Opini.id
Pop Culture
Human Interest
 
SCROLL
 
 
 
 
 
 
 
 
Di samping pengaruh pandemi yang melanda dunia hingga saat ini, penduduk usia produktif Indonesia memang memerlukan program vokasi untuk “upgrade skill” atau memperkaya kemampuan mereka sebelum memasuki dunia kerja.
Misi inilah yang ditawarkan pemerintah melalui program Kartu Prakerja. Kebetulan COVID-19 tengah melanda, mereka yang putus sekolah, serta korban PHK bisa mendapatkan ilmu tambahan untuk bangkit dan berdaya di era new normal. Sebelum terlalu jauh mengulas apa yang membuat diadakannya program ini oleh pemerintah, ada baiknya jika kita mengetahui latar belakang masalah yang mempengaruhi dunia kerja di Indonesia. Beberapa di antaranya berapa jumlah penduduk usia produktif Indonesia serta jumlah pengangguran di usia tersebut.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Berapa Angka Usia Masyarakat Produktif Indonesia?
0
Jiwa Pada 2020
135.340.000
Laki-Laki
134.270.000
Perempuan
Usia Belum Produktif
66,07 JT
0 - 4 tahun
Usia Produktif
185,34 JT
15 - 64 tahun
Usia Sudah Tidak Produktif
18,2 JT
65+ tahun

Berdasarkan data proyeksi penduduk 2015-2045 hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2015, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 269,6 juta jiwa pada 2020. Angka tersebut terdiri atas 135,34 juta jiwa laki-laki dan 134,27 jiwa perempuan.

Sebanyak 66,07 juta jiwa masuk kategori usia belum produktif (0-4 tahun), kemudian sebanyak 185,34 juta jiwa merupakan kelompok usia produktif (15-64 tahun), dan sebanyak 18,2 juta jiwa merupakan penduduk usia sudah tidak produktif (65+ tahun). Saat ini Indonesia memasuki era bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding usia tidak produktif (usia belum produktif + usia sudah tidak produktif).
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Berapa Jumlah Pengangguran Indonesia di Tahun 2020?
jumlah angkatan kerja
feb 2020
0
kenaikan dibanding
februari 2019
0
Tingkat partisipasi
angkatan kerja ( tpak )
0
% poin
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Mei 2020 lalu, jumlah angkatan kerja pada Februari 2020 sebanyak 137,91 juta orang, naik 1,73 juta orang dibanding Februari 2019. Berbeda dengan naiknya jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turun sebesar 0,15% poin.
tpt menurun
Februari 2020
0
%
pengangguran
bertambah
0
tpt sekolah menengah
kejuruan tertinggi
0
%
Dalam setahun terakhir, pengangguran bertambah 60 ribu orang, berbeda dengan TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka) yang turun menjadi 4,99% pada Februari 2020. Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih yang paling tinggi diantara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 8,49%.
penduduk yang
bekerja
0
penduduk bekerja
dari februari 2019
0
Penduduk yang bekerja sebanyak 131,03 juta orang, bertambah 1,67 juta orang dari Februari 2019. Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terutama Jasa Pendidikan (0,24% poin), Konstruksi (0,19% poin), dan Jasa Kesehatan (0,13% poin). Sementara lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan terutama pada Pertanian (0,42% poin), Perdagangan (0,29% poin), dan Jasa Lainnya (0,21% poin).
pekerja sektor
informal
74.040.000
pekerja sektor formal
meningkat ( feb 2019 - feb 2020 )
0,77
% poin
Sebanyak 74,04 juta orang (56,50%) bekerja pada kegiatan informal. Selama setahun terakhir (Februari 2019–Februari 2020), persentase pekerja formal meningkat sebesar 0,77% poin.

Persentase tertinggi pekerja pada Februari 2020 adalah pekerja penuh (jam kerja minimal 35 jam per minggu) sebesar 69,90%. Sementara itu, pekerja tidak penuh terbagi menjadi dua, yaitu pekerja paruh waktu (23,74%) dan pekerja setengah penganggur (6,36%). Dalam setahun terakhir, persentase pekerja setengah penganggur turun sebesar 1,01% poin, sedangkan persentase pekerja paruh waktu meningkat sebesar 1,07% poin.
 
 
 
 
 
 
 
 
Penyebab Banyaknya Jumlah Pengangguran Usia Produktif di Indonesia
Pada dasarnya, pengangguran disebabkan karena jumlah para pencari pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada. Meski demikian, ketidaksesuaian atau kurangnya kemampuan seorang individu terhadap pekerjaan yang tersedia juga bisa menjadi faktor lain.
Jika ditelaah berdasarkan penyebabnya, pengangguran dapat dipicu oleh beberapa faktor:
  • Sedikitnya lapangan kerja sehingga sulit memperoleh pekerjaan.

  • Siklus ekonomi yang fluktuatif.

  • Minimnya lapangan kerja yang sesuai dengan bidang keahlian yang ada.

  • Kemuduran ekonomi yang menyebabkan perusahaan memutuskan hubungan kerja.

  • Perkembangan zaman tanpa adanya pelatihan atau kemampuan yang tepat bagi pekerja.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pandemi Juga Berdampak pada Naiknya Jumlah Pengangguran di Indonesia
Sejak pandemi COVID-19 menyerang Indonesia di awal tahun 2020, perekonomian Indonesia terkena dampak buruk dan secara tidak langsung turut memengaruhi melonjaknya angka pengangguran, seperti apa yang dipaparkan oleh data Badan Perencanaan Nasional (Bappenas).
tingkat pengangguran
terbuka (tpt) 2020
8,1%-9,2%
angka pengangguran
diperkirakan naik
4-5,5jt
Bappenas memperkirakan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada 2020 mencapai 8,1% hingga 9,2% dan angka pengangguran diperkirakan naik 4 hingga 5,5 juta orang.
tingkat pengangguran
terbuka (tpt) 2021
7,7%-9,1%
angka pengangguran
diperkirakan naik
10,7jt-12,7jt
Pada 2021, TPT diperkirakan mencapai kisaran 7,7% hingga 9,1%. Jumlah pengangguran juga diprediksi meningkat antara 10,7 juta sampai 12,7 juta orang. Angka tersebut naik dibandingkan jumlah pengangguran pada Februari tahun ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2020 sebesar 4,99% dengan jumlah pengangguran sebanyak 6,88 juta orang.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Lantas, Apa Solusi yang Diinginkan Masyarakat?
1. Bantuan tunai
Contoh: Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Sosial Tunai (BST), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)
2. akses mudah ke lapangan kerja
Contoh: Bursa Kerja atau Job Fair
3. pelatihan
Contoh: Kartu Prakerja
 
 
 
 
 
 
 
 
Bagaimana Kartu Prakerja Bisa Membantu Masyarakat yang Membutuhkan Pekerjaan?
Kartu Prakerja adalah program pengembangan kompetensi kerja dan kewirausahaan yang ditujukan untuk pencari kerja, pekerja yang terkena PHK, dan/atau pekerja yang butuh peningkatan kompetensi, termasuk pelaku usaha mikro dan kecil. Melalui Kartu Prakerja, peserta akan mendapat:


  • Bantuan dari pemerintah berupa uang atau insentif, dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan selama pandemi atau selama belum mendapat pekerjaan.

  • Keterampilan dari pelatihan yang diikuti.

  • Kartu Prakerja tidak hanya membantu penerima, tetapi juga memberdayakan mereka, jadi bisa juga berfungsi sebagai semi bantuan sosial untuk membantu masyarakat terdampak pandemi.

  • Lebih dari 2.000 jenis materi pelatihan dan peserta bisa memilih sesuai minatnya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
Rincian insentif yang didapatkan
Pagu Pelatihan
1.000.000
Insentif
600.000
x 4 bulan
Insentif Mengisi Survey Kebekerjaan
50.000
x 3 kali
Total
3,55 juta
Per Penerima Kartu Kerja
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Data digunakan sebagai modal usaha
contoh 1

Tanpa keterampilan lain ditambah tidak memperkirakan terkena PHK, membuat Olivia kebingungan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Peruntungan dia coba mendaftar program Kartu Prakerja.

Olivia menjalani pelatihan daring dan pendampingan dari April hingga Agustus 2020. Tahap pertama, dia diberikan tutorial melalui video selama dua pekan.

Olivia kemudian menggunakan uang insentif yang dia dapat dari program Kartu Prakerja senilai Rp 1,7 juta sebagai modal awal. Penghasilan dari bisnisnya kini cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Setidaknya lebih besar dari gaji yang biasanya ia terima senilai Rp 1,2 juta per bulan saat bekerja sebagai karyawan kafe.
contoh 2

Merebaknya virus corona membuat perempuan asal Cimahi, Teni Tri Wahyuni (30) memutar otak untuk mencari penghasilan tambahan.

Teni mencoba membantu menambah pendapatan suaminya (freelancer) yang turun dengan menghidupkan lagi bisnis kue yang sebelumnya pernah ia rintis tahun lalu lewat program pelatihan Kartu Prakerja.

Dari berbagai pelatihan yang tersedia, Teni menjatuhkan pilihan pada program pelatihan Cara Jitu Mengawali Bisnis Roti dari Rumah milik platform Pintaria. Selama 3 bulan, Teni menemukan berbagai solusi atas kendala usahanya.

Kartu prakerja memang bukan hanya untuk mengembangkan kompetensi kerja bagi para pencari kerja dan buruh yang membutuhkan, tapi juga untuk menciptakan para wirausahawan sektor UMKM.
 
 
 
 
 
 
 
 
Data Terbaru Gelombang, Jumlah Kuota, dan Pendaftar Kartu Prakerja
Per 14 Oktober 2020, Kartu Prakerja sudah membuka 10 batch dengan rincian:
Pendaftar
Registrasi Di Website
36.6 Juta
Lolos Verifikasi Email
24.6 Juta
Lolos Verifikasi NIK & KK
19 juta
Lolos Verifikasi Nomor Ponsel
17,2 Juta
Sk Penerima
5.597.179
Penerima
Telah Membeli Pelatihan
5,19 Juta
Telah Selesai Minimal Satu Pelatihan
4,77 Juta
Telah Menerima Insentif
4,55 juta
Dicabut Dari Kepesertaan
310.212
(Batch 1-7)
Insentif Tersalurkan
Rp 3,97
Triliun
Berdasarkan paparan data yang diolah dari Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja tersebut, dapat dilihat bahwa animo masyarakat Indonesia cukup besar terhadap program ini.

Kartu Prakerja juga beradaptasi dengan mengubah prioritas program selama situasi pandemi ini dari upgrade skill menjadi semi-bansos. Mereka yang sudah memiliki kemampuan tertentu juga masih bisa reskill dengan mengambil pelatihan lain yang diminati.


Targetnya juga diprioritaskan khusus untuk masyarakat yang terkena dampak ekonomi karena pandemi COVID-19, sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 2 ayat 6 Permenko No. 11 tahun 2020:
  • Pekerja/buruh yang terkena PHK.

  • Pekerja/buruh yang membutuhkan peningkatan kompetensi kerja, termasuk pekerja/buruh yang dirumahkan dan pekerja bukan penerima buruh, termasuk pelaku usaha mikro dan kecil.

  • Para pencari kerja dan pekerja/buruh yang dimaksud harus dari kalangan Warga Negara Indonesia(WNI), dibuktikan dengan KTP.

  • Berusia paling rendah 18 tahun.



Pemerintah juga menaikkan anggaran kartu prakerja menjadi Rp 20 triliun. Artinya, anggaran kartu prakerja ini naik dua kali lipat dari anggaran awal yang sebesar Rp 10 triliun.