Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#lifestyle

Bisa Bikin Pingsan, Dampak Mengorek Telinga dengan Cotton Bud

Kebiasaan ini emang enak, sih. Tapi dampak mengorek telinga justru bikin alat pendengar kita makin kotor, loh.

Reza Rizaldy  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Sudah gak perlu diperdebatkan lagi, fakta bahwa kebiasaan korek telinga adalah kenikmatan yang haqiqi. Apalagi jika dilakukan sehabis mandi (Beeuh, nikmat). Berapa cotton bud bisa kamu habiskan dalam seminggu? Hati-hati, dampak mengorek telinga bisa bikin pingsan, loh.

Sebenarnya, membersihkan telinga dengan cotton bud adalah kebiasaan buruk yang perlu dihindari. Selain membahayakan buat kesehatan telinga, nyatanya telinga kita gak perlu dibersihkan, kok. Ternyata organ canggih ini punya mode auto bersih, loh.

Dokter bedah asal Singapura, dr Ker Liang menjelaskan bagaimana telinga manusia memiliki mekanisme auto bersih-bersih sendiri. Gak disarankan untuk membersihkan telinga dengan cotton bud.

“Kulit baru tumbuh dari bagian telinga yang lebih dalam dan bermigrasi ke luar. Saat bermigrasi ke luar, kotoran telinga bergerak bersama dengan kulit baru, dan dikosongkan dari telinga secara alami” ungkapnya dikutip dari Channel News Asia.

Dampak mengorek telinga buat kesehatan/Envato
Dampak mengorek telinga buat kesehatan/Envato

Kotoran telinga secara medis dikenal sebagai serumen, memiliki fungsi pelindung. Ini adalah zat berminyak yang diproduksi oleh bagian luar saluran telinga yang berbulu untuk menjebak, dan mencegah bakteri dan kotoran masuk lebih jauh ke dalam saluran telinga. Minyak ini juga berfungsi sebagai anti bakteri untuk mencegah kulit liang telinga kering dan bersisik yang sebabkan gatal-gatal, infeksi dan iritasi.

Dokter spesialis THT RS Indriati Solo, dr Hutami Laksmi Dewi menyebutkan serumen mampu keluar sendiri dari rongga telinga karena mekanisme otot pipi saat seseorang mengunyah makanan.

Ia menyebutkan dampak mengorek telinga dengan cotton bud bisa mendorong serumen jauh ke dalam telinga. Hingga menyebabkan telinga luka. “Banyak pasien datang gendang telinganya bolong karena tertusuk cotton bud. Ada juga yang berdarah,” katanya dikutip Kompas.

Bahkan, penggunaan cotton bud bisa merangsang saraf vagus di telinga menimbulkan efek pusing berputar hingga pingsan.

Ilustrasi telinga yang sehat punya mekanisme bersih-bersih sendiri/Unsplash
Ilustrasi telinga yang sehat punya mekanisme bersih-bersih sendiri/Unsplash

Cara Menghentikan Kebiasaan Mengorek Telinga

Dr Ker menegaskan ada salah kaprah yang membuat seseorang kebiasaan mengorek telinga. Serumen dianggap sebagai suatu yang menjijikkan dan gak higienis sehingga membuat orang bersihkan telinga setiap hari.

Tonton juga:

Sebuah studi terbaru dari Universitas Georgetown Malaysia, menyebut bahwa gaya hidup ayah punya pengaruh besar pada kesehatan anak di masa depan.

Selain itu, yang mesti dipahami adalah membuang kotoran telinga rentan terhadap penyakit dan komplikasi telinga. “Dengan pemahaman ini akan lebih mudah untuk menghentikan kebiasaan tersebut,” tegasnya.

Cara Membersihkan Telinga Kalau Kepepet

Dr Ker dan dr Hutami gak bisa memungkiri kadang rasa gatal di telinga sangat mengganggu dan memaksa orang untuk mengorek rongga pendengar ini. Atau kadang ada orang yang perlu mengorek telinga karena merasa tersumbat.

Kedua dokter ini mengingatkan orang untuk gak melakukan pembersihan telinga dengan cotton bud. Berikut cara membersihkan telinga yang aman saran dari dua dokter tersebut:

1. Celupkan kapas dengan air hangat, dan linting
2. Kapas dimasukkan perlahan ke dalam rongga telinga sampai batas tengah rongga.
3. Gerakkan kapas dari dalam ke luar dan putar searah jarum jam
4. Basuh permukaan rongga telinga sehabis mandi pakai handuk kering
5. Jika telinga tersumbat air cukup miringkan kepala sesuai telinga yang mampat ke arah lantai dan pijat perlahan di bagian pipi dekat telinga.

Membersihkan telinga setiap hari dengan cotton bud sangat gak dianjurkan. Kalau ingin membersihkan serumen yang berlebihan bisa dilakukan lewat dokter 6 bulan sekali.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation