Opini.id
Pop Culture
Human Interest

Mencari
Musuh Untuk
Menyatukan

By Anton Ismael

Sejak tahun 2005 secara tidak sengaja gue telah menginisiasi sebuah kelompok belajar. Dimulai dengan anggota 3 orang, berjalan tiap hari rabu dan jumat pagi, yeah jam 6 pagi kita udah berdiskusi dan belajar bersama. Yang kami bahas adalah seputar fotografi. Kebetulan emang gue adalah seorang fotografer yang udah kerja profesional dari tahun 2000. Jadi mungkin ya temen-temen gue ada yang memilih gue sebagai teman diskusinya di bidang ini.

Setelah beberapa bulan berjalan dengan cukup intens dan menarik, ternyata kegiatan ini menjadi magnet untuk temen2 laen di sekitar kami. Mulailah hadir anggota baru dan bertambah terus. Dari 3 menjadi 11 orang, kemudian bertambah jadi 24 orang, dan dalam tempo setahun dari tahun 2005, kami menampung 250 orang. Gilak! Sebuah lonjakan signifikan dari 3 orang ke 250. Seperti efek bola salju ya, yang membesar sangat cepat tanpa persiapan, nabrak kita. Dar!


Yas! Kelompok itu kita namakan “Kelas Pagi”, sebuah nama yang tercetus dari seorang kawan, yang juga anggota kelompok belajar. Dia bernama Ibob, seorang ayah 2 anak yang bekerja di sebuah biro iklan dan punya waktu kosong setiap hari Rabu dan Jumat pagi. Itu alasan kenapa bernama Kelas Pagi..karena dimulai pagi hari. Itu alasan kenapa diadakan pada hari Rabu dan Jumat...sesimple itu. Loe pikir kita punya konsep yang njlimet pada saat kita menamakan Kelas Pagi? ngga sama sekali bro....waakakakaka

Kelas Pagi terbentuk bukan karena sebuah konsep yang dalam, walaupun beberapa orang sekarang mengatakan, bahwa kita adalah salah satu komunitas fotografi paling berpengaruh di Indonesia. Hanya dimulai dari sebuah konsep nongkrong di pagi hari dan belajar bersama. Yoi coi

SEBUAH KOMUNITAS


Sekarang kelompok belajar ini berubah menjadi sebuah komunitas. Apa sih itu komunitas? Sekarang istilah ini banyak dipakai oleh kelompok kelompok tertentu. Menurut gue ini adalah sebuah perkumpulan orang yang mempunyai kesenangan/interest/hobi/ yang sama dan berkembang secara organik. Maka dari itu, gue selalu percaya bahwa sebuah komunitas yang jujur itu ngga bisa dibentuk, tapi terbentuk. Direncanakan bisa, tetapi selama komunitas ini tidak berkembang secara organik/apa adanya, udah deh...komunitas ini tidak akan bertahan lama.

Sebuah komunitas yang gue tahu, tidak semuanya mempunyai sebuah sistem organisasi yang baku dan pendanaan kegiatan yang solid, karena kelompok ini tumbuh secara organik, apa adanya. Kebanyakan komunitas hidup dengan hasil saweran uang anggotanya, juga usaha. Dia menjual merchandise. Itu sih yang gue lihat, termasuk Kelas Pagi pada awalnya. Pun saat gue jalan-jalan ke penjuru Indonesia, itu yang dilakukan temen-temen di kota-kota lain selain Jakarta. Ada sebuah pemikiran yang menarik dari tiap komunitas yang gue liat. Mereka punya kebiasaan dan merasa bahwa menarik duit dari setiap anggotanya itu ..hmm rasanya gimanaaaa gitu...ngga enak…hahahahha..ya iyalah, karena kita bermula dari sebuah perkumpulan temen yang asik-asikan, punya hobi yang sama. Beda ya dengan sebuah institusi resmi yang memiliki organisasi yang baku dan jelas. Keknya berasa tabu untuk narikin uang iuran ke mereka hahahahaha...jadi, itu menjadi dilema kami dalam menjalankan Kelas Pagi, apalagi dengan jumlah manusia yang semakin banyak dalam sekali pertemuan.

Kalo ada yang nanya,

emangnya butuh duit untuk jalanin komunitas?

Masih banyak tuh yang tanya ke gue tentang ini...trus gue balikin lagi ke mereka, ”kalo dipikir-pikir ngga sih...tapi kalo dari gue yang ngejalanin komunitas udah 15 tahun, gue ngalamin yang namanya saat ada orang banyak itu, apakah loe ngga bawa motor? apakah loe ngga buang sampah sembarangan?…udah deh ngga usah ngélak, buang puntung rokok aja lu masih sembarangan...apa loe ngga butuh minum di pagi hari?…sekedar air mineral…trus gue harus nyiapin air galon dan dispensernya kan?...apa loe ngga butuh duduk di lantai yang udah ngga kotor?..alias udah disapu dan dipel? apa mau loe ngepel sendiri dan nyiapin semuanya untuk kenyamanan kita belajar?” Sekecil apapun loe butuh dana untuk mendukung hal itu.

Selama 9 tahun dari awal berdirinya Kelas Pagi, gue ngajar sendiri...yoi...jam 6 bangettt udah mulai..dan ngga kebayang badan ini rasanya mo remuk saat loe kerja sampe jam 12 malam dan pernah juga selesai jam 5 pagi, setelah itu langsung ngajar jam 6 pagi. Suara udah serak parau karena kurang tidur, masuk angin, ngantuk...hadeh...karena udah komitmen. ya gini.

Saat ditanya banyak orang...

Ton, kenapa sih loe mau ngajar mereka tanpa dibayar selama ini?

Kalo dipikir-pikir bego juga ya hahahahaha, banyak juga orang yang liat gue mulia banget dengan komitmen gue melakukan ini semua, bukan hanya dari waktu dan tenaga, tetapi dari pendanaan yang gue pakai untuk running kegiatan ini, udah ngga terhitung berapa banyak keluarnya, apalagi bersamaan dengan itu Kelas Pagi semakin berkembang pengaruhnya di kota-kota lain di Indonesia. Kalo dari gue sih, bukan gue mulia...hahaha, tapi ini kayaknya adalah sebuah kutukan gue...siapa sih yang nyangka akan sebesar ini?

Kadang loe ga bisa rencanain, tiba-tiba ada…tiba-tiba ilang...ya gitulah... tapi yang jelas untuk kasus ini adalah “once u start, u cannot stop”. Saat gue memulai kelompok belajar ini dan berkembang secara pesat dari 3 orang ke 250 orang, yang mengetuk pintu studio foto gue dengan harapan dan semangat mereka datang di pagi hari…apakah gue bisa nolak? Apakah gue bisa bilang, ”ngga ah..gue ngga mau ngajar!”? ya ngga bisa lah! Hahahahaha siyal! Tapi yang jelas adalah semangat mereka nular ke gue. Thanks kawan-kawan..

Setelah kami seperti sekarang, dan besar...biasalah...mulai banyak yang ngelirik dan membuka kemungkinan kerja sama. Bukan hanya dari person tetapi banyak juga dari institusi, instansi, sampe ke brand besar. Ini menjadi angin segar untuk kami, ngerjain sesuatu yang kami suka dan “didanai”. Tanggung jawab semakin besar, yang tadinya hanya ke anggota kami, sekarang bertambah kepada siapapun yang bekerja sama dengan kami. Satu hal yang kami harus pegang adalah integritas komunitas, karena di awal kami hanya punya semangat belajar dan mengeksplorasi hal baru, termasuk bagi setiap individu di dalamnya. Jangan sampai punah dan terbiaskan oleh industri ini yang sarat akan tuntutan banyak orang. Kelas Pagi adalah tempat belajar dan tempat kita boleh untuk buat salah, sebanyak mungkin, tanpa dimarahin. Tempat kita bisa “bandel” dan ngga nurut karena kita punya pandangan dan persepsi kita sendiri, dan mempertanggungjawabkan pemikiran kita. Hal itu jangan sampe pupus. Ya BELAJAR!

Loe bisa bayangin ngga sih dengan berkembangnya tuntutan dari dalam dan luar, gue semakin pusing, keknya ga bisa sendiri ngejalanin ini di tengah tanggung jawab gue sebagai seorang fotografer, yang memimpin sebuah perusahaan. Akhirnya, gue mulai membentuk sebuah tatanan organisasi yang lebih layak, seperti adanya kepala sekolah yang mengurus masalah kurikulum, bagian sosial media, bagian public relation, dan yang tak kalah pentingnya, bagian dagang merchandise. Struktur sederhana ini membantu kami dalam menjalankan kegiatan ini secara efektif. Kami mulai berkegiatan seperti layaknya sebuah komunitas yang tetap organik, didukung dengan struktur organisasi.

Menjalankan sebuah komunitas dengan banyak orang di dalamnya, sama filosofinya dengan menjalankan sebuah negara yang di dalamnya berkumpul individu. Bisa bayangin ya berbagai macam keinginan, pemikiran, pendapat dan kepercayaan di dalamnya...kalo disuruh milih sih, pengennya yang dulu, saat kita masih menjalankan sebuah kelompok belajar kecil dengan sangat dekat. Kita bisa saling tukar pikiran dengan intens dan personal. Dapet esensinya. Tapi sekarang, seperti sebuah bola besar yang kadang ngga selalu bisa gapai atau kita memperhatikan tiap anggotanya secara personal. Ya...dilema sih...Tapi, kenapa gue harus mempertahankan komunitas ini? Karena menurut gue, di luar ketidaksetujuan gue dengan membesarnya komunitas ini, tetapi banyak orang jadi bersemangat dengan adanya kami.

Semangat belajar terus menerus itu yang kami berusaha pertahankan untuk tetap ada.

Dan kami harus tetap kuat.

Munculnya Tantangan


Balik lagi ke masalah pembicaraan di atas. Sebuah negara dengan individu di dalamnya, mempunyai banyak tantangan dalam menuju visinya yang satu, maju ke depan bersama. Yoi..bisa bayangin ngga gimana seorang pemimpin negara mikirin tiap “anak-anaknya”, yang bandel-bandel ini..apalagi sekarang loe liat banyak banget perlawanan yang tampak di berbagai macam daerah oleh kelompok-kelompok tertentu. Pernyataan ketidaksetujuan akan satu visi yang telah ada, ingin mengoreksi visi tersebut, sampe pengen buat negara sendiri…gilak! Kalo gue mah udah nyerah kalik jadi presiden..buset pusing banget ya mereka..hahahahaha… Beda di era 90-an keknya damai-damai aja, karena dulu kebebasan berbicara ngga seperti sekarang... Kini bisa lebih bebas walaupun nurut gue banyak yang kelewatan.

Di komunitas yang kita jalanin..iya sama, masing-masing individu punya karep sendiri-sendiri tapi bedanya, ada yang speak up, ada yang lebih memilih untuk diam! Karena gue emang ngelatih mereka untuk punya sikap dan pendapat...walaupun mereka harus mempertanggungjawabkan pendapat dan pemikiran mereka sebagai orang yang berada di dalam komunitas ini, tak kadang mereka juga kelewatan...tapi kalo dipikir-pikir, gue juga sih yang ngajarin mereka untuk ngelawan gue...karena menurut gue, orang-orang yang punya sikap, ngga setuju akan satu hal dan memperjuangkannya adalah orang-orang yang punya kepercayaan terhadap sesuatu. Hal seperti itulah yang kita butuhkan untuk anak muda sekarang, yang tak jarang mereka hilang kepercayaan dirinya karena saking banyaknya kepercayaan yang dilontarkan lewat jejaring media sosial. Ya they are lost di tengah arus informasi dengan propagandanya masing-masing..And maybe..gue juga tersesat, karena ya emang gue ada di tengah semua informasi ini yang seliweran ini. Tanpa loe sadari kepercayaan itu terbentuk, dari mana kepercayaan itu..? ya dari apa yang loe “makan” tiap hari... Dari pemikiran itulah yang menjadi alasan, kenapa gue lebih suka liat anak ngeyel dan “bandel”, ketimbang anak-anak alim yang hidupnya nurut dan diatur oleh orang lain terus.

Di dalam negara Indonesia ini ada banyak orang yang ngeyel-ngeyel…

Tau kaan kalian...iyaa...ngga usah diomongin...buat kesel...iya...tapi kalo di lain sisi, menurut perspektif lain...coba loe pikir deh...kenapa mereka berbuat seperti itu? Menurut gue ya karena mereka punya kepercayaan akan satu ideologi. Siapapun lah, kalo kita refleksikan ke diri kita, banyak hal yang kita ngga setuju dengan sebuah sistem, tapi apa yang bisa kita buat? Diem? Ada yang diem dan ada yang speak up, tapi yang jelas mau segimanapun kita ngga setuju, menurut gue, kita ini saling terkait dan hidup bersama dalam sebuah negara kesatuan. Kalo konsep bernegara ini masih terlalu jauh untuk kalian, coba deh kalian tarik dari lingkungan sekitar, bahwa orang-orang di sekelilingmu itu juga punya kepercayaan berbeda, yang terbentuk dari latar belakang dan pengalaman hidup mereka masing-masing coy. Apa loe mau dipaksa untuk mempercayai kepercayaan orang lain yang ngga sepenuhnya loe percaya?

Maka itulah gue sebagai seorang guru di dalam sebuah komunitas atau kelas, hal yang paling hati-hati gue lakukan adalah memberikan pandangan dan kepercayaan, yang seolah-olah itu paling benar. Kenapa? karena saat gue bicara tentang suatu keyakinan. Gue memakai sebuah konsep, bahwa apa yang gue yakini ini adalah hasil dari pengalaman hidup pribadi, bukan pengalaman orang lain...dan dengan kesadaran itu gue mulai mengajar dengan konsep gue ada “di belakang” murid-murid. Gue ngga berdiri “di depan” memberi arahan atau contoh, karena gue percaya bahwa siapapun, selama kita hidup, orang masih merasakan. Dan proses penempaan hidup akan membentuk persepsi kita. Kalo ada orang yang bilang bahwa dirinya udah mantap dan yakin itu bagus, tetapi hidup ini masih berjalan, kamu ngga akan tau apa yang akan hadir di depanmu kawan.

Gue akan berdiri “di belakang” mereka, mengawasi. Jika mereka akan terjatuh barulah gue akan menangkapnya agar tidak “terluka parah”.

Majulah ke depan dengan keyakinanmu, bukan masalah benar atau salah.

Bagaimana kamu akan tau mana yang baik untukmu,

jika kamu ngga mengalami dan belajar melihat perspektif yang berbeda?

Ya, gue suka dengan murid-murid “ngeyel dan bandel yang bertanggung jawab”. Itu artinya mereka punya sikap dan kepercayaan diri. Satu hal yang harus diingat adalah kita hidup bersama, maka nilai kemanusiaan akan menjadi dasar yang sangat baik untuk membentuk harmoni dalam jalani kehidupan dalam sebuah komunitas. Gue juga yakin, pemimpin negara kita juga seneng kalo rakyatnya “ngeyel dan bandel yang bertanggung jawab”. Itu artinya mereka punya sikap, ngga mau nyerah dengan keadaan, selalu berusaha untuk memperjuangkan keinginannya.

Eh, btw sikap ini kalo kita aplikasikan dalam perjuangan hidup akan keren lho...ngga akan banyak orang yang nunggu dan minta apa yang bisa dibuat oleh negara untuk kita, tapi mereka fight sendiri. Dan jika nilai kemanusiaan dan sosialnya terasah maka akan mempunyai dampak yang positif untuk negara ini. Setuju ngga? Hehehe, ngga setuju juga gpp...kita punya pemikiran dan kepercayaan yang berbeda-beda kan? Udah terbukti kok, gue sebagai seorang guru “sekolah alternatif” melihat itu dengan mata kepala gue sendiri.

