Cerita Andy F. Noya Bagi-Bagi Buku | OPINI.id

Andy F. Noya punya cerita ironi saat membagikan buku ke pelosok daerah. Ia melihat anak-anak di daerah sangat antusias saat membaca buku. Namun, anak-anak daerah sulit untuk dapat buku yang berkualitas. Daya beli jadi masalah anak-anak didaerah karena harga buku yang mahal. Padahal buat jurnalis senior ini buku sangat penting dalam kemampuan analisis, sumber ilmu pengetahuan dan jendela dunia. Sebagai generasi ‘bapuk’ internet Bang Andy punya nilai unik terhadap buku, buku tetap tak tergantikan.

Buku Punya Aroma Yang Khas

Buat Bang Andy yang tumbuh di zaman kurang internet buku jadi sumber informasi paling murah. Dulu internet masih mahal dan susah diakses. Makanya Bang Andy punya nostalgia tersendiri saat dia membaca buku. “Bagi orang seumur saya buku cetak punya nilai yang berbeda. Harumnya kertas itu khas, beda ketika kita pakai gadget,” ungkap Bang Andy. Selain jadi sumber pengetahuan baca buku jadi penghilang stress. Anak-anak didaerah pun bisa mengalami stress dengan jam sekolah dari pagi hingga sore. Belum lagi mereka bantu pekerjaan kedua orang tuanya. “Dengan membaca anak-anak ini tingkat stress bisa turun. Setelah ia membaca buku cerita bergambar,” cerita pengalamannya saat berbagi buku. Gak cuma bisa redakan stres Bang Andy juga cerita buku punya peran penting latih analisis untuk anak-anak. Membaca buku untuk anak-anak merupakan proses bepikir kritis, anak-anak bisa dapatkan informasi yang kaya. Saat proses berpikir kritis ini dikembangkan anak-anak bisa menganalisis suatu permasalahan yang mereka hadapi.

Anak-anak di Daerah Sulit Dapatkan Buku

Pada dasarnya anak-anak suka membaca buku. Mereka tertarik buku-buku bacaan bergambar yang interaktif. Namun, gak semua anak punya kesempatan yang sama bisa baca buku, terutama anak-anak di daerah. Sulitnya akses ke daerah pelosok ngebuat kehambatnya distribusi buku. Sekalipun ada harganya mahal. Sehingga, daya beli masyarakat desa untuk beli buku menjadi kurang. Ini jadi masalah utama kesempatan anak-anak baca buku gak merata. Menurut Bang Andy berbagi buku ke daerah pelosok menjadi penting. Memberikan buku yang berkualitas sama saja kasih kesempatan anak-anak di daerah buat baca buka yang kurang mampu beli buku. “Karena ini (donasi buku) jadi sebuah gerakan. Maka, soal daya beli menjadi hilang. Anak-anak bisa dapat buku berkualitas tanpa harus membeli,” kata Duta Baca Indonesia tersebut.

BCA Wujudkan Mimpi Anak di Daerah Baca Buku

Bareng Andy F. Noya duta baca Indonesia, Bank BCA berbagi 43.734 buku ke pelosok Indonesia. Ada 111 sekolah di 60 area Indonesia yang dapat buku. 43.734 buku habiskan dana Rp 2.553.000.000 didapat dari sumbangan nasabah dan kontribusi BCA. Buku yang dibagikan terdiri dari buku cerita anak, buku pengetahuan umum dan buku pembentukan karakter. Bank BCA melihat anak-anak Indonesia udah lupa baca buku di zaman serba internet. Masalah juga dialami anak-anak didaerah yang gak punya akses dapat buku berkualitas. Padahal buku jadi jendela dunia bagi penerus bangsa. “Mengajak kembali minat baca anak-anak dan masyarakat khususnya di daerah supaya mereka bisa dapatkan buku-buku yang berkualitas seperti di kota,” kata Santoso Direktur Bank BCA. Santoso ingin budaya membaca di masyarakat terus digalakkan. Dengan membaca masyarakat bisa dapat pengetahuan umum dan mampu berpikir kritis. Terutama di zaman serba internet buku menjadi penangkal beredarnya kabar bohong. Kalo kita punya bekal pengetahuan yang cukup dan kritis maka saringan informasi ada dibenak individu masing-masing. Lewat gerakan #BukuUntukIndonesia dari Bank BCA Santoso ingin mengajak masyarakat untuk terus membaca terutama di daerah pelosok. Buku menjadi jembatan informasi dan pengetahuan bagi mereka yang tinggal dipelosok karena kurangnya internet. Oleh karena itu Bank BCA ingin beri kesempatan yang sama ke masyarakat di daerah agar bisa membaca buku berkualitas.

Rekor MURI Donasi Buku Terbanyak

Gerakan #BukuUntukIndonesia mendapatkan rekor berbagi buku terbanyak dari MURI. Kata Jaya Suprana Ketua MURI rekor ini bahkan bisa dibilang rekor dunia. Karena belum ada bank di dunia berbagi buku sebanyak 43.734 buah. “Saya belum pernah tuh liat bank di dunia yang bagi-bagi buku sebanyak ini. Kayanya cuma bank BCA,” guyon Jaya Suprana saat pidato. Bukan cuma banyak buku yang dibagikan, sumbangsih ini punya nilai lebih. Gerakan #BukuUntukIndonesia udah angkat nilai-nilai seperti pendidikan, kebudayaan dan kemanusiaan. Mengingat buku adalah sumber ilmu pengetahuan dan juga sebagai tiang peradaban. Terlebih gerakan ini mendukung peradaban di daerah agar punya kesempatan yang sama untuk baca buku. “Tiap pemberian rekor MURI diiringi harapan bagi bangsa Indonesia. Supaya rekor tersebut bisa jadi suri teladan bagi masyarakat untuk memajukan peradaban dengan kemampuannya masing-masing,” kata Jaya.

Kamu suka baca buku gak?
Suka
Enggak
13 votes

Komentar

Fresh