Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#lifestyle

Studi: Agama yang Lo Anut Pengaruhi Bentuk Hantu yang Lo Lihat

Psikolog punya studi yang simpulkan bahwa agama yang lo anut pengaruhi bentuk hantu yang lo lihat. Kalo gak percaya agama gimana?

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Film horror kebanyakan merupakan karya fiksi, tapi gak sedikit juga yang berdasarkan kisah nyata. Pertemuan karakter dalam film horror dengan makhluk halus adalah penggambaram pengalaman manusia yang umum. Psikolog punya alasan di baliknya sebagai dan studi menyimpulkan bahwa agama yang lo anut pengaruhi bentuk hantu yang lo lihat.

Photo by Stefano Pollio on Unsplash
Photo by Stefano Pollio on Unsplash

The Sensed Presence

Saat individu menyadari keberadaan makhluk halus, itu artinya individu tersebut sedang merasakan “the sensed presence” atau secara harfiah artinya “kehadiran yang dirasakan”. Biasanya hal ini terjadi pada individu yang terisolasi di lingkungan yang ekstrem, tidak biasa, atau sedang berada dalam tingkat stres yang tinggi.

Individu-individu tersebut merasakan kehadiran yang dapat berkisar dari perasaan samar-samar hingga entitas yang terlihat jelas seperti dewa, roh, leluhur, atau seseorang yang secara pribadi dikenal. Kehadiran tersebut biasanya muncul di lingkungan yang minim stimulasi fisik dan sosial atau suhu yang rendah, contohnya seperti tempat yang sepi, gelap, dan waktu ketika malam.

Perubahan sensasi dan kesadaran manusia disebabkan oleh perubahan kimia otak yang dipicu oleh stres, hipotermia, kekurangan oksigen, stimulasi monoton, atau penumpukan hormon.

Misalnya, individu yang berduka karena kehilangan orang yang dicintainya biasanya menghindari kontak sosial dengan orang lain dan jarang meninggalkan rumah. Kesepian, isolasi, ditambah tingkat stres yang tinggi sangat rentan menghasilkan kondisi yang bisa memicu tubuh menerima “kunjungan”.

Studi bertajuk “The Hallucinations of Widowhood” tahun 1971 menunjukkan bahwa hampir setengah dari lansia Amerika Serikat yang ditinggal mati suaminya berhalusinasi terhadap pasangan mereka. Komunikasi setelah kematian seperti itu sebenarnya tampak sebagai coping mechanism yang sehat dan bagian normal dari proses berkabung.

Otak Dirancang untuk Mengonstruksi Bentuk Hantu

Ada bukti bahwa otak kita dirancang untuk melihat hantu, namun penampakan yang masing-masing individu lihat cenderung bervariasi.

Psikolog bernama Peter Suedfeld juga setuju akan hal tersebut dan berpikir bahwa apa yang kita lakukan secara kognitif berperan akan bervariasinya wujud hantu. Menurut Suedfeld, kita bisa menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk memperhatikan dan memproses rangsangan eksternal dan lingkungan dari dunia fisik di sekitar kita.

Ia juga mempelajari keterangan manusia yang mengaku pernah melihat hantu sepanjang waktu dan berkesimpulan bahwa hantu bisa datang dalam berbagai bentuk. Beberapa menghantui individu, muncul dalam mimpi, atau dalam waktu yang tak terduga.

Apa yang membuat perbedaan seperti itu? Dan apakah beberapa orang lebih mungkin melihat hantu daripada yang lain? Latar belakang agama adalah salah satu jawabannya.

Pengaruhnya dengan Agama yang Kita Anut

Beberapa peneliti berpendapat bahwa agama bisa berfungsi sebagai cara praktis untuk menghilangkan ketidakpastian terhadap hal paling menakutkan yang bisa manusia bayangkan, yakni kematian.

Hampir setiap agama memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi pada manusia setelah mati dengan jaminan bahwa kematian bukanlah akhir. Ini yang menyebabkan beberapa orang yang sangat religius tidak takut mati seperti orang lain.

Photo by Noah Holm on Unsplash
Photo by Noah Holm on Unsplash

Agama-agama samawi seperti Islam, Protestan, dan Katolik percaya pada hari kebangkitan dan penghakiman, di mana jiwa tiap individu nanti diarahkan ke surga atau neraka, berdasarkan perbuatan selama di dunia.

Berbeda dengan umat ​​​​Buddha dan Hindu yang percaya pada siklus kematian dan reinkarnasi yang pada akhirnya dapat menghasilkan keadaan spiritual permanen. Bahkan Yahudi yang tidak terlalu fokus pada kehidupan setelah kematian, menganggap bahwa kehidupan setelah kematian memang ada.

Namun, peran agama dalam meredakan kecemasan kita tentang kematian juga punya dampak buruk, yakni meningkatkan kegelisahan tentang hantu, roh, dan makhluk gaib lainnya. Bagaimanapun juga, ini mungkin tergantung pada seberapa religius seorang manusia.

Mereka yang beragama namun jarang beribadah terbukti dua kali lebih mungkin untuk percaya pada hantu daripada mereka yang religius dan sangat taat agama.

Dengan sebagian besar agama yang menggambarkan keberadaan nabi, dewa, roh, malaikat, dan mukjizat-mukjizat di antaranya, prinsip keyakinan agama mungkin membentuk apa yang manusia lihat.

Misalnya, umat Katolik di Eropa Abad Pertengahan yang menganggap hantu sebagai jiwa yang tersiksa dari orang-orang yang menderita karena dosa-dosa mereka di api penyucian. Tetapi selama Reformasi Protestan, umatnya percaya bahwa jiwa akan segera pergi ke surga atau neraka, aktivitas supranatural dianggap sebagai pekerjaan malaikat, setan atau makhluk gaib lainnya yang jelas bukan manusia.

Sementara sebagian besar Protestan saat ini diam tentang keberadaan hantu, beda dengan Katolik yang setuju dengan keberadaan hantu. Umat ​​Katolik percaya bahwa Tuhan mungkin mengizinkan orang mati untuk mengunjungi manusia-manusia di dunia, namun gereja secara tradisional mengutuk kegiatan seperti pemanggilan arwah dan papan Ouija.

Photo by Wisnu Widjojo on Unsplash
Photo by Wisnu Widjojo on Unsplash

Buddha dan Hindu percaya akan keberadaan hantu, tapi hantu hanya memainkan peran kecil dalam agama itu sendiri. Bagi umat Hindu, hantu adalah jiwa individu yang mengalami kematian akibat kekerasan atau orang yang tidak diberikan ritual kematian yang layak. Sementara dalam Buddha, hantu adalah individu yang bereinkarnasi dan mungkin sedang menjalani karma buruk.

Umat Islam tidak percaya bahwa orang mati dapat kembali sebagai hantu, jadi jika seorang Muslim mengira dia bertemu hantu, itu dianggap sebagai jin atau makhluk bersifat campuran spiritual dan fisik, yang niatnya bisa jahat atau baik, tergantung pada situasi.

Letak geografis, latar belakang budaya, dan sejarah suatu bangsa juga memengaruhi bentuk hantu yang dilihat oleh manusia. Itu sebabnya hantu di Indonesia sangat berbeda dengan hantu-hantu yang ada di film horror Barat. Itu sebabnya mungkin beberapa di antara kita lebih takut nonton film hantu lokal daripada Conjuring dan lain sebagainya.

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation