Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media

TETAP GOBLOK
UNTUK TERUS
BELAJAR

By Anton Ismael

Panggilan gue Anton Ismael.
Nama lengkap sebenernya Antonius Widya Ismael.
Nama Widya itu diambil dari Bahasa Sansekerta yang artinya ilmu pengetahuan, yak kok ndilalah gue seneng mengajar. Beberapa orang menganggap gue saya sebagai seorang pembimbing bagi mereka.

Tahun 2004 gue pernah cerita ke Guru gue,”Pak saya pengen ngajar, tapi takut, takut salah, pengetahuan saya belum cukup, tapi saya pengen berbagi.”

Keinginan gue berbagi sangat besar, tapi kok ya perasaannya waktu itu gue masih goblok, dan belum cukup pengalaman. Tapi makasih kepada Guru dan mentor saya, kerena dia bilang ke saya ,”Anton kalo kamu ngajar itu sebenarnya berbagi pengalamanmu aja, kamu bisa mulai dari menceritakan itu. Ceritakanlah kesalahan-kesalahanmu agar kawan-kawanmu bisa belajar darimu.” Itu yang dia katakan.


Kalimat itu sampe sekarang menjadi pegangan gue saat ngajar, biar peracya diri. Nasihat yag sama selalu gue katakan ke temen-temen yang pengen berbagi, tapi belum punya kepercayaan diri.

Sudah 15 tahun mengajar, dari tahun 2006 sampe sekarang. Awalnya di Kelas Pagi, sebuah komunitas fotografi (coba aja google search kalo mo lebih tau tentang Kelas Pagi). Sekarang banyak diminta membimbing sebuah kelompok, institusi, ataupun perorangan.

Gue pede-pede aja mo ngomong apapun. Ya pede lah! Namanya juga berbagi pengalaman/cerita kesalahan yang saya alami dalam karir. Bukan hanya dalam fotografi tapi keterkaitannya dalam kehidupan nyata. Yoi coy. Hidup ini perasaan banyak gagalnya kan..sans aja..kita punya temen banyak kok. Intinya mare kita rayakan kegagalan dan belajar dari situ.

METODE PENGAJARAN

Kali ini gue mau berbagi metode pengajaran gue yang mungkin untuk beberapa orang udah menjadi hal yang khas. Sebuah tagline #bakaar dan #keluartumbuhliar untuk memberikan pesan ke siapapun, yang terkoneksi dengan gue. Artinya apa? ntar gue jelasin di bawah.

Pertama kali ngajar itu, gue inget banget kalo gue gak sepenuhnya setuju dengan sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung membudayakan pendiktean terhadap tiap individu di sekolah. Gue ngga setuju dengan guru selalu benar. Seperti yang dikatakan mbak Najeela Shihab, “Semua Murid, semua guru” yuhhhuuuu yasssss, we sih setuju banget. Bahwa tiap manusia yang bersatu dalam wadah “sekolah” untuk kita sama-sama belajar, sama-sama mengajar, menjadi kritis dan bertanggung jawab, semua maju. Bukan hanya murid yang harus belajar, tetapi guru juga harus bijak menyikapi zaman.


Kita mah pengennya motret bagus ya, trus dapet duit, trus bisa beli motor vespa…gak sesimple itu jek…

Saat kita mulai belajar di kampus, kita mulai dari nol.

Saat kita mulai bekerja di lapangan, secara nyata kita mulai dari nol.

Yang kadang teori di sekolah udah ngga tau mo dipake di mana.

Ranking satu di sekolah…? Ngga jaminan kita bisa sukses di dunia nyata.

Maka dari ituuuu jek..gue punya beberapa kepercayaan dan sikap yang gue terapkan di depan kelas, berdasarkan pengalaman gue di dunia nyata dan itu mo gue bagi dan jelaskan ke klean semua, kenapa gue aplikasiin metode tersebut.

Menurut pengalaman gue, selama merencanakan mimpi dan harapan, gue kebanyakan gagalnya. Bisa aja karena kurang pengalaman, musibah, gak ada modal. Juga kekurangan kita masing-masing yang harus di-explore dan diantisipasi lagi…



Perjalanan panjang untuk mencapai sukses, yang terkadang kita ngga tau kapan ujungnya. Bahkan untuk banyak orang nggak tahu, ini udah sampai atau masih berjuang, masiiiih aja belum dapet harapannya..

