Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#ekonomi

Burger King dkk Jangan Sedih, Pengunjung Restoran Naik kok Selama PSBB

Gambaran solidaritas karena pandemi sampe ke brand-brand ternama, termasuk Burger King. Tapi emang beneran pengunjung restoran cepat saji sesepi itu?

Edo Juvano  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Menyesuaikan kondisi di tengah situasi yang sulit kayak sekarang ini emang gak gampang. Di tengah banyaknya perusahaan yang ngalamin penurunan pendapatan, solidaritas antar manusia memang sangat dibutuhkan. Gambaran solidaritas ini juga sampe ke brand-brand ternama, tak terkecuali sama apa yang dilakuin sama Burger King baru-baru ini. Tapi emang beneran pengunjung restoran cepat saji sesepi itu?

Strategi marketing yang kata anak ahensi mah “marketing malaikat” ini juga dilakuin sama restoran lain, contohnya Gokana. Tapi tipe strategi kayak gini cuma ampuh buat yang brand-nya udah gede dan brand-brand yang disebut juga sama gedenya. Jadi, buat lo yang baru ngerintis UMKM jualan cireng, jangan coba-coba dah pake strategi kek gini, terlalu risky. Dipandang sebagai pahlawan kagak, beneran kagak ada yang beli iya.

Balik lagi nih ke masalah pengunjung restoran, terutama yang cepat saji selama pandemi. Faktanya, semenjak relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah kota-kota besar, ternyata terjadi kenaikan jumlah pengunjung di restoran.

Photo by Luke Prins on Unsplash
Photo by Luke Prins on Unsplash

Meskipun terdengar menyenangkan, tetap ada hal yang harus dikorbankan; relaksasi PSBB gak diikutin oleh penerapan protokol kesehatan yang ketat. Makanya, di saat yang bersamaan ada kenaikan angka penularan COVID-19 sejak Agustus 2020. Itu sebabnya beberapa daerah kembali memperketat kebijakan PSBB buat menekan tingkat penularan virus. Contohnya kayak DKI Jakarta yang nerapin PSBB jilid II pertengahan September lalu, salah satu dampaknya ya larangan makan dine-in di restoran.

Tapi artikel kali ini gak bakal ngomongin soal dampak dine-in terhadap peningkatan penyebaran virus. Melainkan kejadian anomali yang menunjukkan bahwa justru dengan adanya PSBB, kunjungan orang-orang ke restoran cepat saji justru malah naik.

Fast Food Jadi Pilihan Warga Saat Pandemi

Menurut riset oleh Mandiri Institute, pada bulan September angka kunjungan ke restoran mencapai 53% lebih tinggi dari kunjungan normal. Daerah yang nunjukin angka kunjungan tertinggi adalah Makassar yang nyampe 68%. Sedangkan daerah yang tingkat kunjungan restorannya turun adalah Bogor, 40% lebih rendah dari biasanya, itu juga gara-gara ada pemberlakuan jam malam buat seluruh aktivitas usaha, termasuk restoran.

Photo by Toa Heftiba on Unsplash
Photo by Toa Heftiba on Unsplash

Riset dilakukan dengan metode live tracking, ngumpulin data dari 7.780 restoran di 8 kota besar. Data berasal dari Google Maps yang ngasih beberapa informasi kayak tingkat kunjungan, waktu kunjungan terpopuler, review dan lainnya pada periode 17-20 September 2020.

Masih dalam bulan yang sama, angka kunjungan restoran cepat saji naik hingga tembus 62%. Menurut kesimpulan dari riset tersebut, restoran cepat saji merupakan restoran yang lebih cepat pulih. Pasalnya sejak bulan Juli, restoran cepat saji selalu mendominasi angka kunjungan dibandingkan tempat makan lain.

Mungkin kondisi menyedihkan yang dimaksud Burger King itu ada di Ibu Kota. Gimana enggak, dampak PSBB jilid II ngefek banget buat sektor restoran di Jakarta. Pas PSBB jilid II kan ada larangan makan di tempat yak, nah di situlah angka kunjungan ke restoran di sekitaran Jakarta turun sampe 19%.

Soalnya, di daerah-daerah penyangga ibu kota kayaknya aman-aman aja. Malah di Depok, Tangerang Kota, dan Tangerang Selatan restoran-restorannya mengalami kenaikan pengunjung. Di Tangsel aja angka pengunjung restoran pada periode 17-20 September naik signifikan mencapai 59%.

Pengunjung Mall di Beberapa Kota Besar Juga Naik

Hal serupa juga terjadi pada angka kunjungan ke pusat perbelanjaan di bulan September. Tingkat pengunjungnya masih sama dengan angka Agustus, sebesar 57%. Apalagi angka kunjungan di kota-kota besar kayak Jakarta dan Makassar yang di atas angka kunjungan rata-rata.

Kesimpulannya, mau itu di Jakarta, mau di Bogor, kalo udah ketemu yang namanya PSBB, dampaknya signifikan banget terhadap kunjungan ke restoran. Kalo lakuin relaksasi, yang jadi tantangan berikutnya adalah gimana ningkatin kepatuhan masyarakat terhadap penerapan protokol kesehatan yang ketat di restoran terutama untuk dine-in. Karena tanpa adanya kepatuhan masyarakat dan pelaku usaha, serta pengawasan dan penegakkan aturan protokol kesehatan oleh pemerintah, minat masyarakat untuk dine-in di restoran masih akan rendah.

Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation