an dalam penggarapan film Cahaya dari Timur, beliau banyak memfokuskan untuk memberikan kembali, khususnya tentang Ambon, tempat beliau berasal. Advokasi dan aksi sosial beliau yang kini masih bisa dirasakan dampaknya. Bukan ketenarannya.

Apa jika hidup ingin maju atau bermakna, kita harus bawa beban, bukan taruh beban? Dulu saya berpikir, untuk meninggalkan semua beban, agar menjadi ringan dan cepat mencapai kemajuan. Yang ada, hanya terbawa ke jalan yang tak berujung.

Hidup hanya dengan membawa obsesi diri, nampaknya tidak akan memberikan makna lebih. Apalagi di usia 30an, hidup mendadak sepi. Kalau 20an masih banyak kekacauan yang bisa mewarnai, tapi di 30an mungkin kita hanya hidup dengan 4-5 teman saja.

Jika pertanyaannya dibalik, bukan mengapa kita tidak bahagia? Tapi bagaimana bisa memberikan kebahagiaan? Mungkin hidup ada jawabannya, bertanya kepada diri sendiri, mengapa hidup tidak bahagia itu, seperti mengisi cawan tanpa dasar. Tidak akan penuh.

Lalu apa hubungannya pembahasan ini dengan era sekarang? Yang menarik adalah, dulu kita berpikir, mungkin manusia itu bodoh karena tidak ada informasi. Jika saja kita bisa terhubung dan bersatu, manusia akan menuju perubahan yang lebih baik.

Tapi sekarang, kita tahu dari dua pengandaian itu salah. Karena, informasi sekarang sudah bebas, dan semua sudah terhubung. Dan kita masih begini-begini saja.

Yang ada, malah makin menegaskan sifat-sifat jelek manusia. Betul, sekarang menjadi era yang lebih memberi kesempatan untuk banyak orang, tapi saya rasa itu hanya 20%. 80% sisanya hanya kembali kepada ketamakan masing-masing.



Saya punya teori, dan ini bisa Anda cek sendiri. Semua aplikasi yang sukses pasti mengandung satu atau lebih dari tujuh dosa pokok. Kesombongan, ketamakan, iri, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, dan kemalasan. Coba saja cek, media sosial, aplikasi jodoh, layanan antar makanan, dan lain-lain, memfasilitasi dosa pokok yang mana? Jika Anda ingin membuat start-up, tujuh dosa pokok ini bisa dijadikan dasar dalam membuat ide. Jika cuan, tolong hubungi saya untuk bagi hasil. Karena kebaikan tidak bisa viral.

Jadi sejauh ini sudah ada dua hal besar yang sudah dibahas. Yang pertama, jangan melihat orang lain dan yang kedua, jangan terlalu melihat diri sendiri. Sungguh merupakan batasan yang tipis dan terdengar sangat paradox. Tapi yang pasti, aksi melepaskan harus dibiasakan. Melepaskan diri dari perbandingan, melepaskan diri dari diri sendiri.

Yang terakhir saya sarankan adalah, menulislah. Ciptakan ruang sunyi dan netral dari semua bentuk penilaian. Kenali cara berpikir Anda sendiri. Tuang semua bentuk kecemasan tanpa harus memikirkan kesimpulan. Lalu baca kembali.

Saat Anda sudah berani menuangkan dan berkenalan kembali dengan siapa diri Anda yang sesungguhnya, barulah Anda benar-benar merdeka.

Tentunya semua usaha ini tidak perlu lagi dipamerkan di media sosial. Jika iya, semua bentuk pencarian kebahagian ini akan sia-sia.

Ada nasehat, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Tentunya nasehat ini valid karena penulisnya tidak pernah berpikir ada dunia dengan media sosial. Tapi setelah ada, nasehat ini sudah tidak berlaku.

Menurut saya ini hanya akan mendorong ke dalam kegilaan baru, dimana kebaikan bisa dipamerkan. Sungguh dunia yang menjijikan.



TEMUKAN TULISAN ADRIANO QALBI LAINNYA

HANYA DI