Opini.id
Pop Culture
Human Interest
Media
#ekonomi

Belajar dari Jepang Saat Pasar Kebanjiran Dolar

Penasehat khusus PM Jepang Shinzo Abe memberikan masukan soal kebiijakan moneter yang harus diambil negara terdampak krisis.

Project Syndicate  |  
Lonjakan Kasus Covid-19 Naik Saat Libur Panjang. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Ketika pandemi COVID-19 mendorong perekonomian global ke dalam resesi, godaan untuk menerapkan pelonggaran moneter semakin meningkat. Bank Sentral AS sudah menurunkan suku bunga hingga hampir nol dan berkomitmen untuk menyuntik triliunan dolar ke dalam perekonomian. Bank Sentral Eropa juga sudah meningkatkan pembelian obligasi, meskipun pengadilan konstitusi Jerman melakukan perlawanan dalam hal ini. Seperti pelonggaran yang terjadi setelah krisis keuangan pada tahun 2008, kebijakan ini juga akan dirasakan dampaknya di seluruh dunia melalui fluktuasi nilai tukar.

Seorang wanita menggunakan masker saat menaiki eskalator di kawasan bisnis yang sepi di hari pertama bekerja setelah liburan Minggu Emas, ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Tokyo, Jepang, Kamis (7/5/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Kyung-Hoon
Seorang wanita menggunakan masker saat menaiki eskalator di kawasan bisnis yang sepi di hari pertama bekerja setelah liburan Minggu Emas, ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Tokyo, Jepang, Kamis (7/5/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Kyung-Hoon

Guncangan besar terhadap perekonomian, misalnya karena bencana alam atau wabah penyakit, cenderung untuk meningkatkan nilai mata uang negara yang terkena dampaknya. Ketika gempa bumi Kobe terjadi di Jepang pada tahun 1995, nilai yen menguat terhadap dolar AS, meskipun dampak ini tidak langsung terjadi. Gempa Bumi Besar Daerah Timur Laut Jepang pada tahun 2011 punya dampak yang lebih kuat, mendorong penguatan yen yang terbesar sepanjang sejarah dengan nilai ¥76 per dolar AS.

Baca Selengkapnya
Add comment
Mau menayangkan konten kami? Cek  
Panduan Republikasi
Recommendation