Sanita Rini Tolak Pernikahan di Usia Muda | OPINI.id

Sanita Rini adalah Co-Founder of Youth Coalition for Girls, sebuah organisasi yang secara aktif bergerak untuk melakukan perlindungan dan advokasi terhadap masalah-masalah anak perempuan dan pernikahan dini. Ia juga menjadi anggota Advokasi Lembaga Perlindungan anak Rembang (LPAR).

Tidak Berhenti Bersuara Menolak Pernikahan di Usia Muda

Angka perkawinan dini di Indonesia semakin meningkat. Berdasarkan laporan UNICEF dan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, hampir tercatat sekitar 1000 anak perempuan Indonesia menikah muda setiap harinya. Hal ini disebabkan karena pendidikan, budaya, dan status ekonomi. Pengalaman ini pula pernah dialami Sanita Rini, perempuan asal Desa Sanetan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tidak sampai menikah muda, tetapi ia pernah akan dijodohkan oleh orang tuanya pada usia 13 tahun, tepatnya ketika ia duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dijodohkan Dua Kali

Tidak hanya sekali, tetapi dua kali Sanita Rini hampir dijodohkan oleh orang tuanya. Sanita pun menolak perjodohan tersebut dengan alasan ingin melanjutkan pendidikan. Menurutnya, di desa ia dilahirkan, banyak orang tua menganggap bahwa seorang anak perempuan sudah cukup umur untuk dinikahkan bila sudah duduk di bangku SMP. Asumsi ini bermaksud untuk mengurangi beban dan tanggung jawab orang tua yang akan pindah ke suami ketika anak mereka sudah menikah. Tentu, hal ini membuat Sanita berontak. Ia menolak demi melanjutkan sekolahnya. Setelah gagal menjodohkan Sanita pada waktu SMP, untuk kedua kalinya, tepat ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), lagi-lagi ia dijodohkan. Tentunya, niat orang tuanya tersebut ditentang kembali oleh Sanita. Namun, kali ini ia menolaknya dengan pendekatan komunikasi yang dilakukan selama dua tahun. Akhirnya, kedua orang tuanya pun luluh dan menuruti keinginan Sanita untuk menyelesaikan sekolah. “Menolak perkawinan anak yang direncanakan orang tua tidaklah mudah,” katanya. “Saya memiliki hak untuk memutuskan kapan dan dengan siapa akan menikah nanti. Saya berusaha meyakinkan kedua orang tua kalau menghentikan perjodohan ini adalah keputusan yang tepat bagi mereka,” tuturnya dalam salah satu acara diskusi.

Pengalaman Mendorongnya Untuk Terus Bersuara

Di desa kelahirannya, perkawinan anak sudah menjadi tradisi yang mendarah daging. Tentu, akibat perkawinan di usia dini, banyak dari mereka yang tidak bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi dan kehilangan masa remaja. Dari pengalamannya yang berhasil keluar dari jeratan pernikahan dini, mendorong Sanita untuk menolak perkawinan anak tidak hanya pada keluarganya, tetapi kepada banyak anak lagi, terutama di desanya. Ia pun mengajak anak-anak di desanya untuk bergerak bersama menghentikan tradisi tersebut. Pada usia 13 tahun, ia mendirikan organisasi anak desa Sanetan, dan setahun setelahnya, ia membangun PIK-R Remaja untuk wadah anak. Tidak sampai di situ, Sanita juga bekerja sama dengan KPAD Gencar, untuk melakukan sosialisasi pada masyarakat mengenai dampak perkawinan anak. Ia bahkan menjadi pencetus tentang peraturan desa setempat yang melarang anak menikah di bawah usia 18 tahun. Perempuan yang berhasil mendapatkan gelar sarjana di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YPPI Rembang ini, juga aktif dalam Youth Coalition for Girls, sebuah koalisi yang membantu anak perempuan untuk menjalani potensi dalam dirinya dan menjadi anggota Advokasi Lembaga Perlindungan Anak Rembang. Penulis: Irene Wibowo

Komentar

Fresh