Opini.id
Pop Culture
Human Interest

BELAJAR JADI
ORANG TUA

By Anton Ismael

Ini adalah sebuah tulisan yang gue dedikasikan untuk anak gue bernama Rampa. Dia nyuruh gue menulis ini.

Gue mempunyai seorang anak perempuan, lahir setelah dua tahun pernikahan kami. Sama seperti pasangan muda yang baru menikah, gue dan istri mengharapkan seorang anak karena…hmm...agar ada penerus, dapat menjadi “terang” dan pembawa kebahagiaan di keluarga kecil kami...hmm...

Hmmm..sesaat gue menulis ini, kok rasanya jadi bingung ya...gue mencoba untuk flashback...sebenernya kenapa ya gue pengen anak. Menjadi penerus visi gue yang belum terselesaikan? Dia juga bisa ngerawat gue kalo gue ntar tua?

Iya gue tau...adanya anak itu akan membuat hidup gue lebih bahagia karena ada yang diajak ngobrol, ada yang dijaga dan akan menjaga loe. Setiap manusia mempunyai alasannya masing-masing tentang hal ini. Serasa sudah menjadi hal natural untuk beranak pinak. Tapi yang jelas gue inget, dulu saat gue mengharapkan hadirnya seorang anak, yang ada di kepala gue adalah mimpi-mimpi dan harapan indah ke anak gue. Anak ku ayu dhewe, anakku pinter dhewe, anakku gantheng dhewe...orang Jawa bilang begitu. Anakku yang tercantik, terpintar, terbaik, dan ter yang lainnya.

Manusia yang beranak pinak ini nantinya akan mengganti generasi kita dan meneruskannya, menggerakkan dunia ini ke masa depan dengan pengetahuan yang mereka dapat dari didikan sekolah dan orang tua. That is for sure. Begitu penting peran orang tua dalam memberikan pandangan dan arahan ke anak-anaknya.

Gue jadi inget, dulu pas SMP gue dipanggil kepala sekolah, saking bandelnya. Ada dua anak yang dipanggil. Satu lagi namanya Budi. Kami udah bolak balik buat keonaran di sekolah, dimulai dari berantem sesama pelajar di sekolah dan di luar sekolah, bolos kelas udah gak terhitung banyaknya, sampe hal hal yang sampe sekarang gak berani gue omongin di tulisan ini wakakakak malu…buka aib…

Kami ditanya oleh kepala sekolah, ”Ton, apakah kami (pihak sekolah) dapat mengubah kamu menjadi lebih baik?”, seorang kepala sekolah menanyakan pertanyaan sarcasm (nurut gue ya) ke gue yang waktu itu masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Batin gue ngedumel, ”Ya elu yang harusnya tanya diri loe, apakah loe mampu ngedidik gue jadi baek.”…Loe tau gak yang terucap dari mulut gue apa? Gue jawab pertanyaan kepala sekolah gue begini, ”Bu, ibu ngga bisa ngeubah saya atau Budi, coba deh bayangin berapa persen saya dididik di sekolah dibanding saya dididik di rumah? dan berapa perbandingan banyak jumlah guru dan murid di sekolah ini?”

Gue meneruskan bicara, “Saya berada di sekolah sebanyak 20 persen dibandingkan saya di rumah. Saya duduk bersama 39 kawan saya di dalam kelas, yang belum tentu guru di depan kelas tau nama gue...Iya, tau nama gue aja ngga, gimana mau ngeubah gue jadi baek. bisa bayangin ngga buk, berapa besar pengaruh sekolah dalam diri saya…., ya hanya 20 persen. 20 persen.” Ibu kepala sekolah hanya terdiam ngga merespon balik ke gue. Gue ngeliat mukanya bingung.

Iya, bener gue bilang itu, gue masih inget sampe sekarang, karena mungkin gue heran ke diri gue sendiri ya, kok bisa-bisanya bilang begitu. iya sok tau guenya…eh, tapi sekarang setelah gue berumur 45 tahun dan telah melewati banyak hal dalam hidup, kalo dipikir-pikir bener juga sih ya…”sekolah” mempunyai peran yang sangat kecil dibanding peran orang tua kita masing-masing.

Orang tua punya bagian lebih banyak untuk mendidik anaknya.

Oh iya, btw, yang gue maksud dalam hal pendidikan di sini adalah pendidikan hidup/moral/akhlak ya. Bukan pendidikan mata pelajaran seperti matematika, fisika, biologi, bahasa dll.

Pendidikan Moral


Nurut gue pendidikan moral, sosial secara praktik nyata itu pewunthing banget. Pentiiiiiiinnnnnggggggg banget...nget nget…Gue udah ngalamin...percaya deh ini hal nyata! Nyata banget, bukan boongan. Ya kalian udah liat contohnya sendiri kan..loe coba liat sosial media deh...ada tuh banyak orang pinter, tapi kelakuannya kek anjing…kepintaran tanpa moral jadinyanya bahaya untuk kelanjutan yang lebih lama.

Setelah sekarang gue punya anak dan sadar betapa pentingnya diri gue sebagai orang tua dalam mendidik anak, barulah gue glagepan/bingung..hayooh loe! Seperti eksperimen, gak berkesudahan, dari metode ke metode gue coba dalam mendidik anak gue, Rampa. Dan gue yakin loe di luar sana banyak yang jumpalitan “bereksperimen” dalam mendidik anak, tetapi dengan satu tujuan yang sama, agar ekperimen kita semua menghasilkan kualitas manusia yang baik, pintar, sukses, soleh, rajin berdoa, kaya, cantik, ganteng, folowers banyak, dan masuk surga.

Udah tau bahwa peran orang tua itu krusial dalam menghasilkan kualitas manusia, tapi kenapa ya kok ngga ada sekolah kejuruan “HOW TO BE A GOOD PARENT” ya?

Kalo dipikir-pikir, jadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup dan anak kita itu katanya penting banget ya, melebihi apapun. Kerjaan utama kita tinggalin untuk nganter anak yang sakit ke dokter, blum lagi urusan sekolah, yang kadang kita ditelepon, suruh ngadep wali kelas karena anak kita buat ulah di sekolah. Belum lagi..amit-amit jabang baby kalo anak kita kena narkoba...hadeeeh...dan satu triliun masalah yang membutuhkan atensi kita sebagai orang tua. Yang ada, dari kita sebagai orang tua adalah harapan dan bagaimana mewujudkan harapan baik ke anak dengan eksperimen-eksperimen edukasi yang kita jalankan.

Apakah ada cara baku mendidik anak? Dasarnya aja deh, ada ngga ya? Rasanya kita semua juggling dengan ini. Main sirkus dan gue juga liat banyak hal, bagaimana orang tua ngerasa ngga berhasil ngedidik anaknya menjadi baik, dan akhirnya menjadi patah hati...mereka udah berusaha sekuat tenaga...istilahnya kita udah belajar rajin tiap hari tapi tetep aja ngga naek kelas…darrrr!

Tiap orang tua punya caranya sendiri, sesuai dengan kebutuhan, keadaan sosial mereka, kemampuan ekonomi, dan lain-lain. Dalam kesempatan ini gue mau sharing gimana gue ngedidik anak gue...mungkin bisa jadi masukan, tapi tolong disaring lagi ya wakakakak, karena banyak orang yang gak setuju dengan teori dan praktik gue..agak ekstrim sih, katanya, tapi ya ini gue...cara gue, anak gue Rampa.

Ini Kepercayaan Gue

Gue percaya bahwa seorang anak itu adalah seperti sebuah canvas kosong, bersih pada awalnya. Ia hadir ke dunia ini tanpa sebuah konsep. Seorang manusia yang bersih, polos, tanpa pandangan arah, konsep agama, tanpa ilmu pengetahuan apapun. Secara fisik pun ia belum bisa melakukan apa-apa. Kasarnya kalo kita memberi kepercayaan bahwa tangan adalah anggota tubuh untuk berjalan, maka ia akan belajar berjalan dengan tangan. Kalo dari kecil kita mencontohkan ia bicara menggunakan kedipan mata, maka ia pun akan melakukannya.

Contoh konkretnya adalah sebuah konsep agama yang dipeluknya adalah agama yang dipeluk oleh orang tua. Segala pengetahuan dan kepercayaan itu dibentuk oleh orang terdekat...ya...orang tua...kemudian gue bertanya ke diri gue...ini kepercayaan siapa? Kepercayaan gue atau kepercayaan anak gue?...Silahkan jawab sendiri ya…karena gue tau bahwa kepercayaan yang gue jalani ini adalah kepercayaan yang berasal dari orang tua, dan turun temurun, bener gak?

Ngeri gak sih berpikir bahwa dunia ini sebatas apa yang kita percaya? Seorang manusia polos yang hadir ke dunia ini, dengan segala kemungkinan yang bisa ia raih, ilmu pengetahuan tanpa batas, perspektif, bukan hanya cara pandang kita.

Kamu adalah kamu,

aku adalah aku,

semua orang berbeda dengan kepercayaannya.

Bukankah anakmu berhak melihat hal yang tak pernah kamu lihat?

Dari Pemikiran ini Gue Melakukan Sesuatu. Jadi gini…anak gue saat masih kelas 6 SD, gue bilang ke dia, ”Dek, setelah ini jangan tinggal di rumah terlalu lama ya.” Ya, jelas aja dia bingung denger bapaknya bilang gitu. Kalo kita kelamaan di satu tempat, nanti loe kecetak, seperti mie goreng bekal makan siangmu, yang terlalu lama di dalam kotak bekal dari pagi. Pada saat loe mau makan di siang hari, mie goreng udah terbentuk.

Mengerikan sekali ya kalo anak gue ntar kebentuk dengan persepsi gue, kebentuk jadi apa yang gue percaya. Gue aja masih gak jelas hidupnya...wakakakakak...malah kadang berasa masih muda. Maap maap ni ya netizen yang terhormat, loe ga harus setuju dengan pemikiran gue.

Setelah itu, yang gue lakukan ngirim anak gue ke Jogjakarta, terpisah dengan tempat tinggal kami di Jakarta. Ia tinggal bersama neneknya, yang masih dengan pemikiran “kuno”, seperti jangan pulang malam, menyapa orang yang lebih tua adalah baik dan terhormat, di sore hari ngobrol bersama, nyapu kamar, beresin kamar sendiri...ya gitulah...dan apa yang terjadi saudara-saudara…darrrrr! Semua itu ngga dilakukan Rampa. Hahahahahahaha, hampir tiap dua hari sekali gue dapet keluhan dari Jogja, Rampa berantem lagi sama neneknya…eyel-eyelan lagi…hahahahaha pusing...komunikasi cucu dan nenek tidak terjalin dengan baik. Rampa yang tadinya tinggal di metropolitan Jakarta, dengan perkembangan anak jaman sekarang, yang begitu cepat dipengaruhi media sosial, yang udah mencokol otaknya...hadeh…gak bergeming, tapi ya gitu emang kalo gue pikir, anak sekarang taunya banyak lewat socmed ya.

Tujuan gue sebenernya pengen ngasih liat, ada hal selain mall!

Ngeri banget ya kalo anak gue dibangun kepercayaannya dengan sebuah kebudayaan mall setiap weekend. Cari tumbuh-tumbuhan di metropolitan, ini hampir ga ada. Cita-cita gue saat itu “melempar” anak gue di lokasi tanpa internet wakakakak, yang ada hanya tanah, tanaman, rumah yang terbuat dari kayu, dan pemandangan orang-orang yang bekerja di pagi hari, nyawah, berkebun, dengan pembicaraan sederhana, tanpa politik dan gosip konspirasi sosmed. Bicara tanpa ilmu pengetahuan tinggi, bicara dengan pengaruh alam yang lebih kental, ditemani kejadian sederhana yang mudah-mudahan menambah nilai kemanusiaannya. Tapi gue gak tega...nyampenya cuma di Jogja..di rumah neneknya.

Belum berakhir SMP gue memindahkan Rampa ke tempat yang lebih jauh, jauh dari siapapun yang ia kenal. Gue mulai mencari tempat mana yang dapat mempengaruhi anak gue dengan “kebaikan.” Dan akhirnya gue menemukan sekolah, di sebuah kaki bukit, di daerah Mae Rim, dekat Chiang Mai, Thailand.

Banyak temen gue yang bertanya, kenapa sih gue sebegitu tega ngirim Rampa, anak gue satu-satunya, kesana, tapi ya gitu...sorry ya bro...ini kepercayaan gue...bahwa “loe akan menjadi orang yang dekat dengan loe”. “Loe akan menjadi orang males kalo loe gaul sama orang males”, “loe akan jadi tempe kalo loe makan tempe terus”, loe akan melihat cahaya kalo loe tinggal di alam yang bercahaya”, “loe akan belajar dari alam kalo loe tinggal di alam”.

Akhirnya Rampa pindah ke sana. Berkumpul dengan teman-teman barunya dari negara lain, seumuran, namun dengan latar belakang dan perspektif berbeda. Dan yang terpenting untuk gue adalah jauh dari doktrin gue sebagai bapak.Gue membiarkan ia di sana, telpon kadang2 saja. Gue berusaha tidak terlalu ikut campur. SUSAH! RASANYA UDAH DI UJUNG LIDAH PENGEN NGOMONG INI ITU...tapi gue berusaha ngga bicara…kepercayaan gue adalah kepercayaan gue, kepercayaan Rampa biarlah dibentuk oleh sekitarnya, kawan, guru, sekolah, dan keberadaanya di alam yang gue percaya memberikan “kebaikan”.

Gue sengaja membiarkan anak gue dalam konfrontasi, yang terjadi di antar kawan-kawannya, biasalaaah namanya juga anak2…biarlah mereka belajar bersosialisasi, gak semua apa yang mereka mau itu bisa terlaksana. You have to compromise. Satu hal yang menarik saat gue bertanya ke salah satu pengajar di sekolahnya, tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Rampa di sekolah..dan ia menjawab, ”There are no rules, Rampa, but there are concequences”...“Gak ada aturan, yang ada hanyalah konsekuensi” Gilak! Menurut gue itu dalem banget dan sepemikiran dengan kebebasan yang gue anut. Bahwa kita boleh melakukan apa aja di dunia ini tetapi loe harus siap dengan konsekuensinya.

Loe boleh ngga belajar di kelas, tapi konsekuensinya mungkin loe gak naek kelas.

Kalo loe gak naek kelas artinya loe harus bayar lagi untuk uang sekolah.

Kalo loe bayar lagi uang sekolah artinya bokap loe gak akan ada tabungan lebih untuk biayayain loe kuliah.

Kalo loe gak bisa kuliah, artinya loe harus nunggu setahun agar bokap loe bisa punya kekuatan lagi,

kalo bokap loe ngga bisa artinya loe harus kerja untuk bantuin bokap loe…daannn seterusnya.

Gue suka, karena anak-anak di sekolah ini akan diajarkan bukan hanya untuk menuruti aturan, tetapi diajarkan untuk bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan. Hasek.

Rampa telah belajar di tempat ini selama 3 tahun, mau tau nggak, apakah ia berubah? Berubah menjadi anak yang gue harapin? Misalnya, ikut bantuin ngepel rumah, cuci piring, nyapu, ikut bantuin urusan rumah lah pokoknya…..enggak! ahahahahahahahaha..eh menurut gue kegiatan2 itu adalah simbol bagaimana loe peduli dengan sesama loe. Bersama2 kita hidup di sini bukan hanya dengan kita sendiri, dan menurut gue kegiatan itu adalah simbol respect kita ke orang lain.

Kesimpulannya adalah melatih anak gue di kehidupan yang nyata, kehidupan dimana gak semua yang loe mau bisa loe lakuin, nurut kehendak loe. Dah deh sana berantemlah, bercekcoklah, bereksperimenlah dengan pergaulan temen2 loe dek. Penerimaan dan penolakan, rasakan itu dan pelajari itu. Kamu akan hidup sendiri di tengah-tengah mereka nantinya. Respect others, respect others perspective and believes.

Kita berada dalam satu dunia dengan pandangan yang beragam. Istilahnya dalam era kita sekarang, yang ada adalah global citizen. Secara simbol, yang gue ambil adalah sebuah kata-kata yang sering gue bicarakan setiap saat ke murid-murid gue, #keluartumbuhliar . Pengartian simbol ini adalah coba loe bayangin sebuah tanaman bunga yang ada dalam pot, itulah anak kita, dia akan tumbuh dengan indah karena kita sirami setiap saat, kita kasih pupuk, kita rawat...tetapi kalo cara gue...gue cabut tanaman itu dan gue lempar di hutan...untuk sesaat tanaman itu akan layu...tetapi gue yakin setelah itu akar tanaman akan mulai menancap ke tanah barunya dan menjalar terus...kemudian tanaman itu akan bertunas dan menjadi tanaman bunga liar yang kuat dari pada tanaman yang ada dalam pot. Ya..menjadi kuat dan menjadi tanaman yang sebenarnya.

Jika tidak berhasil bagaimana? Bagaimana jika tanaman itu akan mati..? layu? Hopefully not..jika memang ia layu, setidaknya ia telah merasakan menjadi tanaman sebenarnya. Setidaknya, anak gue bisa melihat hal tanpa batasan batasan gue. Rampa bukan canvas gue. Dia harus kuat dan melihat apa yang belum terlihat oleh gue..

Harapan baik ke dia itu pasti...Pendidikan untuk gue adalah “membiarkan.”

Apakah gue udah berhasil? Apakah anak gue udah baik? gue gak berani berucap...saat gue berucap dan berpendapat, gue yakin itu adalah harapan gue dan kepercayaan gue...tapi gue sangat yakin bahwa proses yang gue jalanin ini adalah yang terbaik, walaupun gue tetep juggling main sirkus dengan metode ini. She is not the best kid tetapi perubahan baik mulai terjadi. Dari hal hal kecil, seperti pembicaraan yang mulai mengarah ke dalam kehidupan yang bukan hanya melulu membicarakan hal duniawi. Nurut gue, perubahan kecil adalah sebuah prestasi yang patut kita hargai, langkah kecil untuk kita mungkin itu adalah langkah besar untuk anak kita.

Hargai!


Jangan patah semangat para orang tua. Gue juga masih berusaha dengan segala tenaga dan pikiran gue. Semoga anak-anak kita menjadi anak yang baik dan mereka mempunyai kepercayaan mereka sendiri, yang bisa mereka banggakan. Dan, most of all, mereka bisa menjadi baik bersama dan di dalam semesta ini.

AMIN!


NANTIKAN TULISAN KE-4 ANTON ISMAEL BERIKUTNYA

JUMAT, 5 FEBRUARI 2020

HANYA DI