Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#lifestyle

Hobi Minum Kopi Ternyata Dipengaruhi oleh Faktor Genetik

Ngopi adalah bagian penting dari rutinitas buat jutaan orang yang hobi minum kopi di seluruh dunia. Tapi tau gak kalo kebiasaan ngopi itu dipengaruhi sama faktor genetik?

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Ngopi adalah bagian penting dari rutinitas buat jutaan orang yang hobi minum kopi di seluruh dunia, kebiasaan ini umumnya dilakukan pada pagi hari. Tapi buat lo yang ngerasa jam tidurnya kurang, kopi bukan jawaban. Bahkan sejumlah kecil kafein bisa bikin beberapa orang gelisah dan terjaga sepanjang malam. Lantas kenapa kafein mempengaruhi orang dengan cara yang berbeda-beda? Jawabannya terletak pada genetik lo.

Foto: Unsplash.
Foto: Unsplash.

Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti kafein asal Northwestern University, Illinois, Amerika Serikat. Dalam penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa masing-masing manusia punya faktor genetik bawaan yang bisa bantu mereka mengatur asupan kafein mereka sendiri.

“Sungguh menarik betapa kuatnya pengaruh genetika kita terhadap hal itu,” kata Marilyn Cornelis, salah seorang peneliti Northwestern University dilansir dari laman National Geographic.

Gen Mengatur Kafein dalam Tubuh

Salah satu fungsi metabolisme ialah untuk menangani kadar kafein yang beredar dalam tubuh. Dalam hal kafein, hanya dua gen yang bisa menangani sebagian besar fungsi tersebut, yakni CYP1A2 dan AHR. CYP1A2 menghasilkan enzim hati yang memetabolisme sekitar 95 persen dari semua kafein yang masuk dalam tubuh. Sedangkan AHR mengontrol seberapa banyak enzim yang dihasilkan. Kedua gen ini mengontrol seberapa banyak kafein bersirkulasi dalam aliran darah dan lama durasinya.

Foto: Unsplash.
Foto: Unsplash.

“Untuk seseorang yang memiliki varian genetik yang menyebabkan penurunan metabolisme kafein, mereka cenderung mengonsumsi lebih sedikit kopi dibandingkan dengan seseorang yang memiliki varian genetik yang mengarah pada peningkatan metabolisme kafein,” kata Cornelis.

Itu artinya, kalau metabolism dalam tubuh lo termasuk cepat—atau jika kalau lo perokok, yang notabene meningkatkan metabolisme—kafein gak akan bertahan cukup lama untuk memengaruhi pusat stimulus otak secara mendalam. Jadi lo kemungkinan besar bakal minum kopi lagi.

Pengaruh Kafein Terhadap Tingkah Laku

Ada pula gen yang banyak terlibat dalam bagaimana kafein memengaruhi aktivitas otak, serta efek samping lain seperti kecemasan, insomnia, dan sakit perut.

Contohnya adalah adenosine, yang jadi salah satu penyebab di balik rasa ngantuk di pagi hari dan setelah makan siang, gen ini bekerja memperlambat aktivitas saraf dan menghalangi pelepasan banyak zat kimia menyenangkan di otak, termasuk dopamin. Tapi saat kafein beredar di aliran darah, kafein dengan mudah mengambil tempat adenosin di reseptor di otak dan di tempat lain dalam tubuh, sehingga bikin lo jadi terjaga.

Foto: Unsplash.
Foto: Unsplash.

Ekspresi reseptor adenosin diatur oleh gen yang dikenal sebagai ADORA2A. Banyak penelitian yang menunjukkan varian gen ini memengaruhi reaksi terhadap kafein. Ini alasan beberapa orang mengalami insomnia bahkan sampai dengan pagi hari.

Gen ini juga berperan terhadap kecemasan dan mengganggu orang-orang dengan varian tertentu dari cappucino. Studi lain mengimplikasikan variasi reseptor adenosin juga menyebabkan gangguan panik pada beberapa orang. Masuk akal jika beberapa orang menghindari kopi karena mereka mengaitkannya dengan sejumlah efek sampingnya yang negatif ini.

“Variabilitas ini mungkin sebagian terkait dengan fakta bahwa beberapa orang mengalami efek samping seperti kecemasan dan kegugupan setelah mengonsumsi kafein,” kata Astrid Nehlig, seorang peneliti dari French Institute of Health and Medical Research.

Rasa Pahit dalam Kopi Bisa Beda-beda Tiap Orang

Sebuah penelitian di Monell Center di Philadelphia, peneliti rasa dan bau Danielle Reed mengamati aktivitas gen yang terlibat dalam persepsi rasa pahit terhadap kelompok peminum kopi. Saat diberi kafein cair murni sebagai perasa, responden yang minum lebih banyak kopi setiap hari menilai kafein cair sampel ini lebih pahit daripada responden yang lebih sedikit minum kopi.

“Hanya 15 persen kepahitan kopi berasal dari kafein, 85 persen sisanya berasal dari senyawa pahit lain non-kafein. Ada banyak reseptor pahit yang berbeda, tapi ada juga banyak rasa pahit yang beda dalam kopi,” kata Reed.

Foto: Unsplash.
Foto: Unsplash.

Menurut Reed, kafein mungkin juga memengaruhi jalur sensorik beberapa orang dengan cara yang belum banyak diketahui. Senyawa tersebut gak cuma mengikat permukaan sel reseptor, tapi juga dapat memasuki sel, dimana pengaruhnya secara terus menerusnya tidak jelas.

“Kalau Anda sangat sensitif terhadap pahit, bukan berarti Anda tidak akan suka kopi. Mungkin saja Anda salah satu dari orang-orang yang punya apresiasi bernuansa makanan yang memungkinkan menahan kepahitan dan kesenangan pada saat yang sama,” pungkas Reed.

Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation