Sejarah Tahun Saka Sebagai Hari Raya Nyepi | OPINI.id
Sejarah Tahun Saka Sebagai Hari Raya Nyepi

Salah satu hari libur nasional yang unik di Indonesia adalah Tahun Baru Hindu atau lebih dikenal dengan sebutan Hari Raya Nyepi. Di tahun 2019 atau Tahun Saka 1941 ini perayaan Hari Raya Nyepi akan dilaksanakan pada hari Kamis-Jumat, tanggal 07 hingga 08 Maret.

Adanya Hari Raya Nyepi yang dirayakan oleh umat Hindu di Indonesia tak lepas dari sejarah atau kondisi India di masa sebelum Masehi. Kala itu India diwarnai dengan pertikaian yang panjang antara suku bangsa. Mereka memperebutkan kekuasaan sehingga penguasa (Raja) yang menguasai India berganti dari suku yang satu ke suku yang lain, yaitu: suku bangsa Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa, dan Saka. 

Diantara suku-suku itu yang paling tinggi tingkat kebudayaanya adalah suku Saka. Kekuasaan yang dipegang Raja Kaniskha I saat itu tidak dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya, tapi digunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa dalam sebuah persatuan. Pada tahun 79 Masehi, Raja Kaniskha I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. 

Peti mati Raja Kaniskha - British Museum.

Semenjak itu, bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Akibat toleransi dan persatuan itulah, sistem kalender Saka juga semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu.

Nah, bagaimana dengan penerapan tahun Saka (Caka) di Indonesia? Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia. Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia yang dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi.

Sementara itu, di zaman Majapahit, tahun Saka dicantumkan dalam Kitab Negarakertagama, hingga benar-benar eksis menjadi kalender kerajaan. Di Kerajaan Majapahit kala itu setiap bulan Caitra (Maret), Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. 

Di alun-alun Majapahit, berkumpul seluruh kepala desa, prajurit, para ilmuwan, Pendeta Siwa, Budha dan Sri Baginda Raja. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat. Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negarakertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII, XII, LXXXV, LXXXVI - XCII.

Sementara itu, di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan perayaan yang kita kenal hingga saat ini yaitu Hari Raya Nyepi, berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Perpaduan budaya (akulturasi) Hindu India dengan kearifan lokal budaya Hindu Indonesia (Bali) dalam perayaan Tahun Baru Saka (Caka) inilah yang menjadi pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang kita ketahui hingga saat ini. 

Nyepi berasal dari kata 'sepi atau 'sipeng' yang berarti sepi, hening, sunyi dan senyap. Seperti namanya perayaan tahun baru saka bagi umat Hindu di Indonesia ini dirayakan sangat berbeda dengan perayaan tahun baru lainnya. Dimana perayaan tahun baru umumnya identik dengan gemerlapnya pesta dan kemeriahan maupun euforia tetapi umat Hindu merayakan Nyepi justru dilaksanakan dengan menyepi, hening, sunyi dan senyap.

Saat Hari Raya Nyepi umat Hindu melaksanakan catur brata penyepian atau empat pantangan yaitu: amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati geni (tidak menyalakan api), dan amati lelangunan (tidak bersenag-senang). 

Suara.com

Perayaan Nyepi mengandung makna dan tujuan yang sangat dalam dan mulia. Seluruh rangkaian Nyepi merupakan sebuah dialog spiritual yang dilakukan umat Hindu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis sehingga ketenangan dan kedamaian hidup bisa terwujud.

Tak hanya itu, Tahun Baru Saka juga memiliki makna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Apakah kamu pernah liburan ke Bali saat Hari Raya Nyepi, seperti apa kondisinya?
Pernah, pengalaman berbeda, sunyi, terasa sakral
Pernah, tapi liburannya jadi ga seru
Belum pernah, ingin tahu juga sih
18 votes

Komentar

Fresh