Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media

MENGOTAK-
KOTAKKAN DIRI
SENDIRI

By Adriano Qalbi



Halo, jumpa kembali di tulisan saya, Adriano Qalbi. Seorang komedian dan podcaster. Kali ini datang sebagai pengamat sosial, orang judgemental lebih tepatnya. Sampai saat ini masih berusaha menjalani hidup semerdeka mungkin. Menjalani apa yang diyakini tapi tidak ingin mati konyol. Karena hidup juga memiliki kebutuhannya sendiri yang harus dipenuhi agar tetap hidup.

Kali ini saya berusaha membagikan apa yang saya pelajari dan lewati sebagai manusia yang telah hidup 37 tahun. Sebagai yang lulus SMA di tahun 2000-an, meski internet belum secepat sekarang, tapi slogan “hidup harus dengan passion” tersebar dan terdengar sangat nyaring.

Slogan “Hidup harus dengan passion” tiba-tiba langsung menghapuskan minat dari profesi-profesi yang sifatnya konvensional. Profesi-profesi yang sudah ada sejak lama, langsung terdengar usang, seperti PNS, pegawai bank, bahkan dokter dan lain-lain.

Slogan ini sangatlah menipu. Betul harus hidup dengan passion, tapi di bidang apa pun baiknya dikerjakan dengan passion. Disebabkan oleh keadaan media yang berubah, kata passion menggiring kita untuk menuju bidang kreatif. Permasalahannya, tidak semua orang cocok bekerja di bidang kreatif.

Menyebut sebuah bidang, ini yang kreatif, ini tidak, juga merupakan kesalahan. Karena sesungguhnya kreativitas adalah syarat agar unggul di segala bidang. Dokter atau akuntan yang tidak kreatif pun akan kalah menghadapi kesulitan yang belum pernah dipelajarinya. Perlu diingat, pada dunia nyata, kita seringkali berhadapan dengan masalah, yang tidak kita pelajari saat sekolah. Dan, pada saat itulah kreativitas dibutuhkan.

PNS, bankir, dan dokter merupakan profesi yang mulia, hanya karena era ketika ojol yang berpenghasilan Rp 30 juta sudah lewat. Ketiga profesi ini tetap ada di levelnya. Mengabdi pada negara, mengerti keuangan juga menyelamatkan nyawa, sampai kapan pun akan memiliki prestise yang jauh lebih mulia dari bidang kreatif.

Saya pun terbawa dengan arus ini. Berusaha melawan arus dari lulusan SMA, yang kalau diingat sekarang tampaknya saya hanya tidak siap bersaing. Saya pun memilih bidang periklanan, karena merasa inilah idealisme saya. Inilah bidang yang dapat merepresentasikan saya. Dan saya langsung memasang kacamata kuda.

TERKOTAK-KOTAKKAN


Pada akhirnya memang tidak salah memilih bidang ini, tapi yang saya ingin tekankan adalah proses memilihnya. Proses berpikir saya pada saat itu adalah, kalau jadi dokter tidak mungkin, lalu bankir, akuntan dan pengacara itu adalah profesi basi. Lalu saya berfikir, apa yang ada bau-bau kreatif, biar masih passion, tapi masih kantoran, karena kalau jadi seniman saya dilarang. Keluarlah, periklanan! Bukan karena yakin, tapi karena inilah jalan tengah yang diperbolehkan. Dan ini saya putuskan tanpa pernah mencoba atau meneliti bidang lain lebih dalam.

Saya hari ini adalah hasil dari karir periklanan, tapi perlu diingat, ini merupakan industri media. Industri dengan tingkat pengembangan yang sangat cepat, dan turnover yang sangat tinggi. Jika tidak adaptif, bisa cepat ditinggalkan. Dan tidak harus S1 untuk berkecimpung di dunia ini. Beda seperti, hukum, arsitek atau kedokteran, saya mengenal banyak, pelaku dengan pendidikan lebih rendah tapi karir lebih unggul.