Yoi..mimpi selalu indah, tapi kenyataan itu… hmmm ngga pasti, ngga ada yang tahu.

Pada saat mimpi itu ngga kita dapetin, apa yang akan kita lakukan? Ada yang putusin berhenti, ada yang jalan terus, gas pol, ada juga yang jalan..hmm pokoknya jalanin aja, karena udah kadung nyemplung jadi fotografer.

Misalnya…mimpi yang gue dapatkan itu hanya beberapa persen dari keberhasilan yang gue harapkan, dan selama pengalaman gue mengajar, jumlah siswa yang bisa lanjut dan berhasil dalam bidang memotret bisa dikatakan hanya, hmm, 5% . Makanya saat pertama siswa masuk kelas yang gue katakan adalah

Tidak semua kalian akan berhasil untuk menggapai mimpi kalian



Mungkin terdengar kejam nan biadab yap..kata-kata itu selalu gue ucapkan di kelas pertama, bukan karena ngga berharap anak-anak untuk berhasil semua, tapi udahlah kita liat kenyataannya aja.

Kalo loe ngga bisa menggapai mimpi loe, bukan berarti loe ngga berhasil. Tapi, yang paling tau adalah loe sebenernya, pengertian kata berhasil apa/gimana, itu ukurannya seberapa jauh. Banyak banget factor personal yang mempengaruhi manusia. misalnya faktor kemampuan finansial, kesehatan, hubungan antar keluarga yang kadang menghalangi kita untuk bisa maju terus dalam bidang yang kita inginkan. Pokoknya banyak deh.

Kadang kita sebagai orang yang bersosialisasi dengan orang lain, kita harus membatasi keinginan kita, kadang mengalah, mendahulukan kepentingan bersama daripada diri sendiri. Makanya, kalo mimpi itu ngga usah pake bates..yang tinggiiiii sekalian, karena biasanya kenyataan itu selalu di bawah mimpi kita…jadi..kalo kita mimpi setinggi 1000km…kenyataannya kira-kira tingginya ya..500km lah..atau 400km?

Jadi..ngga berhasil mendapatkan mimpimu itu gpp. Banyak nilai yang harus kita hargai dari diri sendiri. Kesuksesan itu bukan sebuah perbandingan yang disandingkan, head to head, dengan pencapaian kawan-kawan di sekelilingmu. Tiap manusia punya nilainya masing2. (mudah2an jelas ya).

Kemudian saya menanyakan ke mereka lagi, ”what really matters?” Saya mengajak mereka mikir dan ngebayangin ini semua...walaupun nyesek banget pertanyaannya..tapi biarlah, gpp, belajar liat kenyataan. Sebenernya gue pengen ngajak mereka mempertanyakan ke mereka sendiri.

“Jika ada kemungkinan untuk tidak berhasil..apakah kita akan tetap belajar?”

“Jika tidak ada kepastian untuk berhasil, apakah kita akan tetap bekerja keras?”

“Jika kebaikan itu terkadang ngga berbalas kebaikan, apakah kita akan tetap berbuat baik?”

“Jika ngga ada penghargaan dari bos, atau temen2 mu dapet gaji lebih, apakah kamu akan korupsi?”

Ngajar dan belajar itu harus Ikhlas dan bahagia. Kalo mo belajar ya belajar aja, tanpa mengharapkan pujian atau ranking. Kalo mau berbuat baik ya lakuin aja, tanpa minta balesan.

Menggabungkan komposisi siswa dari berbagai macam jenis manusia

Profesi, strata ekonomi, level kecerdasan, karakter, perbedaan umur, tingkat kekerenan, pokoknya gue gabungan semuanya di dalem kelas. Maka dari itu gue ngga bisa jawab tuh untuk beberapa anak-anak yang nanya ke gue,”mas, syarat atau spesifikasi yang diterima itu seperti apa sih siswanya?” Ya gue harus liat dulum siapa aja yang daftar masuk sekolah, setelah dapet dananya semua, baru gue liat tuh latar belakangnya seperti apa. pokoknya gue campur2 agar bisa saling belajar satu sama lainnya.

Gak asik ya kalo satu kelas dari latar belakang yang sama. Gak akan maju klo gitu. Mo maju itu harus belajar perspektif yang luas. “Nongkrong itu jangan sama yang itu-itu aja, ntor loe gitu-gitu aja”.

“Yang pinter disatuin sama yang ga terlalu pinter” biar yang pinter gak terlalu serius lah…sans dikit lah, dan yang agak2 kurang, bisa lebih pinter…ketemu di tengah jek.


Gue selalu percaya bahwa pendidikan harus selalu hadir di tempat yang belum terdidik….hmm bener ngga? Kalo pendidikan hadir untuk orang-orang yang udah pinter ya ngga guna juga ya.. maka itu gue campur..yang pinter bisa ngajari yang gak pinter.

Eh, tapi biasanya anak2 gue yang udah pinter itu gak kuminter (istilah orang jawa yang artinya sok pinter), karena mungkin di kelas, gue gak pernah terlalu yang ngajarin teknis motret, walaupun gue percaya itu penting.

Apa yang gue ajarin itu adalah mengajak atau mempertanyakan diri mereka kembali. Menggali diri mereka lagi..lebih dalam lagi..jadinya di saat mereka belajar di kelas pagi, bukan bersaing, mengalahkan siswa lain, yang seperti di sekolah2 konvensional, dengan ranking. Tetapi kita lebih berpikir bagaimana mengalahkan diri kita sendiri, karena terkadang penghalang diri kita itu adalah diri sendiri.

Mo loe buat alesan apapun tapi inget…Excuses Won’t Solve Problem bro..yoi..alesan ngga akan menyelesaikan permasalahan loe. Kembali ke nol. Di luar sana itu keos (CHAOS kacau), loe harus bisa membaca kekacauan itu, melatih sense loe, dan bersahabat dengannya.

Makanya gue campur-campur aja sama banyak karakter, agar siswa mempelajari sebanyak mungkin karakter manusia…sehingga mereka bisa bilang…ooo ternyata ada tooh orang seperti itu.



Telat...PUSH UP!

Ada peraturan yang gue buat di Kelas Pagi, kalo telat harus push up. Telat 5 menit, push up 20 kali. Telat 10 menit, push up 30 kali. Telat 15 menit, push up 40 kali, dst. Kek militer aja ya hukumannya, maennya fisik.

Hmmm gimana ya, gue ngga pengen anak2 gue cemen. Untuk menjadi fotografer itu butuh fisik yang kuat, selain pikiran yang smart. Kerja kita kadang harus angkut tripod, angkat lampu, jalan selama beberapa jam untuk mencapai lokasi pemotretan, dan kadang harus berlomba dengan matahari terbit. Nah! Begitu teman2..Hukuman di Kelas Pagi ya begitu kalo telat. Hampir cuma itu deh kek nya.

Kita kan masuknya jam 6 pagi banget nih..ho oh..pasti masih ngantuk kaaan…jadi ya kalo push up itung2 ya bisa buat seger..tapi kalo kelamaan telatnya ya bisa jadi lemes, karena hukumannya sesuai dengan lama telatnya.



Eh, tapi jangan salah….emangnya yang push up yang telat aja? Ngga! ..Push up ini berlaku untuk semua anak yang ada di kelas dan termasuk saya. Jadi gini, misalkan ada satu anak telat nih, dia kan dapet hukuman push up..nah, kita yang ngga telat, bersama gue, itu juga wajib untuk nemenin push up, tapi jumlahnya setengah dari kewajiban anak yang telat.

Lho kenapa? Gue dan anak2 kan masuk tepat waktu? Sebenernya pesan yang mo gue bilang itu adalah, kalo dia buat kesalahan artinya bukan hanya dia yang menanggung akibatnya, tetapi kita sebagai team work akan menanggung akibatnya juga.

Di pekerjaan yang kita lakukan ini adalah sebuah team work, yang saling mendukung. Jadi kalo loe seenaknya, loe akan menjerumuskan team loe. Jangan jadi egois, tepa seliralah ke orang lain.

Eh, tapi walau ada peraturan begitu pada gak kapok-kapok dateng terlambat. Pada sengaja, katanya, pengen seger. Jadi kalo loe mau jadi fotografer yang punya tangan keker? Belajar aja di Kelas Pagi dan datang telat terus. Niscaya loe akan buat temen2 loe yang laen jadi keker, termasuk gue.

Silahkan tidur di kelas atau ngobrol. Bebas!

Gue adalah seorang pengajar yang ngga akan marah sedikitpun saat murid-murid gue pada ngobrol di kelas atau tidur sekalipun. Beneran niiiy.,.sama sekali ngga marah.

Jadi gini, gue selalu percaya kalo ada salah satu murid gue yang ngobrol terus dan ngga merhatiin gue..artinya apa? tau ngga kenapa?? YAAAP, beneeeerrrr, artinya cara gue ngajar membosankan, ngga menarik, atau ngga relate dengan diri mereka.

Gue udah tulis di atas bahwa ngajar itu harus ikhlas dan belajar itu harus bahagia! YOI…selama gue ngajar, yang gue pelajari itu bukan meng-update ilmu pengetahuan di bidang fotografi, tapi gue selalu belajar membuat sebuah metode penyampaian yang efektif ke murid-murid gue. Gue selalu bilang ke temen2 gue, bahwa orang pinter itu ngga selalu bisa ngajar dan menyampaikan/menerjemahkan apa yang mereka tau ke orang lain. Susah lho ngajaar….beneraaaaaaannnn gue aja sampe jungkir balik awal2nya..

Makanya saat ada murid yang ngobrol, males, ngga tertarik (terbaca dari gerak gerik tubuhnya), hmmm otomatis gue mempertanyakan diri gue…kurang apa ya gue ngajarnya? Apa yang akan membuat dia tertarik untuk mendengarkan gue ngomong?

Mungkin ada yang ngga setuju, seperti beberapa temen2 gue mereka bilang, bahwa seharusnya mereka harus respect ke gue karena udah mau bela-belain ngajar gratis di pagi hari, jam 6 banggeet niy. Oh iya, btw ini Kelas Pagi itu gratis ya..kenapa gratis ya ceritanya panjang, ntar aja ya ceritanya tentang ini. Soalnya beda pembahasan.

Menurut gue proses mengajar itu adalah sama dengan proses belajar, dan gue pengen menyerap dan tau langsung tentang bagaimana anak zaman sekarang merespon sebuah pola penyampaian yang gue berikan. Gue pengen tau dong konteks apa yang membuat mereka tertarik, konteks apa yang membuat mereka bosan. Dan semua informasi tentang anak zaman sekarang. Dari situ gue bisa memprediksikan what really matters for them, cie elah bahasa anak jaksel.


Saat gue dapat menyampaian materi dan diserap dengan baik oleh siswa, maka secara langsung saya telah valid/SAH mempunyai frekuensi yang sama dengan mereka, sehingga bisa dikatakan bahwa saya sudah siap berkomunikasi dengan anak jaman sekarang dalam cakupan yang lebih luas.

Saya selalu memakai prinsip ini:

It’s not what you say, but it’s how you say it

YAAAAPPP

Semua orang mungkin mengatakan hal yang sama dan berulang-ulang..tetapi bagaimana caranya itu yang menjadi perhatian agar dapat dengan baik oleh audience kita. Begitu pula di visual fotografi. Banyak orang mungkin membuat sebuah image foto yang mungkin saja sebuah pengulangan, tapi bagaimana pengemasannya dan cara menghadirkan foto tersebut, itu yang akan membuat perbedaan.

Pelajaran utama di Kelas Pagi adalah “Bantai foto”



Ya emang bener di Kelas Pagi kita belajar fotografi, tapi materi yang paling impactfuladalah pelajaran Bantai Foto. Bahasanya ngeriii ya...hahahha emang iya, jadi ini adalah pelajaran dimana tiap siswa maju ke depan untuk mempresentasikan karyanya dan dibantaifotonya (dikritisi, dikomenin, dipertanyakan) oleh siswa yang lain.

Untuk siswa yang baru, mata pelajaran ini adalah paling dihindari, ya iyalah..siapa yang mau dikritisi? Kasarnya ya fotonya dibilang jelek gitu kaaan..Tapi menurut gue ini materi yang penting banget untuk mempersiapkan anak-anak masuk ke dalam industri yang “kejaaaam”.

Gue selalu bilang ke mereka ..siapa lagi yang bisa ngomong jujur tentang karya loe? Temen loe? Ah basi..pasti temen loe biasanya muji-muji foto loe kan? Apalagi pacar loe..loe dipandang fotografer paling keren sedunia, wkwkwk.



Saatnya ngga dengerin pujian aja, tapi denger pendapat yang jujur, apa adanya, dengan persepsi dari berbagai macam kepala tentang karya kita.

Gue memaksa hampir tiap siswa untuk mempunyai pertanyaan tentang karya yang sedang dipresentasikan, walaupun ada beberapa dari mereka yang kemampuan motretnya ada di bawah standar siswa yang sedang mempresentasikan karyanya.

Mengkritisi karya fotografi bukan berarti loe harus menjadi fotografer yang baik dulu.

Mengkritisi karya lukis bukan berarti kamu harus bisa membuat lukisan yang bagus dulu.

Mempertanyakan kebijaksanaan seorang pemimpin perusahaan bukan berarti kamu harus menjadi CEO dulu.

Ngomenin pendapat orang bukan berarti kamu harus lebih tau dari orang itu..

Coba tuh belajar dari netizen yang terhormat..kadang komennya kek TA#%*@#% JJJ Sebenernya..nilai yang ingin saya tanamkan adalah bahwa tiap orang seharusnya mempunyai cara pandangnya sendiri, dan terlebih lagi gue pengen banget ngajarin anak-anak untuk belajar bertanya, seperti yang saya ucapkan setiaaaaapppp saat sampe mulut gue berbusa…

Pertanyaan bodoh akan menghasilkan jawaban bodoh

Pertanyaan pintar akan menghasilkan jawaban pintar

Jadi bayangin kalo kamu udah bisa mempertanyakan hal yang pintar..mudah-mudahan kamu akan cepet pinter ya bro/sis. AMIIIINNNN

Guru: “Oii jangan takut tanyaaa..apa aja..ngga usah malu..”
Murid: “Malu ah mas..”
Guru: “Tanya kok takut..”
Murid: “Ntar keliatan goblog mas..”
Guru: “Bukannya emang goblok?”

Oii namanya juga belajar…kalo belajar kan artinya masih bodoh ya.. Jadi lumrah kalo bodoh..kalo udah pinter ya artinya gak sekolaah kan… katanya mau pinterrr..tapi tanya aja kok malu??..Dulu guru juga pernah goblok..semua orang mulai dari nol lagee..Gue malah menyemangati tiap siswa untuk buat salah..semakin banyak salah, loe akan semakin pinter. Semakin berani anak kecil yang belajar jalan…dia akan bisa berdiri di kakinya sendiri lebih kuat, meski risikonya jatoh. Yaa gitu deh…

SLOGAN: “MPC” (MBUH PIYE CARANE) artinya –KAGA MO TAU GIMANA CARANYA, YANG PENTING HARUS BISA.


Kelas Pagi hadir dari sebuah inisiatif dan ketidakadaan. Ya awalnya ngga ada tempat belajar, ngga ada uang, ngga ada murid, ngga ada materi pelajaran…wakakaka pokoknya ngga ada semuanya deh..tapi yang pasti gue punya itu semangat..makanya ada hesteg #Bakaar yang artinya bakaar semangat.

Jadi gini, gue selalu percaya kalo ada salah satu murid gue yang ngobrol terus dan ngga merhatiin gue..artinya apa? tau ngga kenapa?? YAAAP, beneeeerrrr, artinya cara gue ngajar membosankan, ngga menarik, atau ngga relate dengan diri mereka.

Pokoknya gue pengen anak2 gue punya semangat pantang menyerah. JANGAN CEMEN,

JANGAN TAKUT HUJAN BRO!…loe pikir aja..loe itu di dalem rahim nyokap loe itu 9 bulan 10 hari kerendem air…BASAAAH! Tapi kena aer hujan dikit aja udah bingung.

Dulu saat kita ngga ada ruang untuk belajar, ya kita belajar di taman, pernah juga kita belajar di parkiran Blok M Plaza. Emangnya belajar harus di dalem ruangan ber-AC? Emangnya kalo mo belajar itu harus duduk di kursi? Make it simple dan berpikir yang lebih esensi…esensinya adalah belajar bersama..dimananya itu urursan beda.

Pernah juga saat anak2 pengen pameran foto tapi ngga punya duit, trus kita tetep buat pameran, tapi bukan ditempel di tembok dan berada di sebuah galeri..yoi..mahal sewanya..hahaha..trus yang kita lakukan itu nempel karya di karton trus dibawa jalan ke Bogor pake kereta KRL, truss pameran deh di dalem gerbong kereta…SAH! Yang namanya pameran foto.

Terus bergerak, terus mencari jalan, dan terus semangat.
Apalagi di saat seperti ini , sepertinya gue butuh “MPC” mode on
Ah syit pandemic..i don’t give a FU^@@)*&.

Kita semua harus bisa melewati ini dan tetep semangat. Ayo kita bisa..kita bisa..kita bisa..

Senyumm semuanyaaaaa CEKREK!!