Kembali soal Komunitas Kelas Pagi, hal yang terus berjalan, soal kebebasan berbicara, berpendapat, rasa-rasanya sama seperti konsep yang telah diterapkan oleh negara kita. Yang menjadi pembeda skalanya. Kelas Pagi masih kecil lah...masih bisa gila-gilaan, apalagi kita adalah komunitas anak muda dengan semangat idealis, semangat belajar dan mengeksplorasi yang tinggi banget. Rasa penasarannya besar. Ngga mau disamain dengan orang lain. Lagu loe ya lagu loe, gue punya lagu sendiri. Gue mo motret beda sama loe dan banyak banget pencarian mereka, dengan catatan asalkan gue bisa beda dari yang lain…yah begitulah anak sekarang.

Gimana ya bisa menyatukan mereka.,.eh maap bukan menyatukan pemikiran..udah ngga mungkin deh untuk itu...tapi yang gue maksud adalah menyatukan visi untuk menjalankan komunitas ini dengan banyak kontribusi dari mereka. Karena salah satu visi Kelas Pagi adalah berbagi pengetahuan sebuanyak dan seluas mungkin ke banyak orang. Dari lingkaran terdekat hingga seluruh Indonesia, dan itu ngga mungkin gue lakuin sendiri. Sama dengan negara kita, yang kalo gue liat, negara kita butuh banyak perhatian, dengan banyaknya profesi, kegiatan, agama, suku, kepercayaan…pulau-pulau di Indonesia, katanya...kalo ngga salah ada lebih dari 13.000 pulau ya...trus...kalo gue nyetir 1 jam dari Jakarta aja bahasanya udah beda...apalagi di Papua, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi. Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Bima, Lombok, Dayak, Sunda, Asmat, Padang, Aceh, Sumba, Sumbawa, Flores...bla bla bla. Coba bayangin berapa suku..berapa bahasa dan berapa kepercayaan, pemikiran…ngga kuat gue kalo jadi presiden Indonesia. Semoga pak Presiden diberi kesabaran ya Tuhan...wakakakakak..

Pertanyaannya adalah,

Bagaimana menyatukan mereka?

Sekali lagi ya netizen yang terhormat...bukan menyatukan kepercayaan...bukan menyatukan pandangan, tetapi menyatukan visi sebagai bangsa Indonesia, yang bisa dikatakan masih piyik, alias muda dibanding dengan umur bangsa lain. Indonesia sejak tahun 1945 merdeka sampai sekarang bisa dikatakan masih belia, baru 75 tahun. Untuk ukuran sebuah negara masih muda ya, mungkin baru anget-angetnya ya...anget angetnya semangat atau anget angetnya masalah...wakakakakak. Indonesia butuh disatukan lagi semangatnya, perlu disatukan lagi visinya. Ayo semangat bangsaku.

Kalo di Komunitas Kelas Pagi, yang perlu disatukan salah satunya adalah semangat belajarnya. Eh...belajar itu butuh semangat lho..butuh dipecut biar “jalan”. Dulu sebagai seorang guru, gue pernah ngeluh saat anak-anak gue males belajar dan buat tugas. Kebanyakan alesan..hadeh…udah gratis…masih males lageee..butet dah..tapi balik lagi ke diri gue, sebagai seorang guru, gue harus bisa memberikan sebuah contoh solusi, bagaimana agar mereka menyatukan kembali semangat mereka.

Kalo mereka ngantuk di kelas, gue ngga pernah nyalahin mereka. Kalo mereka ngobrol di kelas gue ngga pernah menegur mereka. Kalo mereka males buat PR gue ngga akan memberikan hukuman. Menurut gue dari itu semua, ada sesuatu yang harus gue benerin...apalagi anak-anak sekarang ya...kadang gue ngga tau maunya apa, ya iyalah...mereka aja kadang ngga tau maunya apa, apalagi gue bisa ngertiin mereka …wakakakak

Walaupun udah dengan segala kesabaran, dengan cara persuasif, terkadang ngga membuahkan hasil dan ngga membuat mereka at least semangat dikit belajar untuk diri mereka. Balik lagi yang gue bilang di atas, bahwa ya tiap manusia membawa latar belakangnya masing-masing dan juga mungkin membawa masalahnya di dalam kelas. Gue muter otak gue…mikir gimana caranya buat mereka semangat ya, gimana membuat mereka bersatu dalam semangat belajar yang gila-gilaan.

Bagaimana Menyatukan?


Waktu itu..ya waktu itu..gue lupa kapan..tapi yang jelas waktu itu diadakan pertandingan sepak bola di Gelora Bung Karno Senayan antara Indonesia dan Malaysia, di saat Indonesia banyak demo rusuh ini itu, ya gue akhir-akhir ini ngerasa di saat kita sebagai bangsa seharusnya maju bersama. Masih aja banyak ketidakpuasan demo yang menyuarakan kepercayaannya seolah tanpa memikirkan hal di luar kelompok mereka. Dan tau ngga...saat malam diadakan pertandingan sepak bola Malaysia vs Indonesia diselenggarakan, mendadak demo tidak ada. Kita bangsa Indonesia sama2 memakai atribut merah putih, mengumandangkan lagu Indonesia Raya dengan bangganya. Tua muda, berbagai macam ras berkumpul bersatu sebagai bangsa, mendukung kesebelasan Indonesia.

Temen gue nyeletuk,

Ton, ternyata yang bisa membuat kita satu itu jumlahnya hanya 11 orang ya..?

Wakakakakak..iya bener juga ya. Kita mempunyai satu “musuh” yang harus kita kalahkan di arena sepak bola..Menang ngga? Gue ngga inget..tapi yang jelas gue terkesan dengan bagaimana rasanya kesatuan dan semangat saat itu.. Gilak keren! Udah lama gue ngga ngalamin perasaan itu, walaupun gue ngga suka nonton pertandingan sepak bola ya, tapi gue bisa banget ngerasain semangat kita sebagai satu bangsa.

Jika konsep ini kita pakai dalam segala hal untuk menyatukan bisa ngga ya? Iya konsep “mencari musuh” untuk menyatukan kita sebagai sebuah kelompok/negara/komunitas? Bisa?


Gue coba memahami konsep ini, jadi inget dulu saat Indonesia masih dijajah Belanda dan Jepang, nurut gue kita lebih bersatu saat kita mempunyai musuh bersama. Kesatuan dan semangat kita jelas ada yaitu, untuk merdeka. Merdeka atau Mati, coretan itu banyak tersebar di mana-mana. Kita ingin merdeka sebagai bangsa Indonesia.

Sekarang saat kita ngga punya musuh dari luar...siapa musuh kita? Hidup udah enak, kemana-mana pake mobil ac, angkutan umum udah ada sound system dengan subwoofer keren, memutar lagu indie kekinian. Mau makan tinggal pencet aplikasi…dateng sendiri, diantar makanannya, pilihannya banyak, mau keluar malem ngga usah selalu takut, apakah nyawa bakal ilang atau ngga. Mau sekolah juga banyak pilihan yang mendukung kesenangan kita, hmmm apa lagi….?

Siapa musuh kita sekarang? Mulai timbul ketidaksetujuan ini itu..pusing ngga sih jadi pemimpin negara? Iya sih, tapi gue selalu punya pikiran, kita seharusnya punya inisiatif untuk mikirin kemajuan diri kita sendiri walaupun kita hidup dan bernegara di Indonesia. Kalo loe mau nungguin rejeki nemplok ke loe, atau ngarepin orang bantu elu..ngga akan sampe2..semua punya kesibukan sendiri-sendiri coy

Kembali lagi ke pembicaraan gue di atas, kalo dikorelasikan diri gue sebagai seorang guru yang sedang mendidik anaknya untuk lebih baik, bukan gue yang bisa ngerubah hidup mereka, tetapi mereka harus mempunyai kesadaran dan inisiatif untuk maju, tanpa mengeluh dengan sistem yang ada.

Nyokap gue bilang ke gue.

Jangan complain dan ngeluh terus, loe akan jadi orang yang kalah.

Yaa gue setuju, kalo loe ngga setuju gimana? Ya cabut aja…kalo loe berada dalam lingkungan pekerjaan yang ngga loe suka gimana?..ya jangan ngeluh..cabut aja dan buktiin bahwa loe bisa kerja sendiri dan buat sistem loe sendiri dan ngidupin banyak orang.

Gue sebagai guru mungkin pusing ya cari cara untuk memotivasi agar mereka punya semangat untuk belajar...kalo dipikir-pikir udah enak lho belajar di tempat gue...udah gratis, mereka belajar sesuai dengan kesenangan mereka, yaitu memotret. Dikasih minum sama gorengan gratis...enak kan? Tapi kok ya, masih ada yang ngga semangat…musuh mereka adalah diri mereka sendiri.

Gue tau bahwa masing-masing mereka membawa masalahnya dari luar kelas tapi saatnya gue menyatukan mereka, semangat mereka..yoi coy…dan apa yang gue lakukan adalah apa? Yoi coy, seperti yang gue bilang di atas..Gue “mencari musuh” di luar kelompok kami.

Apa sih yang paling diinginkan anak-anak gue saat itu? Mereka ingin banget membuktikan bahwa karya mereka keren dan layak dipamerkan, dan akhirnya mendapatkan apresiasi dari orang lain. Sederhana kok, tapi sangat berarti untuk mereka. Kemudian saya berdiskusi dengan mereka untuk membuat sebuah pameran, tetapi pameran itu bukan pameran seperti biasanya, kali ini pameran akan kita lakukan di tembok Basecamp, sebuah sekolah fotografi ternama di Indonesia. Wakakakakak…Kelas Pagi adalah sebuah sekolah fotografi dengan segala keterbatasannya, kami tidak mempunyai fasilitas yang sama dengan sekolah berbayar lainnya dan saat murid-murid ditantang untuk berpameran di depan Basecamp sekolah fotografi lainnya apakah mereka semangat?....Yaiyalaaaahhh, mereka pengen banget buktiin bahwa mereka juga bisa buat karya yang sama atau lebih dengan sekolah fotografi lainnya.

Hahahahaha..seru coy...yang gue bilang pameran di depan Basecamp sekolah lain itu artinya emang bener-bener di depan sekolah mereka ya, Kita mempersiapkan cetakan foto untuk kita tempel di depan pagar sekolah mereka, dan itu tanpa ijin. Selama ngga ngelanggar hukum sih ok ok aja nurut gue..

Gue bilang ke murid-murid gue,

Tolong tempel yang baik ya dan buat karya sebaik mungkin sesuai dengan kepercayaanmu.

Yasss, yang terjadi adalah sebuah semangat dan persatuan yang kuat di dalam kami. Semangat untuk belajar membuat foto terbaik. Dan yang terjadi di sekolah yang kami vandal pagernya adalah hmmmm mungkin buat mereka kesel ya..gimana ngga kesel...pager sekolahnya di vandal dengan foto-foto kami..dan gue yakin kalo mereka punya jiwa saing yang baik mereka ngga akan mau kalah dengan karya-karya yang kami sajikan di depan pager sekolah mereka. Bisa aja mereka melakukan pembalasan ke Basecamp kami..berani? Ayo gue tunggu karya kalian di “halte seberang”..itu yang gue inginkan..persaingan yang sehat..semua akan maju.

Jadi gue ingin bilang…

Hai Indonesia, apakah kita terpecah sekarang?

Apakah loe ngga inget tujuan kita bersama?

Kalo ya..mungkin kita harus mencari “musuh kita bersama”…cari musuhmu yang dapat menyemangati kita semua.


Mulai dari menantang diri kalian untuk melakukan perubahan kecil dalam hidup kalian.

Gue yakin langkah kecil itu ngga akan sia-sia.

Indonesia Maju yoks!



NANTIKAN TULISAN ANTON ISMAEL SEASON 2

TUNGGU TANGGAL RILISNYA

HANYA DI