Sejarah Barongsai, Atraksi Unik Saat Imlek | OPINI.id
Sejarah Barongsai, Atraksi Unik Saat Imlek

Saat perayaan Imlek, pasti banyak diantara kita yang melihat pertunjukan Barongsai, biasanya disajikan di pusat-pusat perbelanjaan maupun di klenteng. Barongsai yang dikenal dengan sebutan Tarian Singa atau Lion dance ini merupakan bagian dari budaya Tionghoa, yaitu tarian dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa.  

Barongsai tidak hanya dimainkan pada perayaan-perayaan atau festival penting  saja seperti pada perayaan ritual Imlek (Spring Festival) dan Cap Go Meh (Lantern Festival), tetapi juga pada upacara-upacara penting lainnya seperti peresmian perkantoran, toko, pusat perbelanjaan, restoran, hotel, rumah, upacara pernikahan, festival budaya, kelenteng dan peristiwa penting lainnya.

Catatan sejarah pertama tentang tarian Singa ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke 3 sebelum Masehi. Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan-Bei), Dinasti Selatan adalah penerus Dinasti Jin dan Dinasti Utara adalah Wei Utara, tahun 420-589 Masehi. 

Konon, kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda. Kemudian, baru pada Dinasti Tang dan Dinasti Song, barongsai menjadi pertunjukan di berbagai festival, salah satunya pada tahun baru China, Imlek.

Bagi warga tionghoa, barongsai, adalah simbol dari binatang Singa yang berani, dipercayai memiliki kekuatan mistis dan magis yang dapat mengusir roh atau spirit jahat serta membawa keberuntungan, kemakmuran, kebahagiaan dan kedamaian.

Tak hanya itu, barongsai tidak hanya berfungsi sebagai media seni hiburan semata, tetapi merupakan juga sebuah bentuk spiritual dalam mengekspresikan semangat, harapan, optimisme , keberanian dan persatuan.   

Pasti kamu bertanya-tanya mengapa singa bisa jadi salah satu tradisi Tionghoa?. Seperti kita ketahui, singa memang bukanlah binatang asli dari habitat di negeri Tiongkok. Tetapi menurut sejarahnya sejak zaman Dinasti Han (206 BC - 220 AD), Tiongkok sudah mempunyai hubungan perdagangan, budaya dan diplomatik dengan negara-negara lain di Asia Tengah dan Barat melalui jalur sutera, seperti salah satunya dengan Persia (Dinasti Sasaniyah).

Konon saat itu,  utusan atau pedagang dari Persia menghadiahkan beberapa Singa ke Tiongkok, Tiongkok mengagumi binatang tersebut. Akhirnya seiring perjalanan waktu, singa diadopsi kedalam tradisi budaya serta masuk kedalam alam imajinasi rakyat Tiongkok, sehingga citra singa jadi binatang mistis seperti juga naga.

Sejak itu singa dijadikan lambang keberanian, kekuatan, kepercayaan diri dan keberuntungan serta menjadi salah satu binatang yang dimuliakan. Tak hanya itu, sebutan istilah Singa, "Shi" di Tiongkok hampir serupa dengan sebutan "Shir" dalam bahasa Persia, dan "Singh" di India.   

Singa juga sejak 3000 tahun yang lalu di Mesopotamia sudah menjadi simbol kekuasaan dan kepercayaan agama, begitu juga di Persia dan India yang mendapatkan pengaruh dari Timur Tengah dan Mesopotamia. Pada situs Buddha di Gua Dunhuang, Gansu, ditemukan sebuah brokat yang menampilkan gambar Singa pada kaki Buddha Sakyamuni. Singa juga digunakan sebagai kendaraan Bodhisattva Samantabhadra.

Maka jika ditinjau dari sudut sejarah, seperti ajaran Buddha, asal mula Barongsai dan patung Singa sebenarnya adalah sebuah inspirasi budaya dan kepercayaan dari produk interaksi peradaban tinggi (Persia dan India maupun Srilangka) yang diadaptasi dalam kebudayaan, kepercayaan dan peradaban Tiongkok.

Seni budaya dan tradisi memiliki nilai-nilai luhur, pesan moral maupun budi pekerti?
Setuju banget
Ragu-ragu
Ga semua ah
28 votes

Komentar

Fresh