Angklung Badud Seni Tradisi Yang Nyaris Punah | OPINI.id
Angklung Badud Seni Tradisi Yang Nyaris Punah

Pasti banyak diantara kita yang mengenal alat musik angklung. Tak hanya itu angklung juga telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Dunia (The Intangible Heritage) oleh UNESCO. Tapi tahukah kamu jika seni angklung ini sebenarnya banyak ragamnya?, salah satunya adalah seni Angklung Badud, yang berasal dari Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat.

Seni angklung badud termasuk ke dalam rumpun seni pertunjukan jenis helaran/arak-arakan, pawai, atau karnaval. Seni pertunjukan ini tidak hanya menggunakan alat musik angklung (nada pentatonis) sebagai pengiringnya tapi juga menggunakan alat musik pukul yang disebut dogdog. Angklung Badud dalam pertunjukannya mengiringi juga beberapa permainan yang di dalamnya terdapat sisingaan, momonyetan, bebegukan, ular naga dan kuda lumping. 

Sementara, kata Badud bisa diartikan Energik, atau Dinamis. Hal ini bisa terlihat dari sifat dan karakter pertunjukan seni ini, di mana nada-nada yang dihasilkan oleh hentakan Angklung, pukulan Dogdog, rancaknya gerakan para penari, dan bergeloranya semangat penari kuda lumping yang bergoyang mengikuti irama musik.

Seni Angklung Badud di Kampung Parakanhonje, Kel. Sukamaju Kaler, Kec. Indihiang, Tasikmalaya, Jawa Barat, mulai dikenal masyarakat sekitar tahun 1970-an. Biasanya pertunjukan ini disajikan untuk mengarak dan menghibur pengantin Sunat atau anak lelaki yang baru selesai di sunat.

Sementara seni angklung Badud di Desa Margacinta, Kec. Cijulang, Kab.Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat, sudah dikenal masyarakat disana sejak tahun 1880.  Pada awalnya, pergelaran seni Badud ini menjadi bagian dari ritual saat panen tiba, yaitu pada sesi iringan masyarakat membawa hasil panen untuk dimasukkan ke dalam lumbung yang ada di desa.  

Namun pertunjukan ini juga ditampilkan untuk mengiringi pengantin sunat yang menaiki Kuda Renggong (kuda yang bisa menari) keliling kampung dengan diikuti oleh pertunjukan lainnya.  Untuk menambah ketertarikan masyarakat, seni Badud kemudian disandingkan dengan seni debus yang menggunakan gerakan silat. Sandingan debus tidak bertahan lama, namun unsur mistis dalam bentuk trans (kesurupan) masih tetap dipertahankan.

Sayangnya seni angklung Badud dari Ciamis maupun Tasikmalaya ini sedikit demi sedikit semakin terancam punah setelah masuknya jenis kesenian lain yang lebih modern. Saat ini seni angklung badud sudah jarang dipentaskan karena sudah kalah bersaing dengan jenis kesenian lain yang dianggap lebih menarik oleh masyarakat maupun anak muda zaman now. 

Saat berkunjung ke satu daerah, pernahkah kamu menyaksikan pertunjukan angklung tradisional?
Pernah
Baru tahu sekarang
Ga pernah
1 votes

Komentar

Fresh