Beda Tari Saman dengan Ratoeh Jaroe | OPINI.id

Saat pembukaan Asian Games 2018 diawali dengan tarian asal Aceh yang terdiri dari 1.600 penari dari 18 SMA se-DKI Jakarta. Banyak orang menyebut tari yang disajikan adalah Tari Saman, ternyata tarian Aceh ini bukan Saman melainkan Ratoeh Jaroe atau sering disebut juga Ratoh Jaroe. Apa perbedaannya?

Jenis Tari

Sebelum kita bahas perbedaan Tari Saman dan Ratoeh Jaroe, kita bahas dulu tentang jenis tari di Indonesia yang dibagi menjadi dua yaitu tari tradisional dan tari kreasi baru.

1. Tari Tradisional

Tari tradisional merupakan bentuk tarian yang sudah lama ada yang berasal dari suatu daerah yang mencerminkan kebiasaan masyarakat tertentu dan berkembang di daerah tersebut, lalu diwariskan secara turun-temurun sehingga menjadi identitas budaya dari masyarakatnya.

Tari Tradisional terdiri dari:

a. Tari Upacara/Adat atau Tari Primitif
b. Tari Rakyat (folk dance)
c. Tari Klasik

2. Tari Kreasi Baru

Tari kreasi baru adalah tari tradisional yang telah dikembangkan dalam bentuk penyajian tari yang baru, namun masih menggunakan pola-pola tradisi.

3. Tari Kontemporer

Namun ada juga yang disebut Tari Kontemporer, merupakan inovasi dari berbagai macam tarian yang mendapatkan sentuhan modernisasi. Inovasi yang lazim dilakukan pada jenis tari ini terdapat pada musik pengiring, gerakan, dan properti yang digunakan oleh para penari. Pada intinya sebuah tarian dapat dikatakan sebagai tari modern/ kontemporer jika tidak memiliki gerak pakem atau aturan sebagaimana gerakan pada tarian tradisional/ tarian adat.

Perbedaan Tari Saman dan Ratoeh Jaroe

Tari Saman termasuk jenis tari Tradisional karena sudah berumur lama, klo peneliti bilang sih sudah berumur 700 tahun, setiap gerakan memiliki filosofi tersendiri dan menjadi ciri khas suatu daerah.

Selain itu, UNESCO secara resmi telah mengakui Tari Saman Gayo dari Provinsi Aceh sebagai warisan budaya dunia tak benda dalam sidang di Bali pada 24/11/2011.

Sedangkan Tari Ratoeh Jaroe masuk dalam jenis tari Kreasi Baru, yang memadukan berbagai gerakan baru yang yang dirangkai dari perpaduan gerak tari tradisional kerakyatan dan tradisional klasik. Ratoeh Jaroe merupakan tari yang menggabungkan gerak tari Saman, Ratoeh Duek, Likoek Puloe, ratep Meuseukat dan Ratoeh Bantai.

Sejarah Tari Saman dan Ratoeh Jaroe

Tarian ini di namakan Saman karena diciptakan oleh seorang Ulama Gayo bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi. Tarian ini berkembang di dataran tinggi Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh.

Awalnya, tarian ini hanyalah berupa permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane. Namun, kemudian ditambahkan iringan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT.

Saat itu tari Saman dibawa para ulama untuk menyampaikan pesan moral kebersamaan, kekompakan, keperkasaan, dan kecepatan dalam menyiarkan Islam serta membangun peradaban.

Tari Ratoeh Jaroe Tari Ratoeh Jaroe diciptakan pada tahun 2008 oleh Khairul Anwar, salah satu pengajar tari di sanggar tari Buana di Nanggroe Aceh Darussalam.

Awalnya, tari ini dibuat untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat Aceh dari keterpurukan akibat konflik atau musibah yang terjadi sana. Meski diciptakan tahun 2008, ternyata tari ini baru diberi nama Ratoeh Jaroe pada tahun 2011.

Ratoeh atau Ratoh merupakan bahasa Aceh yang dalam Bahasa Arab disebut Rateb atau Ratib yaitu melakukan pujian-pujian kepada Allah SWT melalui doa-doa yang dinyanyikan atau diiramakan.

Penari

Tari Saman hanya ditarikan oleh pria dengan jumlah ganjil. Biasanya dibawakan oleh 15 -17 orang penari. Yang mempunyai fungsi sebagai berikut :

- Nomor 9 disebut Pengangkat

Pengangkat adalah tokoh utama atau titik sentral dalam Saman yang menentukan gerakan tari, level tari, syair-syair yang dikumandangkan, maupun syair-syair sebagai balasan terhadap serangan lawan main (Saman Jalu atau perlombaan)

- Nomor 8 dan 10 disebut Pengapit

Pengapit adalah tokoh pembantu pengangkat baik dalam gerak tari maupun nyanyian/vokal - Nomor 2-7 dan 11-16 disebut Penyepit Penyepit adalah penari biasa yang mendukung tari atau gerak tari yang diarahkan pengangkat

- Nomor 1 dan 17 disebut Penupang

Penupang adalah penari yang paling ujung kanan-kiri dari barisan penari yang duduk berbanjar. Penupang selain berperan sebagai bagian pendukung tari, juga berperan menupang/menahan keutuhan posisi tari agar tetap rapat dan lurus.

Sedangkan Tari Ratoh Jaroe seluruhnya ditarikan perempuan dengan jumlah genap dan tidak ada pembagian tugas dalam menarikan tarian ini.

Penyanyi atau Pelantun Syair

Tari Saman dikendalikan oleh seorang penangkat (tokoh utama atau titik sentral) dalam Saman yang menentukan gerakan tari, level tari, syair-syair yang dikumandangkan, maupun syair-syair sebagai balasan terhadap serangan lawan main (jika dalam pertunjukan Saman Jalu/perlombaan). Penangkat duduk di dalam formasi penari yang berada paling tengah.

Sedangkan tari Ratoh Jaroe dikendalikan oleh dua orang syahi atau pelantun syair. Pelantun syair berdiri atau duduk di luar formasi duduk/barisan penari.

Bahasa Syair

Meski tari ini sama-sama berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam namun syair tari Saman menggunakan bahasa Gayo karena tari ini berasal dari dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah.

Sedangkan syair Tari Ratoeh Jaroe menggunakan bahasa Aceh.

Iringan

Penyajian tari Saman tidak pernah diiringi oleh musik tradisional apa pun. Saman  hanya diiringi tepukan tangan, tepukan dada, dan syair yang dilantunkan pengangkat dan diikuti oleh para penarinya. Jika dalam istilah seni suara disebut acapela.

Sedangkan tari Ratoh Jaroe biasanya disertai oleh iringan musik rapa'i. Rapa'i merupakan instrumen perkusi asli Aceh, yang dibuat dari bahan dasar berupa kayu dan kulit binatang. Bentuknya seperti rebana dengan warna dasar hitam dan kuning muda. Cara memainkannya dengan dipukul.

Kostum

Kostum penari Saman adalah pakaian tradisional Suku Gayo yang disebut baju kantong dengan motif kerawang (pakaian dasar hitam dengan motif warna kuning, merah dan hijau) dan di kepala dipakai bulang teleng yang disertai daun kepies (saat ini sudah sulit ditemukan sehingga sering diganti dengan daun pandan).

Tari Saman selalu membuka bulang teleng setelah gerakan mulai kencang dan memakainya kembali setelah selesai.

Sementara kostum penari Ratoh Jaroe menggunakan pakaian polos berwarna warni yang dipadu kain songket Aceh dan ikat kepala atau pembungkus kepala yang juga berwarna yang dapat dimodifikasikan atau dikreasikan. Tari Ratoh Jaroe tidak pernah melepas ikat kepala sejak awal sampai akhir menyajikan tarian.

Urutan Tari dan Syair

Tari Saman dibagi dalam beberapa gerakan atau bagian utama dalam posisi duduk; rengum, dering, salam, uluni lagu, lagu, anakni lagu, dan penutup. Rengum merupakan bagian pembuka dari tari berupa auman yang belum berbentuk kata. Dering adalah lanjutan auman yang sudah mempunyai kata-kata. Salam adalah pemberian salam kepada yang hadir atau orang lain yang dihormati. Uluni lagu gerakan lambat sebelum guncang keras. Lagu adalah gerakan yang memiliki banyak variasi. dan Anakni lagu berupa gerakan ringan yang kadang-kadang terjadi selang-seling.

Syair pun dibawakan dalam tiga bagian yaitu: Sek, Redet dan Saur. Sek merupakan alunan suara keras yang merdu dengan nada khas, Redet adalah syair yang dinyanyikan oleh seorang penari (penangkat) dan Saur yang merupakan nyanyian bersama oleh semua penari.

Sementara Ratoeh Jaroe ditarikan dalam bentuk yang lebih sederhana. Gerakan dalam posisi duduk hanya terdiri dari gerakan tangan menepuk dada dan paha, gelengan kepala ke kanan dan ke kiri, gerakan duduk dan berlutut serta mempersilangkan jari dengan penari di sebelahnya yang dilakukan dengan urutan yang lebih fleksibel, dapat berubah dan dikreasikan sewaktu-waktu.

Namun tari ini selalu dibuka dengan salam. Syair pun hanya dinyanyikan sebagaimana biasa tanpa ada bentuk gumaman.

Syair yang dibawakan hanya berupa nyanyian yang dibawakan oleh syahi dan kemudian disahut dan diikuti oleh seluruh penari lainnya.

Banggalah pada Budaya Bangsa Sendiri

Semoga setelah kita mengetahui perbedaan kedua tarian ini, ga bakal salah lagi mengenal profil keduanya, karena kedua tarian ini jelas berbeda dan mempunyai keunikan tersendiri. Tari Ratoeh Jaroe akan tetap menjadi Tari Ratoeh Jaroe, dan Tari Saman akan tetap menjadi Tari Saman. Namun mudah-mudahan tetap membuat kita lebih cinta dan bangga akan keberagaman budaya Bangsa Indonesia.

Tari Saman Aceh Gayo Lues

Tari Saman adalah sebuah tarian suku Gayo (Gayo Lues) yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat.

Tari Ratoeh Jaroe (Ratoh Jaroe)

Ditarikan oleh penari perempuan dengan diiringi musik rapa'i

Tari Ratoeh Jaroe

Tari Ratoh Jaroe ditarikan oleh 6600 penari di Taman Mini Indonesia Indah, pada 24 April 2016

Tari Saman

Pagelaran Tari Saman Massal diikuti 12.277 penari, memecahkan rekor dunia dari Museum Rekor Indonesia ( MURI), Minggu 13 Agustus 2017, di Stadion Seribu Bukit, Kabupaten Gayo Lues, Aceh.

Sumber:

https://www.kemdikbud.go.id/
https://bit.ly/2MDsu2N
https://bbc.in/2w0wrVV
Hasil Penelitian tentang Tari Ratoeh Jaroe https://bit.ly/2weRYt7
Penelitian tentang Bentuk Penyajian Tari Ratoeh Jaroe https://bit.ly/2MAYsNg
Sejarah Tari Saman https://bit.ly/2Bv5O0C 
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah, Aceh.
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Bandung (UPI Bandung).
Buku Pengetahuan Seni Tari, Enoch Atmadbrata
Buku Tari-Tarian Indonesia, Prof. Dr. RM Soedarsono

Komentar

Fresh