Sederet Kasus Jelang Pilpres yang Bikin Panas | OPINI.id
Sederet Kasus Jelang Pilpres yang Bikin Panas

Jelang Pilpres 2019 harusnya setiap media bisa konsisten menjaga emosi masyarakat, tentunya dengan menyajikan berita-berita yang tidak pro satu sama lain dengan etika jurnalistik yang seimbang. Tapi, tampaknya di Indonesia tidak berlaku lagi guys.

Soalnya banyak orang yang hobi dan memelintir isu isu yang ada. Buktinya, hoax seakan tidak pernah mati dan punah. Bicara soal Pilpres, di masa kampanye ini banyak sekali kejadian-kejadian yang sebenarnya tidak bisa dikaitkan dengan pemerintahan tapi di cocok logikan oleh netizen atau mungkin buzer dari kubu-kubu lawan. Seperti beberapa kasus di bawah ini yang dikaitkan dengan rezim Jokowi.

Kasus Bahar bin Smith

Selama Jokowi masih jadi pemimpin Indonesia, sudah pasti citra dan slogan yang disematkan oleh kubu lawan yaitu Kriminalisasi Ulama tetap ada selamanya. Seperti kejadian yang baru-baru ini. Siapa lagi kalau bukan Bahar bin Smith.

Pada awalnya, Bahar diperiksa terkait kasus penghinaan kepada Kepala Negara. Bayangin aja, Jokowi dibilang perempuan, pakai rok, dan bahkan bisa haid. Logikanya, sebenci-bencinya dengan orang tetap harus ikut tata krama yang ada, karena negara ini ada undang-undangnya. Setelah itu, Bahar pun resmi ditahan terkait kasus penganiayaan terhadap bocah di bawah umur. Videonya beredar luas.

Lucunya masih banyak logika bengkok dikalangan netizen yang mengomentari konten-konten seputar Bahar bin Smith. Ada yang beranggapan, ini adalah rezim yang anti ulama dan Islam. Kriminalisasi ulama, pokoknya serba anti deh. Padahal sudah jelas salah dan ada bukti penganiayaan terhadap remaja tersebut.

Pemotongan Nisan Salib di Yogya

Sebuah nisan salib Albertus Slamet Sugihardi dipotong bagian atasnya.Kasus ini pun viral di media dan media sosial.Banyak yang menyebarkannya dengan anggapan tidak toleransi. Padahal jelas, permasalahannya bukan tidak toleransi. Pemotongan salib merupakan kesepakatan warga agar tidak menggunakan simbol agama dalam pemakaman. Ini semua kata Bedjo Mulyono selaku tokoh masyarakat setempat loh!

Menanggapi isu tidak toleransi ini, Gubernur DIY yang juga Raja Keraton Ngayogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pun angkat bicara soal pemotongan nisan salib di pemakaman Jambon, Purbayan RT 53 RW 13, Kotagede, Yogyakarta.

Sultan mengatakan yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang viral di media sosial. Dia juga menampik adanya penolakan warga atas pemakaman itu. Menurut Sultan, warga sekitar mempersilakan jenazah nonmuslim dimakamkam di pekuburan itu.

Tidak ada konflik berbau agama dalam perkara ini. Justru malah para warganya sangat toleransi yaitu membolehkan tetangganya yang non muslim dikebumikan di Pemakaman Jambon yang mayoritasnya pemakaman umum tapi lebih banyak muslimnya. Bahkan pihak keluarga dan warga sebelumnya sudah sepakat tidak ada simbol agama di makam itu.

Muslim Uighur di Negeri Bambu

Beberapa media yang tentunya berbasis Islam menyoroti kasus intoleran yang terjadi di China terhadap warga muslim Uighur yang berdiam di Provinsi Xinjiang. Keadaannya pun makin terpuruk dan memburuk. Ada 20 juta penduduk muslim di China.

ermasuk etnis Hui yang salah satu nenek moyangnya adalah Laksmana Cheng Ho, pemimpin armada muslim Tiongkok ke nusantara beberapa abad lalu. Namun, dibanding etnis lainnya, warga Uighur dilaporkan menerima tekanan lebih besar dari aparat pemerintah yang berpusat di Beijing. Kasus ini pun dikaitkan dengan keadaan di Indonesia.

Ada oknum yang membandingkannya dengan sikap toleransi orang muslim di Jakarta. Mereka (oknum) tidak terima dengan perlakuan warga China terhadap muslim di negara panda ini. Bahkan, ada beberapa netizen yang berkomentar untuk melakukan hal serupa di Indonesia yaitu tidak bertoleransi terhadap etnis China.

Kamu sendiri suka ikutan panas gak baca berita model begini?
Kadang suka panas
Gak biasa aja
65 votes

Komentar

Fresh