Lalu, karena industrinya sangat berubah-ubah, 80% yang saya pelajari sudah tidak berlaku. Dan, pada saat berwiraswasta berekanan dengan Visinema atau MLI, apa yang ilmu yang paling saya butuhkan saat ini? Akuntansi. Lalu, mengapa saya menganggap remeh bidang tersebut hanya kurang terdengar passion.


Entah dari mana asalnya, tiba-tiba manusia terkotak-kotakkan, hidup dengan satu keahlian. Mungkin berawal di tahun 80-an di Amerika Serikat, dimana manusia yang unggul itu manusia yang memiliki spesialisme dalam sebuah bidang dan mengenyampingkan lainnya. Atau, sudah dimulai dari jaman sekolah. Dimana yang pintar akademik, tidak berkesenian. Yang berkesenian, tidak atletis. Yang atletis, tidak pintar. Padahal yang baik, manusia itu holistik.

Kita ambil contoh, Leonardo Da Vinci. Beliau mungkin paling dikenal sebagai seniman, tapi sejarah hidupnya menunjukan, beliau merupakan, arsitek, insinyur, ilmuwan dan masih banyak lagi. Beliau bahkan salah satu orang pertama yang mengenal anatomi tubuh manusia. Di banding dengan spesialis seni jaman sekarang. Hanya memiliki satu kebisaan, dan karyanya pun tidak ada yang sebanding dengan Da Vinci. Lalu, mengapa kita mengkotak-kotakan diri sendiri.

Banyak hal yang sudah kita putuskan berdasarkan kemauan, bukan kebisaan. Kemauan itu dekat sekali dengan ego. Ego yang ingin hidup idealis tanpa pernah merasakan kegagalan. Jika memulai hidup dengan kebisaan, kita akan terekspos dengan banyak percobaan, dan percobaan itu dekat dengan kegagalan. Konsep ini yang kita tidak dapat terima secara ego.



Seperti banyaknya wirausahawan, yang memulai di usia muda, langsung mengucap “saya sih tidak bisa bekerja dengan orang lain”. Oh ya? Tidak bisa apa tidak mau? Memang sudah berapa banyak aplikasi yang dilemparkan? Pernah dipecat berapa kali? Apa hal-hal yang menyebabkan tidak bisa?

Jika hal-hal di atas adalah sebuah taruhan, saya akan taruh semua aset saya pada “tidak pernah mencoba” bukan “tidak bisa”. Karena pada kenyataannya, ini hanya sebuah pernyataan tanpa ujicoba. Sebuah slogan yang tidak akan pernah percayai jika tertera dikotak obat “ampuh tapi tidak pernah diujicoba”. Ini awal kebohongan kecil yang kerap kita bilang ke diri kita, untuk menjebak diri sendiri dalam mengambil keputusan.

Dan kata-kata passion juga merupakan jebakan lainnya. Kata Passion, berasal dari kata latin Passio yang artinya, to suffer, untuk menderita. Dan baru mengalami pergeseran makna, seakan dekat dengan yang kita mengerti, yaitu saat abad 15-16, waktu karya seperti Romeo dan Juliet keluar.

Semua orang mulai menyebutnya seperti Passionate Love. Makanya kita mulai mengasosiasikan passion itu kesukaan, atau mengejar yang kita suka. Tapi arti sesungguhnya dari Passionate Love adalah, cinta yang tak sampai, cinta yang menderita. Oleh karena itu Romeo pun akhirnya membunuh dirinya karena cintanya yang tak sampai.



Saya teringat film yang disutradarai Mel Gibson pada tahun 2004, yang berjudul Passion of The Christ (mungkin sebagian besar pembaca ini tidak ingat atau belum lahir). Saya menonton film tersebut dengan harapan mengetahui apa hobi Yesus saat kecil, apa ada cita-cita yang tidak kesampaian, atau ditentang orang tuanya? Tapi, film ini hanya menceritakan detik-detik akhir saat penyaliban Yesus. Mengingat asal kata Passion, saya jadi tersadar, Passion of the Christ itu adalah Suffering of Jesus alias, penderitaan yang dialami Yesus.

Jika Anda yang membaca ini bekerja dengan passion, tapi karir mandek, merasa tidak kerasaan, kerap bergaya muda padahal sudah lewat masanya, hidup terus merasa berat dan tidak pernah menemukan ketenangannya, janganlah heran. Karena pada hakikatnya, Anda memilih penderitaan Anda sendiri. Itulah arti passion yang sesungguhnya.

Mewujudkan cita-cita atau impian, hidup dengan passion, merupakan sedikit banyak jargon yang kita telan sebelum kita mengeksplorasi diri kita sendiri. Tapi perlu diingat, cita-cita hidup seringkali membutuhkan waktu seumur hidup untuk mewujudkannya. Dan pada saat tercapai, kita tidak punya lagi waktu tersisa untuk menikmatinya lagi.

Dan apakah ini hanya satu-satunya jalan hidup? Mengapa segala sesuatunya harus menjadi berat dan besar seperti hidup harus mewujudkan impian? Mengapa tidak bisa menjadi simpel dan kecil? Melakukan banyak percobaan dan kegagalan. Menggapai kesempatan bukan kemauan. Apakah saat hidup, Leonardo Da Vinci berpikir, saya ingin menjadi artis, jika tidak, lebih baik saya tidak hidup? (sebuah eksagerasi yang sering diucapkan oleh orang-orang yang hidup dengan passion)

Saya yakin pemikiran seperti ini sangat dipengaruhi media dan bukan datang dari diri sendiri. Semua ingin terkenal, semua ingin kaya, bagaimana cara mewujudkannya? Dengan mengejar yang kita suka.

IDEALISME


Jika Leonardo Da Vinci hidup ada di era Instagram, beliau juga akan segera membuang lukisan Monalisa jika likesnya tidak banyak. Sedangkan, lukisan tersebut tidak pernah diperuntukkan untuk dipamerkan. Hanya sebuah lukisan yang selalu beliau bawa untuk menemani dirinya. Sisanya beliau melanjutkan hidupnya dari satu kesempatan ke kesempatan lainnya.

Lalu apa arti idealisme? Tan Malaka bilang “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki para pemuda”. Mungkin karena terlalu asik pada saat muda mengejar idealisme, dan masa tua hanya berisikan tuntutan dan tanggung jawab. Sebuah gambaran masa tua yang kelam.

Setelah mengetahui apa yang saya ketahui sekarang, idealisme sering kali hanya ketakutan yang menyamar. Menunjuk sebuah bidang dan memproklamirkan bahwa ini yang saya akan lakukan, seperti membeli mobil tanpa test drive. Hanya terpesona image tanpa tahu fungsi yang sebenarnya.

Idealisme bukanlah sebuah prinsip. Idealisme hanyalah kesempatan yang kita lewatkan demi impian di depan yang belum jelas tergambar. Sebuah taruhan yang sangat besar.



Banyak sekali orang yang terjebak ambisi dan impiannya sendiri, tidak mengganti haluan, dan tidak sanggup menjilat ludah sendiri. Padahal jilat saja. Memang sebaiknya tidak pernah menjilat ludah sendiri, tapi ludah siapa lagi yang bisa dijilat selain ludah sendiri. Bukankah mengakui kesalahan itu tanda kemajuan yang pertama?

Manusia tidak terlepas dari kepolosan dan kesalahannya.

Memutar haluan bukanlah hal yang mudah.

Tapi milikilah ambisi-ambisi mikro dalam menjalankan setiap kesempatan yang hadir di depan kita. Kita tidak akan pernah tahu kemana kesempatan-kesempatan kecil ini akan membawa kita kedepannya. Dan jadilah pribadi yang tangguh dalam menghadapi kegagalan di setiap kesempatan. Saya percaya ini jalan yang lebih baik dibandingkan dengan memilih jalan yang asik dipikirkan, hanya dalam kepala sendiri. Jadilah pribadi yang penuh dan utuh. Jangan terlalu cepat menyimpulkan hanya karena satu kebisaan.



NANTIKAN TULISAN ADRIANO QALBI BERIKUTNYA

JUMAT, 25 JUNI 2021

HANYA DI