3 Tradisi Unik Dilaksanakan Seusai Nyepi | OPINI.id

Nyepi yang berarti sepi yang memiliki arti lenggang,sunyi,dan tentram. Nyepi yang merupakan tahun baru saka umat Hindu di Bali jatuh pada Tilem Kesanga (IX). Pada saat Nyepi tidak ada kegiatan satupun karena masyarakat melakukan Catur Brata Penyepian . Namun setelah merayakan Nyepi ada banyak tradisi yang di lakukan di antaranya :

1. Omed-omedan



Tradisi Omed-omedan memiliki artinya itu tarik menarik. Tradisi ini biasanya dilaksanakan sehari seusai Nyepi. Omed-omedan ini hanya bisa di temui di Banjar Kaja,Sesetan ,Denpasar. Para anak muda yang berumur 17-30 yang belum menikah dapat berpartisipasi mengikuti tradisi ini.

Omed-omedan,salingkedengin,saling gelutin. Diman-diman....
Omed-omedan,besikgelutin,ne len ngedegin ,Diman-diman...

Begitulah lirik lagu yang dinyanyikan saat tradisi ini berlangsung. Tradisi ini memiliki arti tentang memperkuat rasa, Asih,Asah dan Asuh antar warganya.

2. Mebuug-buugan

Tradisi Mebuug-buugan yang berasal dari kata "buug" yaitu tanah atau lumpur. Tradisi yang dilaksanakan di Desa Kedonganan, Kuta Selatan ,Badung ,Bali ini di rayakan sehari seusai nyepi berlangsung. Mebuug-buugan ini biasanya dilaksanakan pada hutan mangrove, para peserta wanita maupun pria akan saling melempar lumpur pada peserta lainnya. Tradisi ini bertujuan untuk membersihkan sifat kotor yang ada di tubuh manusia untuk menyambut tahun baru Agama Hindu.

3.Megoak-goakan

Seusai merayakan Nyepi terdapat tradisi unik yaitu Megoak-goakan. Tradisi ini di adakan di Desa Panji,Kecamatan Sukasada, Buleleng. Tradisi yang sudah dilaksanakan pada zaman kerjaan Buleleng dan masih turun temurun ini tetap dilaksanakan hingga saat ini. Megoak-goakan diambil dari burung goak yaitu gagah. Dalam tradisi ini terdiri dari 11 orang peserta yang melawan kelompokn lainnya yang berjumlah sama. Penentu kemenangan permainan Megoak-goakan ini adalah menangkap anggota lawan paling belakang. Makna yang terkandung dalam filosofi permainan Megoak-goakan mengandung kebersamaan, semangat membela kebenaran, dan jiwa kepemimpinan.

Sumber:

https://disbud.bulelengkab.go.id/artikel/tradisi-megoak-goakan-20

Komentar

Fresh