Hidup dengan Fashion ‘Dandies’ di Negara Miskin | OPINI.id
Hidup dengan Fashion ‘Dandies’ di Negara Miskin

Congo merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Namun, hidup di tengah kemiskinan tidak membuat masyarakatnya bergaya seperti akan menghadiri fashion week.

Jika kalian beruntung, kalian akan mendapati orang-orang yang dengan pedenya berjalan menggunakan alligator boots dan setelan desainer di tengah jalanan Congo yang kotor. Orang-orang ini adalah para pecinta fashion yang tergabung dalam komunitas ‘La Sape’ atau yang dapat juga diartikan dengan ‘The Society of Ambianceurs and Elegant People’. Pakaian yang mereka gunakan bukanlah pakaian modis yang sembarangan, melainkan barang-barang luxury dari merk ternama seperti Kenzo, Armani, dan Yves Saint Laurent.

Gerakan ‘dandies’  ini bukanlah suatu gerakan yang muncul karena maraknya teknologi dan tren dari luxury clothes, melainkan sudah ada sejak tentara Congo berperang di Prancis saat WW2. Saat mereka pulang ke Afrika, mereka membawa baju-baju dengan style keren khas Paris.

Salah satu anggota dari gerakan ini adalah Maxime Pivot. Ciri khasnya adalah setelah yang berwarna-warni. Bahkan, ia pun menyebut dirinya sendiri ‘the king of color’. Semua orang mengelu-elukan namanya kemanapun ia pergi. ‘Raja pakaian!’ ‘Kebanggaan daerah kita!’ teriak mereka, sambil berlutut dan mengangkat tangan.

RT

Hidup dalam keadaan sangat miskin, gimana ya cara mereka membeli baju-baju itu? Kan harganya mahal banget?

“Aku menabung untuk membeli sepatu ini,” kata Pivot dalam wawancaranya dengan RTD. “Aku membutuhkan waktu hampir 2 tahun. Jika aku tidak membeli sepatu ini, aku harus membeli sepetak tanah,” katanya dengan bangga. Ia juga mengatakan bahwa menjadi ‘tuan’ dari baju dan aksesoris desainer menambah martabat dan harga dirinya. “Aku harus membeli sepatu ini.”

Hebatnya lagi, mereka tidak mau memakai barang yang palsu. Jika mereka menggunakannya, pasti orang-orang langsung tahu. Selain itu, mereka juga berlomba-lomba dalam membeli pakaian sehingga mereka mempunyai koleksi yang banyak.

RT

“Ada persaingan di antara kita. Harga sangat berpengaruh.” Kata salah satu anggota La Sape lainnya, Severin Muengo.

Dibalik penampilan mereka yang keren sekaligus nyentrik, ternyata banyak perjuangan yang harus dilakukan. Mengumpulkan baju terasa persis seperti narkoba, addicting. Demi sebuah label harga, mereka harus menabung, meminjam, bahkan mencuri.

“Ini adalah senjata, mereka membunuh.” Kata Muengo sambil menunjuk ke arah tumpukan aksesoris desainer.

Apakah kamu tipe orang yang mau merogoh kocek demi fashion?
Pasti!
Nggak ah, sesuai budget aja
3 votes

Komentar

Fresh