Semua Berhak Diketawain | Opini.id
 
LEBIH DEKAT

SEMUA BERHAK DIKETAWAIN

Interview Dengan Mo Sidik
Sampai kapanpun humor stereotip akan tetap mengalir dalam darah para komika. Intinya, semuanya berhak diketawain dan tertawa, namanya juga komedi.
— Mo Sidik
Tubuhnya yang terbilang gendut menjadikannya aktif membuat bahan candaan seputar stereotip orang gemuk. Berkaca dari dirinya, Mohamad Ali Sidik Zamzani yang akrab disapa Mo Sidik ini justru ingin menyadarkan masyarakat untuk segera berhenti membully orang-orang gemuk.

Melalui tema orang gendut, Mo memang sudah curhat mengenai berbagai kejadian yang memang ia alami sendiri, mulai dari menggulingkan becak, pergi ke Afghanistan, merusak motor ojek, dan ikut dalam demo mahasiswa 1998. Ia memastikan cerita-cerita itu adalah rangkaian cerita yang memang didasari dari pengalaman hidupnya sendiri di berbagai tempat.

Dia rela menertawakan dirinya sendiri demi menyadarkan masyarakat soal plus minus orang gemuk. Pada kenyataannya, setelah keluar dari acara komedi, ada sebagian orang yang masih saja bertahan dengan candaan stereotip di dalam kehidupan nyata.

Berangkat dari ketertarikan soal becandaan stereotip dan susahnya meninggalkan jenis humor seperti ini dikalangan komika Indonesia ini, kami akhirnya mencoba mengajaknya ngobrol. Bertempat di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan, Opini pun berhasil duduk bareng dengan komika yang pernah tampil di acara bertajuk Funny Insyaallah dan Jicomfest 2019 ini.
THE INTERVIEW
 
 
Bagaimana seorang komika melihat stereotip dari sisi komedi ?
Ketika menjadi seorang comedian, hal yang paling lo suarakan dengan keras adalah hal yang lo lihat janggal di sekeliling. Misalnya dalam komedi gue yang banyak “fat joke” karena gue gendut. Stereotip orang gendut adalah salah satu materi gue.

Stereotip itu kan inevitable dan nyata. Ketika seorang comedian berani ngomongin itu, relate dengan penonton yang gak berani ngomongin hal tersebut, itu jadi alasan penonton ketawa karena lucu banget.
Bagaimana seorang komika melihat stereotip dari sisi komedi ?
Ketika menjadi seorang comedian, hal yang paling lo suarakan dengan keras adalah hal yang lo lihat janggal di sekeliling. Misalnya dalam komedi gue yang banyak “fat joke” karena gue gendut. Stereotip orang gendut adalah salah satu materi gue.

Stereotip itu kan inevitable dan nyata. Ketika seorang comedian berani ngomongin itu, relate dengan penonton yang gak berani ngomongin hal tersebut, itu jadi alasan penonton ketawa karena lucu banget.
Apakah komika sering memakai materi-materi sensitif dalam balutan komedi untuk menyuarakan hal-hal sensitif supaya jadi bisa lebih diterima masyarakat ?
Sebenarnya misi stand up comedian itu ketika mereka menulis materi adalah menyuarakan keresahan hati mereka. Karena itu, hasilnya jadi jujur dari keresahan hati mereka. Makanya terdengarnya keras, terdengarnya akan melukai hati orang yang sensitif. Padahal sebenarnya sih enggak.
Apakah komika sering memakai materi-materi sensitif dalam balutan komedi untuk menyuarakan hal-hal sensitif supaya jadi bisa lebih diterima masyarakat ?
Sebenarnya misi stand up comedian itu ketika mereka menulis materi adalah menyuarakan keresahan hati mereka. Karena itu, hasilnya jadi jujur dari keresahan hati mereka. Makanya terdengarnya keras, terdengarnya akan melukai hati orang yang sensitif. Padahal sebenarnya sih enggak.
Enaknya komedi adalah people are paying for a comedy.
 
Tapi lo ngeliat stereotip sendiri di Indonesia tuh gimana ?
Pandangan gue sih stereotip itu sebenarnya suatu hal yang gak perlu disensitifin, kecuali kalau emang niatnya menghina ya.
Tapi lo ngeliat stereotip sendiri di Indonesia tuh gimana ?
Pandangan gue sih stereotip itu sebenarnya suatu hal yang gak perlu disensitifin, kecuali kalau emang niatnya menghina ya.
Kalau lo bilang tadi menghina ya, terus gimana membedakan stand up sama menghina gitu ?
Sebenarnya kalau komedian kan konteksnya komedi. Jadi yang datang nonton harusnya gak usah baper dan tahu ini acara komedi. Jadi orang dateng ke sini beli tiket, mereka tahu bahwa gue kalau keliatan sama orang gue bakal dicela-cela, gue bakal di-roast, segala macem. Beda ketika nonton di Youtube, yang nontonnya tuh ngga tahu bahwa ini dalam keadaan becanda, makanya pada tersinggung.
Kalau lo bilang tadi menghina ya, terus gimana membedakan stand up sama menghina gitu ?
Sebenarnya kalau komedian kan konteksnya komedi. Jadi yang datang nonton harusnya gak usah baper dan tahu ini acara komedi. Jadi orang dateng ke sini beli tiket, mereka tahu bahwa gue kalau keliatan sama orang gue bakal dicela-cela, gue bakal di-roast, segala macem. Beda ketika nonton di Youtube, yang nontonnya tuh ngga tahu bahwa ini dalam keadaan becanda, makanya pada tersinggung.
Setuju gak kalau hal-hal sensitif bisa jadi lebih ringan kalau dibahas secara komedi ?
Iya banget. Apalagi kalau state of mind-nya udah ringan. Enaknya komedi adalah people are paying for a comedy. Ketika yang lo omongin lucu, mereka bisa terima dan ketawa, gak ada yang dibawa ke hati. Komedian dan penonton komedi tuh fair. Semua berhak diketawain.
Setuju gak kalau hal-hal sensitif bisa jadi lebih ringan kalau dibahas secara komedi ?
Iya banget. Apalagi kalau state of mind-nya udah ringan. Enaknya komedi adalah people are paying for a comedy. Ketika yang lo omongin lucu, mereka bisa terima dan ketawa, gak ada yang dibawa ke hati. Komedian dan penonton komedi tuh fair. Semua berhak diketawain.
 
Menurut lo, Indonesia bisa lepas dari stereotip gak ?
Kalau dunia komedinya pasti sangat melekat, pasti sangat tidak bisa meninggalkan stereotip, karena stereotip tuh melekat di semua orang. Mau dipungkiri atau enggak, ya memang ada.
Menurut lo, Indonesia bisa lepas dari stereotip gak ?
Kalau dunia komedinya pasti sangat melekat, pasti sangat tidak bisa meninggalkan stereotip, karena stereotip tuh melekat di semua orang. Mau dipungkiri atau enggak, ya memang ada.
Materi lo kan kebanyakan tentang stereotip orang gendut. Setelah lo keluarin materi kayak gitu, apa yang lo harapkan dari audiens ?
Misi gue memang selalu bagaimana cara menghentikan bullying kepada orang gendut. Ketika gue bawain materi tentang orang gendut dan lain sebagainya, gue selalu cerita fakta-faktanya.

Cerita soal betapa depresinya jadi orang gendut, dan itu nyata. Tingkat bunuh dirinya gak tinggi sih, tapi tingkat depresinya tinggi banget. Makanya gue kemarin minta berhenti fat shaming, berhenti bilang orang gendut itu malas, bau, gak punya motivasi, dan semua stereotip lainnya. Gue pengen orang-orang tahu bahwa it’s really hard to be a fat person.
Materi lo kan kebanyakan tentang stereotip orang gendut. Setelah lo keluarin materi kayak gitu, apa yang lo harapkan dari audiens ?
Misi gue memang selalu bagaimana cara menghentikan bullying kepada orang gendut. Ketika gue bawain materi tentang orang gendut dan lain sebagainya, gue selalu cerita fakta-faktanya.

Cerita soal betapa depresinya jadi orang gendut, dan itu nyata. Tingkat bunuh dirinya gak tinggi sih, tapi tingkat depresinya tinggi banget. Makanya gue kemarin minta berhenti fat shaming, berhenti bilang orang gendut itu malas, bau, gak punya motivasi, dan semua stereotip lainnya. Gue pengen orang-orang tahu bahwa it’s really hard to be a fat person.
Bisa gak sih bikin materi tanpa stereotip ?
Bisa bisa aja. Gilang Baskara gak ada sedikit pun stereotip.
Bisa gak sih bikin materi tanpa stereotip ?
Bisa bisa aja. Gilang Baskara gak ada sedikit pun stereotip.
Ada tiga mantra nulis materi komedi : Look within yourself, look around you, sama observation.
 
Kalau ditulis materi tanpa ngomongin stereotip menurut lo gimana ?
Gak apa-apa. Gak masalah. Ada tiga mantra buat nulis materi komedi, yang pertama look within yourself, look around you, sama observation. Nah Gilang Baskara itu ngeliat sesuatu dari observasi, makanya dia gak butuh stereotip. Sedangkan gue ngeliat diri gue, ngeliat interaksi gue, orang tua gue, temen-temen gue, semuanya stereotip. Jadi kebetulan aja.
Kalau ditulis materi tanpa ngomongin stereotip menurut lo gimana ?
Gak apa-apa. Gak masalah. Ada tiga mantra buat nulis materi komedi, yang pertama look within yourself, look around you, sama observation. Nah Gilang Baskara itu ngeliat sesuatu dari observasi, makanya dia gak butuh stereotip. Sedangkan gue ngeliat diri gue, ngeliat interaksi gue, orang tua gue, temen-temen gue, semuanya stereotip. Jadi kebetulan aja.
Sekarang kan lagi rame dark jokes, yang mengangkat stereotip teman-teman berkebutuhan khusus. Tapi di sisi lain ada juga komika Dani Aditya, yang mana dia punya kebutuhan khusus dan sering ngebahas tentang dirinya sendiri. Apakah misinya sama kayak lo tadi ?
Bisa jadi. Kalau yang gue lihat malah dia jadi sumber semangat buat orang-orang. Yang kayak gitu malah jangan dianggap kekurangan. Dia kan jadi lucu, ketika penonton udah mengamini kan. Lo bisa bikin materi ketika lo sudah berdamai dengan diri lo. Nah si Dani ini berdamai dengan dirinya. Jadinya dia selain lucu dia juga jadi sumber motivasi buat saudara-saudara kita yang difabel. Menurut gue sih positif banget ya kayak gitu.
Sekarang kan lagi rame dark jokes, yang mengangkat stereotip teman-teman berkebutuhan khusus. Tapi di sisi lain ada juga komika Dani Aditya, yang mana dia punya kebutuhan khusus dan sering ngebahas tentang dirinya sendiri. Apakah misinya sama kayak lo tadi ?
Bisa jadi. Kalau yang gue lihat malah dia jadi sumber semangat buat orang-orang. Yang kayak gitu malah jangan dianggap kekurangan. Dia kan jadi lucu, ketika penonton udah mengamini kan. Lo bisa bikin materi ketika lo sudah berdamai dengan diri lo. Nah si Dani ini berdamai dengan dirinya. Jadinya dia selain lucu dia juga jadi sumber motivasi buat saudara-saudara kita yang difabel. Menurut gue sih positif banget ya kayak gitu.
Pesan terhadap komika baru di Indonesia ?
Komika itu harus tahu dia berdiri dimana, dan pengen jadi komika yang kayak gimana. Ada komika yang cuma pengen menyuarakan hatinya. Konsekuensinya ya dia gak akan pernah masuk tv. Lalu penghasilannya dari panggung yang orang bayar buat nonton dia. Ada juga komika yang kayak gue, yang kakinya dua. Gue di panggung bisa keras, tapi ketika gue harus tampil di korporat gue jadi ringan banget, malah cenderung receh. Terus ketika di tv gue jadi sopan banget. Kalo pilihan lo kayak gitu, lo harus punya berbagai metode dan materi yang sesuai dengan audiens lo. Jadi terserah si komediannya mau kayak gimana, lo mau berkarier dimana.
Pesan terhadap komika baru di Indonesia ?
Komika itu harus tahu dia berdiri dimana, dan pengen jadi komika yang kayak gimana. Ada komika yang cuma pengen menyuarakan hatinya. Konsekuensinya ya dia gak akan pernah masuk tv. Lalu penghasilannya dari panggung yang orang bayar buat nonton dia. Ada juga komika yang kayak gue, yang kakinya dua. Gue di panggung bisa keras, tapi ketika gue harus tampil di korporat gue jadi ringan banget, malah cenderung receh. Terus ketika di tv gue jadi sopan banget. Kalo pilihan lo kayak gitu, lo harus punya berbagai metode dan materi yang sesuai dengan audiens lo. Jadi terserah si komediannya mau kayak gimana, lo mau berkarier dimana.
Seberapa Suka Kamu Sama Humor Stereotip ?
 
0%
Suka
 
0%
Biasa saja
 
0%
Tidak suka